Penjara Kekuasaan Beijing

Bagi Beijing, persoalan Taiwan telah menjadi ujian yang tidak dapat dijawab hanya dengan menambah kapal perang. Penggunaan kekuatan dapat memaksakan perubahan politik tetapi juga mengundang perlawanan Taiwan, risiko keterlibatan Amerika Serikat, dan gangguan perdagangan yang menopang perekonomian China. Menahan diri pun tidak bebas biaya karena negara-negara di kawasan terus memperkuat kesiapan pertahanan dan kerja sama keamanan. Dilema inilah yang membentuk penjara kekuasaan Beijing: kekuatan militernya bertambah sementara kesempatan menggunakannya tanpa menanggung kerugian besar semakin terbatas.

John Mearsheimer melalui offensive realism menempatkan persoalan tersebut dalam sistem internasional yang anarkis karena tidak ada otoritas tertinggi yang mampu menjamin keamanan setiap negara. Bagi kekuatan besar, jalan untuk mengurangi ancaman adalah memperbesar kekuatan relatif hingga mencapai regional hegemony. Perspektif Mearsheimer memperlihatkan kebangkitan China sebagai tantangan terhadap dominasi Amerika Serikat di Asia Timur. Dalam pembacaan ini, kemampuan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) yang memadukan rudal, sensor, kapal selam, dan kekuatan udara dapat membantu Beijing meningkatkan biaya operasi militer Amerika Serikat di sekitar wilayah yang dipersengketakan.

Keberhasilan menghalangi armada asing tidak sama dengan tercapainya hegemoni yang diterima negara-negara tetangga. Ketika tekanan militer terhadap Taiwan meningkat, Jepang dan negara kawasan lain mempunyai alasan lebih kuat untuk mempertahankan kerja sama keamanan dengan Washington. China dapat membangun persenjataan untuk mengurangi pengaruh Amerika Serikat tetapi penggunaannya yang mengancam justru dapat memperpanjang kehadiran Amerika Serikat. Inilah batas penjelasan yang mengandalkan akumulasi kekuatan semata di mana senjata dapat mengubah biaya perang tetapi tidak dapat memerintahkan negara lain untuk menerima tatanan politik yang dikehendaki Beijing.

Tekanan tersebut terlihat dalam kemitraan Australia, United Kingdom, United States (AUKUS) dan forum Quadrilateral Security Dialogue (QUAD) yang beranggotakan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India. Pernyataan menteri pertahanan AUKUS pada 30 Mei 2026 menegaskan persiapan rotasi kapal selam di Australia Barat mulai 2027 serta pengembangan kemampuan bawah laut tanpa awak. Empat negara QUAD pada 26 Mei 2026 memperluas pertukaran informasi pengawasan maritim dan kerja sama pemantauan kawasan. AUKUS memperdalam kemampuan pertahanan tiga negara sedangkan QUAD membangun koordinasi yang lebih luas tanpa kewajiban pertahanan kolektif. Keduanya menambah pilihan respons terhadap tindakan China.

Merujuk pada Glenn Snyder dalam The Security Dilemma in Alliance Politics memperlihatkan bahwa ikatan keamanan sekaligus melindungi dan membatasi para anggotanya. Sekutu takut ditinggalkan ketika ancaman datang atau terseret ke konflik akibat tindakan mitranya. Amerika Serikat perlu menjaga kredibilitas dukungannya tanpa membiarkan ketegangan kawasan berubah menjadi perang yang tidak dikehendaki. Para mitranya membutuhkan perlindungan tetapi tetap memperhitungkan risiko provokasi dan hilangnya keleluasaan diplomatik. Jaringan keamanan tersebut tidak bergerak sebagai satu kesatuan yang sepenuhnya seragam.

Ketidaksempurnaan jaringan tersebut tidak menghilangkan masalah Beijing karena selama China menunggu, kemampuan pengawasan serta koordinasi pihak lain dapat terus berkembang sehingga tekanan militer yang dahulu efektif menjadi semakin mahal. Tindakan terburu-buru juga memiliki harga karena demonstrasi koersif berpotensi mempererat kerja sama negara-negara yang semula berbeda kepentingan. Penyeimbangan tidak harus menghasilkan pengepungan menyeluruh untuk memengaruhi keputusan China. Cukup dengan mengubah perkiraan Beijing mengenai biaya tindakan hari ini dan peluang keberhasilan pada masa mendatang. Waktu kemudian menjadi arena persaingan yang sama pentingnya dengan laut dan udara.

James Fearon melalui Rationalist Explanations for War menunjukkan mengapa negara dapat berperang meskipun mengetahui bahwa penyelesaian damai lebih murah. Salah satu penyebabnya adalah information asymmetry: masing-masing menyimpan informasi mengenai kemampuan dan keteguhan politik serta mempunyai insentif menampilkan diri lebih kuat daripada kenyataan. Beijing tidak membuka seluruh perhitungan kesiapan operasinya. Washington pun mempertahankan ketidakpastian mengenai bentuk respons militernya apabila terjadi konflik Taiwan. Latihan perang dan pengerahan kapal dapat dimaksudkan untuk mencegah tindakan lawan tetapi juga dapat dibaca sebagai persiapan serangan. Semakin intens sinyal tersebut dipertukarkan, semakin mahal akibat kesalahan menafsirkannya.

Kerapuhan hubungan tersebut semakin jelas melalui commitment problems yang dijelaskan Fearon sebagai kesulitan menjamin bahwa kesepakatan hari ini tetap dipatuhi ketika distribusi kekuatan berubah. Beijing mempertanyakan apakah hubungan keamanan Washington dengan Taipei akan terus diperkuat meskipun konflik sementara mereda. Di pihak lain, Taiwan dan Amerika Serikat mempertimbangkan kemungkinan bahwa kemampuan militer China yang meningkat akan digunakan untuk mengajukan tuntutan baru. Kesepakatan menjadi rapuh bukan semata karena kurangnya keinginan berdamai tetapi karena tidak satu pun pihak mampu memastikan pilihan lawannya pada masa depan.

Taiwan sendiri bukan objek pasif dalam pertarungan dua kekuatan besar karena pemerintah dan masyarakatnya memiliki kepentingan politik serta kemampuan mengambil keputusan yang turut menentukan respons Beijing dan Washington. Tekanan yang dimaksudkan melemahkan tekad Taiwan dapat memperkeras penolakan terhadap penyatuan paksa. Dukungan eksternal yang bertujuan mencegah perang dapat dibaca Beijing sebagai perubahan keseimbangan politik yang ingin dicegahnya. Melalui interaksi tersebut, tindakan defensif oleh satu pihak dapat menjadi ancaman bagi pihak lain dan mengubah gertakan militer menjadi krisis yang sukar dihentikan.

Penjara kekuasaan Beijing terbentuk dari pertemuan tiga mekanisme: dorongan memperbesar pengaruh kawasan menurut Mearsheimer, dilema jaringan keamanan yang dijelaskan Snyder, dan kegagalan tawar-menawar akibat ketidakpastian serta persoalan komitmen menurut Fearon. China tidak kekurangan kemampuan untuk menimbulkan kerugian militer tetapi kemampuan itu belum menjamin hasil politik yang dapat dipertahankan. Ketika menggunakan kekuatan berisiko mempercepat pembendungan sedangkan menahannya tidak lagi memperbaiki posisi politik, Beijing dapat mulai melihat peperangan sebagai jalan keluar. Bahaya terbesar bagi Asia Timur muncul ketika keputusan yang paling menghancurkan justru tampak bagi para pengambil keputusan sebagai satu-satunya cara menghentikan penyusutan pilihan.