Pada 12 Mei 2026, Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan merilis sebuah laporan yang menjelaskan keuntungan ekonomi Korea Utara akibat dari bantuan yang diberikan kepada Rusia yang sedang melancarkan invasi terhadap Ukraina. Dalam laporan tersebut, Korea Utara mendapatkan keuntungan sekitarr USD 7 miliar hingga USD 13,8 miliar dalam sektor ekspor persenjataan dan riset bersama teknologi pertahanan dengan Rusia. Laporan ini juga menjelaskan bahwa salah satu persenjataan yang berkontribusi dalam memberikan keuntungan tersebut adalah rudal balistik jarak dekat (SRBM) KN-23/Hwasong 11A yang telah di ekspor dengan jumlah signifikan sejak tahun 2023. Selain rudal balistik, Korea Utara juga mendapatkan kompensasi finansial signifikan dari ekspor amunisi artileri berat kaliber 152mm kepada Rusia untuk menggantikan stok era Uni Soviet yang berkurang.
Seluruh hal ini telah memberikan dampak positif bagi ekonomi Korea Utara karena berdasarkan data dari Bank of Korea Korea Selatan, pertumbuhan ekonomi negara tersebut telah mencapai 3,7% pada tahun 2024. Hal ini merupakan pencapaian signifikan karena Korea Utara telah menghadapi sanksi ekonomi berat sejak tahun 2016 akibat dari uji coba rudal balistik antar benua (ICBM) yang dapat menghantam wilayah Pantai Barat Amerika Serikat. Selain itu, terdapat juga pernyataan dari turis yang telah mengunjungi Korea Utara pada tahun 2025 bahwa saat ini terdapat lebih banyak mobil mewah dan fasilitas rekreasi canggih di Pyongyang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dari keuntungan yang didapatkan oleh Korea Utara dalam membantu Rusia telah dibagikan ke segmen elit yang setia kepada Kim Jong Un.
Sejak Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022, Korea Utara telah memberikan bantuan diplomatik dan militer terhadap upaya tersebut. Kulminasi dari dukungan ini terlihat pada Oktober 2024 saat Korea Utara mengirimkan sekitar ribuan prajurit Tentara Rakyat Korea (KPA) untuk membantu Rusia menghadang serangan Militer Ukraina (AFU) di wilayah Kursk. Selain itu, Rusia dan Korea Utara juga telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang mewajibkan kedua negara untuk membantu satu sama lain dalam menghadapi agresi dari aktor eksternal.