Pada 11 Mei 2026, Reuters melaporkan bahwa pemerintah Jerman curiga terhadap tawaran perdamaian yang diberikan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri invasi yang telah dilancarkan oleh Rusia terhadap Ukraina. Dalam tawaran tersebut, Rusia menawarkan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder sebagai mediator yang dapat mengoordinasikan negosiasi antara Uni Eropa (EU) dan Rusia. Hal ini merupakan tindak lanjut dari usuluan Presiden Dewan Eropa (EC) Antonia Costa yang menyatakan bahwa terdapat ruang bagi EU untuk melakukan negosiasi dengan Rusia. Tujuan dari dilakukannya negosiasi tersebut adalah untuk membahas masa depan keamanan Eropa secara dan bagaimana kerangka keamanan baru dari kawasan tersebut dapat disusun.
Menanggapi hal tersebut, sebuah sumber anonim dari pemerintah Jerman memberi tahu Reuters bahwa tawaran ini dianggap palsu dan tidak memiliki dasar kuat karena Rusia hingga saat ini belum mengubah kondisi dasar yang dapat mendorong terjadinya negosiasi. Sumber tersebut menambahkan tawaran ini merupakan bagian dari taktik Vladimir Putin untuk memecah belah aliansi barat dan membangun pandangan Rusia sedang berusaha untuk mencapai perdamaian. Di sisi lain, tawaran ini telah memicu sebuah perdebatan sengit di dalam Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) karena di satu sisi terdapat beberapa tokoh seperti Adis Ahmetovic yang mendorong pemerintah Jerman untuk mempertimbangkan tawaran dari Vladimir Putin. Menurutnya, EU harus mendapatkan kursi di meja perundingan sehingga seluruh tawaran dari Rusia harus ditanggapi secara bijak. Di sisi lain terdapat tokoh seperti mantan Ketua Komite Kebijakan Luar Negeri Parlemen Federal Jerman (Bundestag) Michael Roth yang menolak secara keras tawaran Rusia karena menurutnya hal tersebut merupakan sebuah penghinaan besar. Michael menekankan bahwa mediator untuk negosiasi perdamaian dengan Rusia tidak boleh seseorang yang memiliki kedekatan dengan Vladimir Putin.
Pandangan yang diberikan oleh Michael memiliki dasar yang cukup kuat karena Gerhard Schroeder merupakan salah satu tokoh politik paling kontroversial di Jerman. Pandangan tersebut ada karena tidak lama setelah meninggalkan politik pada tahun 2005, Schroeder bekerja sebagai ketua konsorsium Nord Stream yang mengatur aliran gas dari Rusia ke Jerman. Selain itu, Schroeder juga telah membuat beberapa pernyataan kontroversial tentang invasi Rusia terhadap Ukraina dan hal tersebut mendorong Bundestag untuk menarik hak istimewa nya pada 2022.