Pada 14 September 2025 petinggi Korea Utara Kim Yo Jong mengecam latihan bersama yang akan dilakukan oleh militer Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang sebagai aksi berbahaya dan ceroboh. Kim menambahkan bahwa latihan bersama tersebut menunjukan bahwa segala bentuk provokasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Korea Utara akan memberikan dampak negatif terhadap keamanan mereka. Sementara itu Wakil Ketua Komisi Pusat Militer Partai Pekerja Korea Utara Pak Jong-chon menambahkan latihan bersama tersebut dilakukan menggunakan skenario yang mengancam keamanan Negeri Pertapa. Pernyataan Kim dan Pak diutarakan beberapa hari setelah Kim Jong Un menyatakan Korea Utara akan meningkatkan kapabilitas nuklir dan senjata konvensional mereka.
Latihan bersama antara militer Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat akan dilaksanakan di perairan Pulau Jeju pada 15 – 19 September 2025. Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk meningkatkan koordinasi antar militer ketiga negara guna menghadapi ancaman nuklir dari Korea Utara. Untuk mencapai tujuan tersebut latihan bersama ini akan menggabungkan persenjataan pertahanan rudal dari matra darat, laut, dan udara. Selain latihan bersama dengan Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan juga akan menyelenggarakanlatihan bersama bilateral untuk mengintegrasikan aset militer dalam satu komando. Selain mengintegrasikan aset militer latihan bersama tersebut juga memiliki tujuan untuk menyesuaikan prosedur pengerahan senjata nuklir Amerika Serikat di Korea Selatan.
Sejak kegagalan konferensi tingkat tinggi (KTT) denuklirisasi antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Korea Utara tahun 2019, Negeri Pertapa telah menekankan bahwa mereka adalah negara nuklir dan persenjataan tersebut tidak bisa dilucuti dengan cara apapun. Pernyataan ini diperkuat pada tahun 2024 saat Korea Utara menolak reunifikasi dengan Korea Selatan dengan melakukan amandemen konstitusi dan membubarkan organisasi yang berkaitan. Amandemen tersebut menyatakan bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat merupakan musuh utama Korea Utara. Korea Utara juga telah menolak upaya berbagai upaya Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung untuk membuka ulang ruang negosiasi yang bertujuan untuk membatasi program pengembangan senjata pemusnah massal mereka.