Di tengah luasnya Samudra Pasifik, sebuah dinamika geopolitik besar sedang berlangsung bukan di antara negara-negara raksasa, melainkan di wilayah kecil yang selama ini kerap dipandang pinggiran. Hal tersebut bisa dilihat dari kesepakatan pertahanan terbaru antara New Zealand dan Cook Islands menunjukkan bahwa bahkan negara dengan populasi hanya 15.000 jiwa pun kini berada di pusat tarik ulur kekuatan global, khususnya antara China dan Barat.
Perjanjian yang ditandatangani di Wellington ini menjadi penanda berakhirnya ketegangan diplomatik selama lebih dari satu tahun antara kedua negara. Ketegangan tersebut dipicu oleh langkah Perdana Menteri Cook Islands, Mark Brown yang pada Februari 2025 menjalin kemitraan strategis komprehensif dengan China tanpa terlebih dahulu mengungkapkan isi kesepakatan kepada New Zealand. Menurut Wellington, tindakan ini bukan sekadar pelanggaran prosedur diplomatik, tetapi juga ancaman potensial terhadap keamanan regional.
Berdasarkan hal tersebut, New Zealand merespons dengan membekukan bantuan finansial bernilai jutaan dolar kepada Cook Islands. Meskipun jumlah tersebut bukan keseluruhan bantuan yang diberikan, langkah ini menunjukkan tekanan politik yang cukup signifikan. Di sisi lain, Cook Islands mempertahankan posisinya sebagai negara yang berdaulat, menegaskan bahwa kerja sama dengan China tidak melanggar kesepakatan sebelumnya dengan New Zealand.
Jika dilihat situasi ini mencerminkan mencerminkan konsep Hans J. Morgenthau dalam melihat realisme klasik, di mana politik internasional pada dasarnya adalah perjuangan untuk kekuasaan. Artinya adalah negara akan selalu bertindak berdasarkan kepentingan nasional dan keamanan. Dalam konteks ini, reaksi New Zealand dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan pengaruhnya sekaligus mencegah masuknya kekuatan eksternal dalam hal ini China ke dalam wilayah yang secara historis berada dalam wilayahnya.
Kemudian ketegangan tersebut akhirnya mereda melalui deklarasi baru yang menegaskan bahwa New Zealand akan menjadi partner of choice dalam urusan pertahanan dan keamanan bagi Cook Islands. Dengan kata lain, akses China ke sektor keamanan praktis tertutup, setidaknya untuk saat ini. Namun yang menarik adalah kesepakatan ini tidak secara eksplisit membatalkan kerja sama Cook Islands dengan China di bidang lain seperti infrastruktur, pendidikan, dan eksplorasi mineral.
Dalam konsep balance of power, menjelaskan bagaimana negara-negara berusaha menjaga keseimbangan kekuatan agar tidak ada satu aktor yang terlalu dominan. Dalam kasus ini, New Zealand bertindak untuk menyeimbangkan pengaruh China yang semakin kuat di Pasifik. Pernyataan Menteri Luar Negeri New Zealand Winston Peters, bahwa lingkungan strategis saat ini lebih kompleks dan diperebutkan dibanding sebelumnya, menegaskan bahwa kawasan ini kini menjadi arena kompetisi kekuatan besar.
Walaupun seperti itu, perebutan ini tidak hanya berlangsung melalui pendekatan militer atau keamanan. China menggunakan strategi yang berbeda, yang dapat ditelisik melalui konsep soft power. Dalam perspektif soft power, bukannya mengandalkan kekuatan militer secara langsung, Beijing menawarkan bantuan, pinjaman, serta kerja sama pembangunan kepada negara-negara kecil di Pasifik. Pendekatan ini memungkinkan China memperluas pengaruhnya tanpa harus memicu konflik terbuka.
Cook Islands menjadi contoh nyata dari strategi tersebut. Dengan wilayah ekonomi eksklusif yang luas dan potensi besar dalam penambangan mineral laut dalam, negara ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Tidak mengherankan jika China tertarik menjalin hubungan lebih erat. Bisa dilihat dari negara-negara Barat seperti New Zealand dan Australia melihat hal ini sebagai tantangan terhadap pengaruh tradisional mereka di kawasan.
Lebih menarik lagi, Cook Islands sendiri tidak sepenuhnya pasif dalam dinamika ini. Sebaliknya, negara kecil ini justru memainkan peran aktif dalam menyeimbangkan hubungan antara dua kekuatan besar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem internasional saat ini, negara kecil tidak selalu menjadi objek, tetapi juga bisa menjadi subjek yang memiliki ruang manuver strategis.
Namun, ruang manuver seperti hal tersebut tentunya memiliki risiko. Ketika Mark Brown sempat mempertimbangkan pembuatan paspor terpisah dari New Zealand, respons keras dari Wellington menunjukkan batas-batas otonomi yang dimiliki Cook Islands. Sebagai negara yang memiliki hubungan free association selama 60 tahun dengan New Zealand,di mana pertahanan masih bergantung pada Wellington, Cook Islands tetap berada dalam posisi yang kompleks.
Pernyataan China bahwa hubungan mereka dengan Cook Islands tidak ditujukan kepada pihak ketiga dan tidak seharusnya dibatasi oleh pihak lain yang menambah lapisan lain dalam dinamika ini. Secara retoris, China menekankan prinsip kedaulatan dan non-intervensi. Namun dalam praktiknya, kehadiran ekonomi dan diplomatiknya tetap dilihat sebagai bagian dari strategi global yang lebih luas.
Apa yang terjadi di Cook Islands pada akhirnya mencerminkan tren yang lebih besar di kawasan Pasifik. Negara-negara kecil kini menjadi arena baru dalam persaingan geopolitik global. Mereka tidak hanya diperebutkan karena lokasi strategis, tetapi juga karena sumber daya alam dan potensi ekonomi yang dimiliki.
Kesepakatan antara New Zealand dan Cook Islands mungkin telah meredakan ketegangan sementara, tetapi tidak menghapus akar persoalan. Selama China terus memperluas pengaruhnya melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi, dan Barat berupaya mempertahankan dominasinya melalui aliansi keamanan, kawasan Pasifik akan tetap menjadi medan tarik ulur kepentingan global. Dengan demikian, perebutan Pasifik bukan sekadar cerita tentang negara besar yang bersaing, tetapi juga tentang bagaimana negara kecil berusaha bertahan dan mengambil posisi di tengah tekanan tersebut. Dalam dunia yang semakin multipolar, dinamika seperti ini kemungkinan besar akan semakin sering terjadi dan Pasifik hanyalah salah satu panggungnya.