Pada 3 September 2025 Hanhwa Aerospace mengumumkan bahwa mereka telah menyepakati perjanjian kerja sama dengan industri pertahanan Polandia WB Group untuk membangun pabrik yang akan memproduksi rudal sistem artileri roket (MLRS) K-239 Chunmoo. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh CEO Hanhwa Aerospace Son Jae-il dan Ketua WB Group Piotr Wojciech dalam acara Pameran Industri Pertahanan Internasional Polandia (MSPO) tahun 2025. Dalam perjanjian ini Hanhwa Aerospace dan WB Group masing-masing akan memegang saham sebesar 51% dan 49%. Selain itu perjanjian ini juga mencakup transfer teknologi (ToT) secara bertahap, sistem inspeksi kualitas produksi, dan pelatihan berkelanjutan bagi para pekerja yang akan memproduksi roket tersebut. Pabrik ini diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Menanggapi perkembangan tersebut Menteri Pertahanan (Menhan) merangkap Wakil Perdana Menteri (Wakil PM) Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz menyatakan bahwa Negeri Si Elang akan mendapatkan kapabilitas untuk memproduksi rudal untuk MLRS Homar-K. Menhan Kamysz menambahkan bahwa kerja sama ini menunjukan bahwa Polandia akan semakin mandiri dalam memproduksi sistem persenjataan. Di sisi lain Deputi Menhan Korea Selatan Hyunki Cho menyatakan bahwa perjanjian ini merupakan babak baru dalam kerja sama pertahanan antara Polandia dan Korea Selatan. Sementara itu CEO Hanhwa Aerospace Son Jae-il menyatakan bahwa Polandia dan Korea Selatan adalah mitra yang tepat karena kedua negara memiliki sejarah yang serupa. Selain itu Son juga menyampaikan ambisi Hanwha Aerospace untuk diakui sebagai mitra aliansi Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Kerja sama pertahanan antara Polandia dan Korea Selatan telah mengalami peningkatan pesat karena Negeri Si Elang ingin mempercepat modernisasi militer mereka setelah Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina. Untuk mencapai hal tersebut Polandia menandatangani kontrak pembelian persenjataan dari Korea Selatan dengan nilai sebesar USD 22 miliar. Persenjataan yang dibeli Polandia diantaranya adalah 180 tank tempur (MBT) K2, 672 meriam gerak cepat (SPG) K-9, 48 pesawat tempur ringan FA-50, dan 288 MLRS K-239 Chunmoo.Kontrak pembelian tersebut telah membuka pintu bagi Negeri Ginseng untuk mengekspor persenjataan ke kawasan Eropa Timur.