Korea Selatan berusaha untuk menyesuaikan kembali hubungannya dengan China melalui pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Beijing pada peringatan ke-33 hubungan diplomatik kedua negara. Delegasi yang dipimpin oleh mantan Ketua Majelis Nasional Park Byeong-seug membawa surat pribadi dari Presiden Lee Jae-myung kepada Xi Jinping dan mengundang pemimpin China untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada Oktober nanti di Gyeongju, Korea Selatan. Simbolisme ini menjadi penting setelah bertahun-tahun ketegangan, di mana Seoul ingin membuka bab baru dengan mitra dagang terbesar mereka.
Kedua belah pihak menampilkan nada optimis, di mana Park Byeong-seug mengungkapkan keinginan Seoul untuk “menormalisasi” hubungan yang telah tegang dalam beberapa tahun terakhir, sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi memuji kunjungan delegasi dan menekankan perlunya memperluas kerja sama. Kesepakatan dicapai untuk memperdalam koordinasi ekonomi, memperluas pertukaran budaya dan antar-masyarakat, serta memastikan “perkembangan yang matang” dari kemitraan strategis kooperatif. Wang juga menambahkan bahwa kebijakan China bertujuan menjaga stabilitas dan keberlangsungan dengan Korea Selatan, sehingga Ia menilai kedua pihak perlu ‘memperbaiki sentimen nasional dan mengelola sensitivitas dengan baik’ agar hubungan bilateral bisa lebih baik. Namun di balik keramahan tersebut, terdapat upaya penyeimbangan cermat yang telah menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Lee.
Meskipun utusannya berusaha meyakinkan Beijing, namun Lee sendiri berupaya mengadakan pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump. Strategi ini mencerminkan pendekatan dua jalur Seoul: memperkuat aliansi dengan AS sambil memperbaiki hubungan dengan Beijing. Bagi Korea Selatan, taruhannya sangat besar. China tetap menjadi pasar ekspor terbesar dan pemain kunci dalam stabilitas regional, sementara aliansi dengan AS tetap menjadi landasan keamanan terhadap Korea Utara. Menavigasi antara kedua negara belum pernah sesulit ini, namun juga belum pernah sepenting ini.
Beijing, di sisi lain, menyambut baik inisiatif tersebut namun memberikan pengingat halus tentang harapannya. Kantor berita China, Global Times, menggambarkan kunjungan tersebut sebagai kesempatan bagi Seoul untuk “kembali ke niat asli” hubungan diplomatik, frasa yang secara luas dipahami sebagai dorongan bagi Korea Selatan untuk menahan tekanan dari Washington dan menunjukkan otonomi strategis yang lebih besar. Pandangannya jelas: China masih memandang kemitraan keamanan Korea Selatan dengan AS sebagai hambatan struktural bagi kepercayaan yang lebih dalam.
Upaya mendekatkan hubungan akan segera diuji terutama berkaitan dengan ketegangan maritim di Laut Kuning, sengketa yang sedang berlangsung terkait program nuklir Korea Utara, dan tekanan AS untuk mengurangi ketergantungan teknologi pada China semuanya berpotensi menjadi titik panas. Meskipun Seoul berharap China berperan konstruktif dalam membatasi ambisi Pyongyang, Beijing secara historis enggan menekan Korea Utara terlalu keras, sehingga membatasi ruang lingkup kerja sama.
Bagi Lee, reset dengan Beijing sama pentingnya dengan sinyal politik seperti perubahan substansial. Setelah pendekatan konfrontatif pendahulunya, Yoon Suk-yeol, yang menyebabkan hubungan memburuk ke titik terendah dalam puluhan tahun, pemerintahan baru berupaya memulihkan dialog dan kepastian ekonomi. Namun, Lee juga harus membuktikan kepada Washington bahwa upayanya untuk mendekati China tidak menandakan pelemahan komitmen terhadap prioritas keamanan AS. Tantangannya adalah membuktikan bahwa Korea Selatan dapat berinteraksi dengan China tanpa terlihat goyah dalam komitmennya terhadap prioritas keamanan AS.
Keseimbangan ini juga mencerminkan realitas geopolitik Asia Timur Laut yang lebih luas, di mana negara-negara berukuran menengah seperti Korea Selatan semakin terjepit di antara tarikan gravitasi Washington dan Beijing. Taruhan diplomatik Lee adalah bahwa Korea Selatan dapat menjadi sekutu yang dapat diandalkan sekaligus tetangga yang pragmatis. Kesuksesan taruhan tersebut lebih bergantung pada cara dua kekuatan besar tersebut menafsirkan niat Seoul daripada pada niat Seoul itu sendiri.