Pada 15 September 2025 Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) mengerahkan sistem rudal Typhon di Jepang sebagai bagian dari persiapan untuk melaksanakan latihan bersama Resolute Dragon. Sistem rudal tersebut diterbangkan menggunakan pesawat kargo C-17 Globemaster milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) ke Pangkalan Udara Korps Marinir AS (MCAS) Iwakuni. Menanggapi hal tersebut Komandan Gugus Tugas ke-3 US Army Kolonel Wade Germann menyatakan sistem rudal Typhon membuka peluang bagi Amerika untuk melaksanakan latihan tempur realistis dengan sekutu. Kolonel Germann menambahkan bahwa pengerahan sistem rudal Typhon yang mampu menembakkan rudal anti-udara, rudal penjelajah, dan rudal-anti kapal dapat memberikan musuh dilema.
Sebelumnya Rusia dan China telah mengkritik pengerahan sistem rudal Typhon ke Jepang sebagai aksi yang mengancam keamanan regional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia Maria Zakharova menganggap pengerahan Typhon ke Jepang sebagai ancaman strategis bagi Rusia. Maria menambahkan bahwa Rusia menganggap keputusan Jepang yang memperbolehkan pengerahan sistem rudal tersebut sebagai bentuk dari upaya percepatan remiliterisasi Negeri Sakura. Pandangan serupa juga diutarakan oleh Juru Bicara Kemlu China Guo Jiakun yang menganggap pengerahan sistem rudal Typhon di Jepang dapat mengancam stabilitas regional kawasan Asia Timur. Guo juga mengingatkan Jepang untuk belajar dari sejarah dan tidak mengulangi agresi yang dilakukan oleh pendahulu mereka. Jepang merespon pernyataan China dengan menyatakan bahwa sistem rudal Typhon dibutuhkan untuk mengantisipasi krisis yang melibatkan negara tetangga seperti Korea Utara dan Negeri Tirai Bambu.
Latihan bersama Resolute Dragon merupakan latihan militer bilateral antara Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) dan Pasukan Ekspedisi Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) yang dilaksanakan dengan frekuensi tahunan. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antara Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) dan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Latihan bersama tahun ini dilaksanakan di Pulau Ishigaki Provinsi Okinawa dan melibatkan sekitar 20 ribu prajurit dari militer kedua negara. Pulau Ishigaki dipilih sebagai lokasi latihan bersama karena pulau tersebut relatif dekat dengan Taiwan.