Pada 19 Februari 1955 Amerika Serikat, Inggris Raya, Prancis, Australia, New Zealand, Filipina, dan Kerajaan Thailand membentuk Traktat Pertahanan Asia Tenggara (SEATO), sebuah aliansi militer yang bertujuan untuk mencegah penyebaran ideologi komunisme di kawasan Asia Tenggara. SEATO merupakan sebuah produk yang lahir dari Doktrin Truman. Dalam doktrin ini Amerika Serikat berupaya untuk mencegah penyebaran ideologi komunis dengan membentuk traktat pertahanan bilateral dan aliansi pertahanan multilateral dengan negara yang memiliki kepentingan serupa. Walaupun SEATO memiliki tujuan jelas, organisasi ini dianggap gagal dalam mencapai hal tersebut karena pada tahun 1975 pasukan komunis di kawasan Indochina berhasil menguasai Republik Vietnam Selatan, Republik Khmer, dan Kerajaan Laos. Dua tahun setelah runtuhnya ketiga negara tersebut SEATO secara resmi dibubarkan.
Kegagalan SEATO dalam mencegah penyebaran komunis di kawasan Asia Tenggara diakibatkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utamanya adalah tidak adanya integrasi komprehensif militer dari negara anggota seperti aliansi Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dalam aliansi NATO terdapat panglima tinggi yang bertugas untuk memimpin pasukan dari seluruh negara anggota jika perang meletus. Selanjutnya NATO juga memiliki mekanisme pertahanan kolektif yang mana jika sebuah negara anggota diserang oleh musuh maka serangan tersebut akan dianggap sebagai agresi terhadap seluruh anggota. NATO juga memiliki standarisasi dan interoperabilitas persenjataan agar rantai logistik mereka tidak terlalu terbebani.Selain itu NATO juga memiliki kesamaan ideologi yang memberikan aliansi tersebut legitimasi domestik dan internasional. Legitimasi tersebut terbentuk karena negara anggota NATO memiliki kepercayaan bahwa mereka semua akan menegakkan komitmen masing-masing tanpa harus melakukan aksi koersif.
Seluruh hal ini tidak dimiliki oleh SEATO karena struktur dari aliansi tersebut hanya memiliki fungsi konsultasi sementara negara anggota diberikan kewenangan untuk menghadapi ancaman tanpa harus memberi tahu anggota lain. Hal ini membuat prinsip pertahanan kolektif sulit dilakukan karena negara anggota SEATO tidak bisa berkoordinasi dengan sekutu mereka dalam menjalankan operasi militer. Selanjutnya SEATO tidak memiliki kemiripan ideologi karena sebagian dari negara anggota aliansi tersebut adalah junta militer seperti Vietnam Selatan atau monarki otoriter seperti Thailand. Tidak adanya kemiripan ideologi antar negara anggota membuat SEATO lebih rentan terhadap perpecahan karena mereka akan curiga antar satu sama lain sehingga aksi-aksi yang dapat memperkuat aliansi seperti pertukaran intelijen dan latihan bersama tidak dapat dilakukan. Terakhir SEATO tidak memiliki legitimasi domestik dan internasional karena sebagian dari negara anggota mereka adalah kekuatan kolonial dan tidak berasal dari kawasan Asia Tenggara seperti Pakistan, Inggris Raya, Prancis, serta Amerika Serikat. Hal ini membentuk sebuah persepsi bahwa SEATO merupakan kendaraan yang digunakan oleh kekuatan kolonial untuk mempertahankan pengaruh mereka di kawasan tersebut.
Saat ini situasi di kawasan Asia Tenggara semakin memanas dengan berbagai sengketa seperti Laut China Selatan yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi sebuah perang terbuka. Jika hal tersebut terjadi negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan berada dalam posisi rentan karena perang tersebut memiliki potensi untuk menyebar ke negara yang tidak terlibat dalam sengketa tersebut. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan sebuah aliansi militer seperti SEATO baru yang dapat mengintegrasikan seluruh kekuatan militer negara kawasan Asia Tenggara sehingga jika perang meletus mereka dapat berkoordinasi untuk mencegah serangan musuh dan melancarkan serangan balik. Untuk membentuk SEATO baru dibutuhkan upaya ekonomi dan politik yang ekstensif dari negara-negara Asia Tenggara karena aliansi tersebut membutuhkan komitmen tinggi dari para partisipan. Komitmen tersebut diperlukan karena SEATO baru akan menghadapi tantangan baru yang sebelumnya tidak dihadapi aliansi sebelumnya. Tantangan tersebut diantaranya adalah perbedaan tipe senjata yang digunakan oleh negara kawasan Asia Tenggara. Perbedaan tipe senjata tersebut merupakan tantangan besar karena hal tersebut dapat memperumit logistik yang pada akhirnya berdampak terhadap tempo operasional sebuah pertempuran. Selain perbedaan tipe senjata terdapat juga isu penting yaitu tidak adanya struktur komando terpusat. Hal ini penting untuk dibuat karena tanpa hal tersebut SEATO baru tidak akan bisa mengoordinasikan operasi militer negara anggota.
Tantangan terakhir yang dihadapi oleh pembentukan SEATO baru adalah isu keselarasan kebijakan luar negeri negara anggota. Hal ini merupakan permasalahan paling besar karena beberapa dari anggota SEATO memiliki posisi yang berbeda tentang berbagai isu seperti Laut China Selatan. Bagi negara yang terlibat langsung dalam sengketa seperti Filipina, mereka secara tegas menolak klaim China atas perairan tersebut. Akan tetapi negara yang tidak terlibat seperti Thailand memberikan dukungan halus terhadap China dengan pernyataan seperti mendukung aksi China untuk merampungkan sengketa secara dami. Keselarasan ini merupakan potensi bahaya bagi SEATO baru karena hal tersebut dapat membuka ruang pertikaian sehingga aliansi yang sebelumnya dibentuk untuk mempertahankan kepentingan bersama terpecah belah akibat dari perseteruan antar negara anggota.