Pemerintah Sudan Kembali Ke Khartoum
Pada 11 Januari 2026, Perdana Menteri (PM) Sudan Kamil Idris mengumumkan dalam sebuah konferensi pers bahwa pemerintah Sudan telah kembali ke Ibukota Khartoum. Sebelumnya, pemerintah Sudan terpaksa meninggalkan Khartoum akibat dari serangan yang dilancarkan oleh kelompok milisi Pasukan Bantuan Cepat (RSF) pada tahun 2023. PM Idris menyatakan bahwa pemerintah akan berupaya untuk membangun ulang infrastruktur dan jasa layanan bagi masyarakat di kota tersebut. Tidak lama setelah konferensi pers tersebut rampung, PM Idris bertemu dengan Ketua Dewan Transisi Kedaulatan (TSC) Jenderal Abdel Fattah al-Burhan untuk membahas strategi untuk membangun institusi federal. Dalam pertemuan ini kedua pihak sepakat diperlukan kerja sama antara masyarakat setempat untuk menghadapi tantangan yang ada.
Sebelumnya Khartoum dan kota di sekitarnya yakni Omdurman dan Bahri merupakan sebuah medan tempur antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan RSF. Pertempuran antara kedua pihak telah mengakibatkan krisis kemanusiaan karena terjadi pengepungan dan pengeboman secara membabi buta yang memaksa banyak penduduk Khartoum untuk melarikan diri ke kota lain seperti Port Sudan. Akan tetapi upaya RSF untuk menguasai Khartoum gagal karena pada 26 September 2024, SAF melancarkan serangan yang bertujuan untuk mengalahkan pasukan RSF di ibukota dan Kota Bahri. Serangan tersebut pada akhirnya berhasil membebaskan Khartoum pada 27 Maret 2025. Tidak lama setelah Khartoum dibebaskan, Jenderal al-Burhan memasuki Istana Kepresidenan yang sebelumnya telah dikuasai oleh RSF. Dalam istana tersebut sang jenderal menyampaikan terima kasih kepada seluruh prajurit SAF yang berkontribusi terhadap kemenangan besar ini.
Sejak tahun 2023 Sudan telah terjerumus dalam perang saudara akibat dari ketegangan politik antara SAF dan RSF yang telah berlangsung sejak tahun 2021. Ketegangan tersebut muncul karena Jenderal al-Burhan ingin mengintegrasikan RSF dalam struktur SAF akan tetapi pemimpin milisi tersebut, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo tidak setuju dengan usulan tersebut. Ketegangan politik ini pada akhirnya meletus pada 15 April 2023 saat RSF melancarkan serangan kilat terhadap SAF di berbagai lokasi seperti Khartoum dan Merowe di Sudan Utara. Perang ini telah menyebabkan ratusan ribu korban jiwa serta memaksa setidaknya 13,5 juta untuk menjadi pengungsi.