Menhan Jepang Pertanyakan Keakuratan Data Anggaran Pertahanan China
Pada 17 Juni 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia curiga dengan keakuratan data anggaran pertahanan yang diberikan oleh Kementerian Pertahanan Nasional (Kemhanas) China. Selain menyatakan hal tersebut, Koizumi membandingkan proses perancangan anggaran pertahanan Jepang dan China sebagai penyangkalan terhadap tuduhan tidak benar dan tidak berdasar yang diberikan mereka. Menurut Koizumi, Jepang lebih transparan dalam hal tersebut karena setiap anggaran yang diajukan oleh pemerintahan selalu didebatkan, diawasi, dan dipertimbangkan di parlemen nasional dalam sesi perdebatan terbuka yang dihadiri oleh anggota dari berbagai fraksi. Dilansir dari Japan Times, retorika ini merupakan tanda bahwa Jepang akan mengambil langkah diplomatik yang semakin konfrontatif untuk menghadapi klaim ‘militerisme baru’ dari China.
Kecurigaan yang disampaikan oleh Menhan Koizumi bukanlah suatu hal yang baru karena akademisi dan negara-negara blok barat seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris Raya juga skeptis terhadap data anggaran pertahanan yang dirilis oleh Kemhanas China. Skeptisisme ini ada karena terdapat anggapan bahwa anggaran yang dirlis China tidak mencakup keseluruhan pengeluaran yang dilakukan untuk mendanai berbagai program pertahanan strategis. Hal ini berbeda dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, yang seringkali menunjukkan anggaran untuk proyek strategis seperti program pesawat tempur Next Generation Air Dominance (NGAD). Alhasil negara seringkali menilai anggaran yang dikeluarkan oleh China dalam pertahanan dua atau tiga kali lebih besar dari angka yang diumumkan oleh sumber resmi. Hal ini dapat dilihat dari laporan Pentagon tahun 2025 yang menilai bahwa anggaran pertahanan yang dikeluarkan China 32-63% lebih besar dari angka yang diberikan Kemhanas.
Sejak Sanae Takaichi menjalankan tugasnya sebagai perdana menteri (PM) pada 21 Oktober 2025, Jepang telah mengeluarkan beberapa pernyataan yang menyebabkan hubungannya dengan China memburuk. Pernyataan tersebut diantaranya adalah ucapan dalam sesi debat parlemen pada 7 November 2025 bahwa jika China menginvasi Taiwan, Jepang akan mengerahkan Pasukan Pertahanan (JSDF) untuk menjaga pulau tersebut dari upaya aneksasi. Pernyataan ini, ditambah dengan ucapan terbaru dari Menhan Koizumi merupakan bagian dari konfrontasi antara kedua negara yang telah memburuk sejak akhir 2025.