Saudi Arabia Kecam Serangan RSF Terhadap RS di Wilayah Kordofan
Pada 8 Februari 2026, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Saudi Arabia mengeluarkan pernyataan terhadap serangan yang dilakukan oleh kelompok milisi Pasukan Pendukung Cepat (RSF) terhadap rumah sakit (RS) dan konvoi bantuan kemanusiaan di wilayah Kordofan, Sudan. Dalam pernyataan tersebut, Kemenlu Saudi Arabia mengecam serangan yang dilancarkan RSF karena aksi kriminal tersebut telah menewaskan belasan warga sipil dan merusak fasilitas kemanusiaan yang ada di wilayah Kordofan. Selain itu Saudi Arabia juga mendesak RSF untuk menghentikan segala bentuk serangan terhadap fasilitas sipil karena aksi mereka melanggar hukum kemanusiaan internasional dan Deklarasi Jeddah yang disepakati tiga tahun sebelumnya. Selain mengecam serangan terhadap fasilitas sipil, Kemenlu Saudi Arabia juga mengecam intervensi asing yang dilakukan oleh pihak tertentu dalam konflik Sudan dengan mengirimkan senjata secara ilegal dan merekrut tentara bayaran.
Pernyataan Kemenlu Saudi Arabia diberikan beberapa hari setelah RSF menyerang konvoi bantuan dari organisasi internasional Program Pangan Dunia (WFP) dan kendaraan yang mengangkut pengungsi internal (IDP) di Provinsi Kordofan Utara dengan drone. Kedua serangan tersebut menewaskan setidaknya 25 warga sipil dan melukai belasan lainnya. Serangan drone tersebut mendapatkan kecaman dari Kemenlu Sudan karena mereka menganggap hal tersebut sebagai aksi keji yang memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah Kordofan. Kemenlu Sudan juga menyatakan bahwa serangan drone yang dilancarkan RSF merupakan bagian dari strategi mereka untuk menekan warga sipil di daerah terkepung. Kemenlu Sudan juga mendesak komunitas internasional untuk memastikan bahwa RSF dan pendukungnya mendapatkan hukuman setimpal.
Konflik antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) meletus pada tahun 2023 setelah kelompok milisi tersebut melancarkan serangan kilat yang berhasil menguasai sebagian besar ibu kota Sudan, Khartoum. Konflik ini telah memperburuk situasi kemanusiaan di Sudan karena setidaknya 40 ribu warga sipil telah tewas akibat dari pertempuran atau kejahatan perang yang dilakukan oleh pihak terlibat. Selain itu, setidaknya 12 juta masyarakat Sudan terpaksa menjadi IDP atau mengungsi ke negara lain akibat dari pengepungan yang dilancarkan RSF terhadap beberapa kota seperti El-Fasher dan El-Obeid.