Pada 12 April 2026, Hungaria menyelenggarakan pemilu legislatif untuk menentukan partai mana yang akan mendapatkan mayoritas parlementer untuk membentuk sebuah pemerintahan baru. Pemilu ini merupakan kompetisi sengit antara dua blok yakni Perdana Menteri (PM) Viktor Orban dari koalisi Fidesz-KNDP dan tokoh oposisi Peter Magyar dari Partai Tisza. Pemilu ini merupakan kekalahan telak bagi PM Viktor Orban karena koalisi Fidesz-KNDP nya hanya berhasil memenangkan 50 kursi sementara Partai Tisza berhasil memenangkan mayoritas absolut yakni sekitar 138 kursi. Kemenangan ini memberikan Tisza kewenangan untuk melakukan berbagai aksi politik seperti amandemen konstitusi dan revisi undang-undang terkait tanpa harus berkompromi dengan partai oposisi. Tidak lama setelah hasil diumumkan, Peter Magyar menyatakan bahwa rakyat Hungaria telah berhasil melengserkan rezim Orban. Magyar juga menyampaikan terima kasih kepada rakyat Hungaria yang telah memberikannya mandat untuk memimpin. Di sisi lain, PM Viktor Orban mengakui kekalahan dan menyampaikan selamat kepada Magyar melalui telepon. Namun Orban menambahkan bahwa koalisi Fidesz-KNDP akan terus berjuang sebagai oposisi.
Menanggapi kemenangan ini, Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen menyatakan bahwa pemilu ini menunjukkan bahwa Hungaria telah memilih EU sebagai masa depannya. Sementara itu PM Estonia Kristen Michal menyatakan bahwa kemenangan Tisza merupakan momen bersejarah bagi Hungaria karena hal ini menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk menjaga persatuan Uni Eropa (EU) dan menolak intervensi asing. Selain itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan selamat dan menyatakan bahwa mereka siap mendorong kerja sama baru dengan pemerintah Hungaria yang baru.
Kemenangan Tisza di pemilu parlementer ini telah digambarkan oleh berbagai kanal media sebagai kejayaan bagi demokrasi Hungaria karena sebelumnya negara ini telah dikategorikan oleh Uni Eropa (EU) sebagai otokrasi elektoral. Kategori ini diberikan karena PM Viktor Orban telah melakukan berbagai cara untuk menggerus kebebasan bers, independensi peradilan, hak kelompok minoritas, dan memperkuat kronisme. Selain itu, Orban juga telah merubah sistem pemilu Hungaria secara signifikan sehingga pemilu yang diselenggarakan tidak lagi bersifat bebas dan adil.