Siapa Menanggung Keamanan China?
Kekuatan ekonomi China menemukan batasnya ketika keselamatan para pekerjanya di luar negeri bergantung pada aparat keamanan negara lain yang bahkan belum mampu mengendalikan seluruh konflik di wilayahnya sendiri. Beijing dapat menyediakan modal dan mengirim perusahaan ke kawasan berisiko tinggi tetapi tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengatur kepolisian negara penerima. Ketika perlindungan tersebut gagal, persoalan komersial berubah menjadi ketegangan diplomatik yang menuntut keterlibatan pemerintah. Semakin jauh ekspansi perusahaan China berlangsung, semakin besar pula ketergantungan Beijing terhadap keputusan keamanan yang dibuat di luar wilayah kekuasaannya.
Serangan terhadap kendaraan pekerja proyek Dasu di Pakistan pada Maret 2024 yang menewaskan lima warga China dan seorang warga Pakistan memperlihatkan bagaimana ancaman terhadap perusahaan asing dapat berkembang menjadi persoalan keamanan bilateral. Pada Januari 2026 Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi menemui Menteri Keamanan Publik China Wang Xiaohong di Beijing dan mengumumkan pembentukan unit perlindungan khusus bagi warga China di Islamabad. Kedua pemerintah juga menyepakati penguatan kerja sama antiterorisme dan koordinasi kepolisian secara berkala. Hubungan yang selama ini dikenal melalui kerja sama ekonomi semakin memperoleh dimensi keamanan yang menuntut komitmen kelembagaan.
Melalui teori securitization, Barry Buzan dan Ole Wæver menempatkan suatu persoalan sebagai ancaman serius sehingga memperoleh legitimasi untuk ditangani melalui pengaturan keamanan khusus. Dalam hubungan China dan Pakistan, serangan terhadap pekerja asing tidak lagi diperlakukan sebagai risiko operasional perusahaan karena keselamatan mereka telah menjadi bagian dari prioritas hubungan antarpemerintah. Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang menentukan ancaman paling mendesak ketika aparat negara penerima harus melindungi warga negaranya sendiri sekaligus mempertahankan keselamatan pekerja asing yang keberadaannya berkaitan dengan kepentingan ekonomi strategis.
Persoalan itu diperjelas oleh pemikiran Susan Strange mengenai structural power yang menjelaskan bagaimana hubungan ekonomi dapat membentuk pilihan politik tanpa memerlukan perintah langsung dari satu negara kepada negara lainnya. Pakistan memiliki kewenangan hukum dan kapasitas pengamanan di wilayahnya sedangkan China mempunyai modal serta kepentingan ekonomi yang memberikan pengaruh dalam hubungan bilateral. Beijing membutuhkan perlindungan yang tidak dapat disediakannya sendiri sementara Islamabad berkepentingan mempertahankan kepercayaan mitra ekonominya. Ketergantungan tersebut menciptakan hubungan tawar-menawar yang tidak sepenuhnya seimbang tetapi juga tidak menjadikan Pakistan sekadar pelaksana kehendak Beijing.
Prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri yang selama ini menjadi bagian penting diplomasi China menghadapi kontradiksi ketika perlindungan warga dan perusahaan menuntut keterlibatan semakin intensif dalam pembahasan keamanan domestik negara lain. Tanpa mengerahkan tentara sekalipun, Beijing dapat memengaruhi pengaturan perlindungan melalui komunikasi diplomatik dan kerja sama antarlembaga penegak hukum. Kedaulatan Pakistan tetap berlaku secara formal tetapi sebagian prioritas pengamanannya semakin berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan hubungan ekonomi bilateral. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh keamanan tidak selalu bekerja melalui pengerahan militer karena kepentingan ekonomi dapat membentuk keputusan negara melalui hubungan ketergantungan.
Konsekuensi pengamanan khusus tidak berhenti pada peningkatan jumlah personel atau perluasan sistem pengawasan karena setiap keputusan memberikan prioritas perlindungan juga berkaitan dengan distribusi sumber daya keamanan yang terbatas. Pada September 2026 Kepolisian Islamabad kembali meninjau pengaturan perlindungan tempat tinggal dan lokasi kegiatan warga China serta menegaskan pentingnya kesiapsiagaan aparat. Langkah tersebut menunjukkan perhatian konkret terhadap keselamatan pekerja asing tetapi sekaligus membuka persoalan mengenai hubungan antara keamanan investasi dan kebutuhan perlindungan masyarakat secara lebih luas. Tanpa informasi mengenai alokasi sumber daya dan hasil pengamanan, efektivitas prioritas tersebut sulit dinilai berdasarkan pengamanan fasilitas semata.
Kerumitan bertambah ketika ancaman terhadap kepentingan China bersinggungan dengan konflik politik yang telah berlangsung jauh sebelum perusahaan asing memasuki wilayah tersebut. Di Balochistan sejumlah kelompok separatis memandang kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan China sebagai bagian dari ketimpangan distribusi sumber daya dan marginalisasi politik masyarakat setempat. Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan melalui persoalan tersebut tetapi peningkatan penjagaan bersenjata juga tidak otomatis menghapus ketidakpuasan yang berkembang. Ketika perlindungan investasi berlangsung tanpa perubahan berarti terhadap sumber konflik lokal, kegiatan ekonomi asing dapat semakin diasosiasikan dengan struktur kekuasaan yang dipersoalkan sebagian masyarakat.
Dari sudut pandang Pakistan, perlindungan pekerja China memiliki dasar kepentingan nasional yang nyata karena serangan terhadap warga asing turut membahayakan masyarakat setempat dan mengganggu kegiatan ekonomi. Kerja sama kepolisian juga dapat meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman keamanan yang lebih luas. Persoalannya muncul apabila keberhasilan perlindungan hanya diukur melalui keselamatan investor sementara kebutuhan keamanan masyarakat sekitar tidak memperoleh perhatian yang sebanding. Ketegangan tersebut bukan semata-mata persoalan jumlah aparat melainkan berkaitan dengan legitimasi negara dalam menentukan kepentingan siapa yang memperoleh perlindungan dan bagaimana manfaat keamanan didistribusikan.
Bagi Beijing sendiri, keterlibatan keamanan yang semakin besar tidak selalu menghasilkan keleluasaan geopolitik karena setiap ancaman terhadap pekerja dapat meningkatkan tuntutan diplomatik sekaligus memperbesar keterkaitan China dengan konflik domestik negara penerima. Perusahaan yang semula diharapkan memperluas jangkauan ekonomi dapat menjadi sumber kewajiban keamanan yang mahal dan sulit dilepaskan. Penguatan perlindungan mungkin mengurangi risiko serangan tertentu tetapi tidak menjamin stabilitas politik wilayah tempat perusahaan beroperasi. China dengan demikian menghadapi kontradiksi ketika kemampuan memperluas kepentingan ekonominya berkembang lebih cepat daripada kemampuan menjamin keselamatan kepentingan tersebut.
Pertanyaan mengenai siapa menanggung keamanan China memperlihatkan bahwa biaya ekspansi ekonomi tidak berhenti pada investasi perusahaan karena perlindungannya melibatkan aparat negara penerima serta masyarakat yang hidup di tengah konflik. Beijing memperoleh keuntungan dari perluasan kegiatan korporasi tetapi semakin bergantung pada stabilitas politik yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikannya. Pakistan membutuhkan hubungan ekonomi tersebut tetapi tetap menanggung tanggung jawab keamanan di wilayahnya sendiri. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa ekspansi modal dapat memperbesar pengaruh sekaligus menciptakan kerentanan baru. Paradoks geopolitiknya terletak pada kenyataan bahwa semakin luas kepentingan China di luar negeri, semakin besar pula bagian dari keamanan nasionalnya yang bergantung pada keputusan politik negara lain.