Khartoum –Konflik bersenjata di Sudan kembali menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Pertempuran sengit antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) berlanjut di bulan November hingga Desember 2025 dengan titik fokus pada wilayah Kordofan, Laporan Aljazeera, Minggu 30 November 2025.
Kedua pihak memperebutkan penguasaan kota-kota strategis seperti el-Obeid dan Babnusa yang menjadi jalur penting bagi pasokan logistik, perdagangan, dan sumber daya strategis Sudan. Di saat yang sama, SAF mengklaim berhasil menguasai kembali sejumlah wilayah seperti Kazqil dan Um Dam Haj Ahmed, meskipun kondisi keamanan di garis depan masih berubah cepat seiring pertempuran yang terus berkobar.
Di tengah perebutan teritori ini, kondisi kemanusiaan warga sipil semakin terpuruk. Sejak jatuhnya el-Fasher, laporan dan kesaksian menunjukkan meningkatnya kekerasan brutal terhadap penduduk sipil, termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, serta dugaan pemakaman massal untuk menutupi kejahatan tersebut. Ribuan orang melarikan diri dari Darfur dan wilayah terpukul lainnya, tiba dalam kondisi trauma, luka, dan kehilangan keluarga. Banyak anak terpisah dari orang tua dan harus bertahan hidup tanpa pengawasan dewasa di kamp-kamp yang fasilitasnya sangat minim.
Krisis kemanusiaan ini kini disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Dengan layanan kesehatan yang runtuh dan pasokan makanan serta air bersih yang tidak lagi terjamin, ancaman kelaparan dan penyakit meluas di antara pengungsi internal yang jumlahnya meningkat setiap pekan. Situasi tersebut diperburuk oleh absennya perlindungan negara yang efektif terhadap warganya.
Sementara itu, upaya diplomasi internasional belum mampu mengentikan pertempuran. Mediator dari berbagai negara telah menawarkan gencatan senjata dan langkah menuju pemerintahan sipil. RSF menyatakan bersedia mendukung gencatan senjata kemanusiaan sementara, namun kenyataannya pertempuran tidak benar-benar berhenti di lapangan. Penolakan sebagian elite militer terhadap proses transisi politik membuat situasi politik Sudan tetap buntu, dan rakyat menjadi pihak yang paling dirugikan.
Konflik Sudan memperlihatkan bahwa perang yang bermula dari perebutan kekuasaan internal dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih luas yakni mengguncang stabilitas kawasan, memicu arus migrasi lintas-batas, dan membuka ruang intervensi kekuatan eksternal. Di tengah krisis berlapis ini, warga sipil Sudan menanggung beban paling berat, sementara dunia masih mencari jalan keluarnya.