Pada 10 Mei 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Korea Selatan Ahn Gyu-back menyatakan bahwa dia akan berkunjung ke Washington DC untuk bertemu dengan Menhan Amerika Serikat Pete Hegseth dan membahas beberapa isu yang berkaitan dengan aliansi militer. Isu yang dibahas diantaranya adalah pengembalian kendali operasional (OPCON) Militer Korea Selatan dalam kondisi perang, kerja sama pengembangan dan pembangunan kapal selam bertenaga nuklir (SSN), dan dampak dari situasi keamanan Timur Tengah terhadap Asia. Dalam sebuah konferensi pers di Bandara Internasional Incheon, Menhan Ahn menyatakan kepada pers keyakinannya bahwa pembahasan transfer OPCON dengan Menhan Pete akan berjalan lancar. Menhan Ahn juga menekankan bahwa pengembalian OPCON akan dilakukan secara sistemis, berkala, dan stabil berdasarkan conditions based agreement yang disepakati oleh kedua negara pada tahun 2015.
Setelah tiba di Washington DC, kedua menhan menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan tujuan dari pertemuan bilateral tersebut. Dalam konferensi pers tersebut, Menhan AS Pete Hegseth menyatakan pertemuan ini merupakan momen penting bagi aliansi militer antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Menhan Pete menambahkan bahwa kedua negara sepakat untuk melakukan aksi tegas untuk mempertahankan kepentingan nasional. Hegseth juga menyatakan komitmen Korea Selatan untuk meningkatkan anggaran pertahanan dan mengambil posisi proaktif dalam menjaga perdamaian Semenanjung Korea merupakan suatu hal penting. Hegseth menganggap langkah tersebut penting karena hal ini selaras dengan Strategi Pertahanan Nasional Amerika Serikat tahun 2026 yang mendorong burden sharing lebih besar dari sekutu. Selain itu Hegseth menyatakan bahwa pertemuan ini akan memperkuat momentum aliansi militer kedua negara sebelum diselenggarakannya dialog pertahanan terintegrasi.
Upaya untuk mengembalikan OPCON Militer Korea Selatan telah menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Lee Jae-Myung sejak tahun 2025. Akan tetapi, upaya ini sempat menghadapi beberapa tantangan seperti perbedaan pandangan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Dalam hal ini Korea Selatan menganggap transfer OPCON sebagai isu kedaulatan dan ketahanan nasional sementara Amerika Serikat memandang hal tersebut sebagai kebutuhan militer. Pandangan ini didukung dengan pernyataan dari Komandan Militer Amerika Serikat di Korea Selatan (USFK) Jenderal Xavier T. Brunson menyatakan kepada Kongres bahwa transfer OPCON kepada pemerintah Korea Selatan harus dilakukan berdasarkan kondisi tertentu. Namun saat ini, upaya tersebut mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat karena mereka ingin negara sekutu mengambil peran lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan.