Pada 2 Juli 2025 CNN menunjukan data survei terbaru mereka yang memperlihatkan bagaimana suporter Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) memandang berbagai isu domestik dan internasional. Dalam survei tersebut CNN menemukan bahwa sebagian besar dari pendukung Partai Demokrat mendukung atau bersimpati terhadap warga Palestina sebesar +57 poin. Hal ini merupakan sebuah perubahan besar karena pada tahun 2017 pendukung Partai Demokrat memiliki simpati terhadap Israel sebesar +17 poin. Perubahan ini juga didukung oleh data dari Gallup Polling tahun 2025 yang menunjukan bahwa 59% simpatisan Partai Demokrat mendukung Palestina sementara hanya 21% mendukung Israel. Data tersebut juga menunjukan bahwa 76% simpatisan Partai Demokrat mendukung adanya negara Palestina merdeka.
Perubahan tren ini merupakan fenomena sosial yang unik karena dalam waktu 8 tahun suporter Partai Demokrat memiliki perubahan pendapat dalam isu konflik Israel – Palestina. Perubahan ini dipercepat sejak kemenangan Zohran Mamdani pada pemilu dini Partai Demokrat di Kota New York (NYC) pada 24 Juni 2025. Dalam kampanye nya Zohran merupakan kandidatpendukung Palestina yang secara konsisten mengkritik perang dan sistem aparteid Negeri Bintang Daud. Selain itu dalam sebuah konferensi dengan Jurnalis Mehdi Hasan, Zohran menyatakan bahwa sebagai walikota NYC dia tidak akan ragu untuk menangkap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu karena dia menganggap New York sebagai kota yang harus patuh terhadap hukum internasional walaupun Amerika Serikat tidak pernah meratifikasi Statuta Roma.
Selain kemenangan Zohran kejahatan perang yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Gaza juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak pendukung Partai Demokrat untuk mengubah pandangan mereka. Aksi ini diperburuk dengan adanya indikasi bahwa Israel memiliki niat untuk melakukan genosida. Hal ini tidak sulit dibuktikan karena ada setidaknya 500 pernyataan publik dari pejabat dan jurnalis Negeri Bintang Daud yang mendorong pembunuhan masal warga Palestina di Gaza. Adanya pernyataan tersebut membuat banyak pendukung Partai Demokrat enggan untuk mendukung Israel karena aksi yang dilakukanNegeri Bintang Daud dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Amerika seperti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan kesetaraan.
Akan tetapi walaupun sebagian besar dari pendukung Partai Demokrat mendukung Palestina, hal ini tidak diwakilkan oleh para petinggi dan anggota di Kongres karena tokoh besarseperti Pemimpin Faksi Minoritas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS Hakeem Jeffries, Pemimpin Faksi Minoritas Senat AS Chuck Schumer, Senator Kirsten Gillibrand, dan Mantan Walikota NYC Andrew Cuomo merupakan bagian dari faksi sentris yang masih memberikan dukungan besar terhadap Israel. Perbedaan pandangan antara suporter dan petinggi partai dapat dijelaskan dengan upaya lobi yang Israel telah lakukan terhadap politik Amerika Serikat menggunakan American-Israel Public Relations Committee (AIPAC). Organisasi ini merupakan kelompok lobi yang dibentuk pada tahun 1953 untuk memastikan bahwa seluruh cabang pemerintahan AS memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan Israel. Untuk memastikan hal tersebut AIPAC memberikan dukungan finansial serta berpartisipasi dalam kampanye politikpolitisi pro-Israel agar kandidat yang kritis terhadap kebijakan Negeri Bintang Daud tidak dapat menduduki atau dapat dilengserkan dari jabatan publik. Akibat dari dukungan ini anggota Partai Demokrat faksi sentris seperti Senator Kirsten Gillibrand dan Ketua Faksi Minoritas DPR AS Hakeem Jeffries memiliki mispersepsi terhadap anti-semitisme karena di mata mereka siapapun yang kritis terhadap kebijakan Israel adalah anti-Yahudi.
Hal ini mendapatkan kecaman dan perlawanan dari para simpatisan Partai Demokrat karena mereka menganggap petinggi partai lebih mendahulukan kepentingan Israel dibandingkan masyarakat Amerika Serikat. Hal ini juga mendorong para pendukung untuk mendukung kandidat politik yang serupa atau mirip dengan Zohran Mamdani. Kandidat tersebut diantaranya adalah Donavan McKinney, Dr. Abdul El-Sayed, Saikat Chakrabarti, Elijah Manley, dan Kat Abughazaleh. Seluruh kandidat ini mirip dengan Zohran karena selain mengedepankan agenda ekonomi populis dan sosial progresif, mereka juga kritis terhadap aksi Israel di Gaza serta menolak segala bentuk dukungan dari AIPAC dan organisasi lobi politik yang mendukung kebijakan Negeri Bintang Daud.
Seluruh perkembangan ini dapat dianggap sebagai pertanda buruk bagi petinggi Partai Demokrat dan AIPAC karena jika para pendukung berhasil memobilisasikan diri dan memilih kandidat progresif hal ini dapat merusak dukungan penuh dan tak bersyarat Amerika Serikat kepada Israel. Sebagai contoh Amerika Serikat bisa memberlakukan embargo persenjataan terhadap Israel untuk memaksa Negeri Bintang Daud menghentikan serangan babi buta mereka terhadap Gaza. Selanjutnya para kandidat progresif yang terpilih juga dapat membatasi pengaruh AIPAC dan organisasi lobi politik lainnya dengan mendorong adanya peraturan yang membatasidonasi politik dari donatur besar atau luar negeri. Selain itu lengsernya tokoh seperti Hakeem Jeffries dan Kirsten Gillebrand juga dapat mendorong terjadinya sebuah revolusi internal dalam Partai Demokrat yang mengubah haluan politik mereka dari partai elit kembali menjadi partai pro-kelas pekerja dan kaum marjinal di Amerika Serikat. Hal ini tidak unik karena sebelum penyesuaian partai pada tahun 1970, politik internal Partai Demokrat didominasi oleh serikat pekerja dan kelompok masyarakat yang termarjinalkan.