Gencatan Senjata Gaza: Krisis Pemerintahan Netanyahu Dan Kegagalan Operasional IDF
19 Januari 2025 merupakan hari kebahagiaan bagi warga Palestina di Gaza karena perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah ditandatangani oleh kedua belah pihak di Qatar. Penandatanganan tersebut menandakan berakhirnya perang Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung selama 15 bulan setelah Hamas melancarkan serangan militer yang mengejutkan sistem pertahanan Negeri Bintang Daud. Perjanjian gencatan senjata ini memiliki tiga tahap yang mencakup pertukaran tawanan, menghentikan blokade terhadap Gaza, meningkatkan pemberian bantuan kemanusiaan terhadap Gaza, pembangunan ulang infrastruktur dan perumahan Gaza yang dihancurkan oleh pertempuran/pengeboman Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dan penarikan mundur IDF secara bertahap dari Gaza. Tidak lama setelah gencatan senjata berlaku Hamas dan IDF melaksanakan pertukaran tawanan (prisoner exchange) yang telah disepakati.
Akan tetapi walaupun warga Palestina di Gaza merayakan perjanjian gencatan senjata, elit politik dan warga negara Israel skeptis terhadap perjanjian tersebut. Hal ini terlihat saat Menteri Keuangan (Menkeu) Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas membahayakan keamanan nasional Israel. Pandangan serupa juga disampaikan oleh warga Israel di Tel Aviv dari kelompok Forum Gruva yang melancarkan protesdi depan markas besar (mabes) IDF untuk mendesak pemerintahan Perdana Menteri (PM) IsraelBenjamin Netanyahu menolak perjanjian gencatan senjata tersebut. Selain itu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Israel Itamar Ben Gvir menyampaikan penolakan keras terhadap gencatan senjata karena dia menanggap perjanjian tersebut sebagai penyerahan diri Israel terhadap terorisme. Beberapa hari setelah gencatan senjata ditandatangani, Ben Gvir mengundurkan diridari pemerintahan Benjamin Netanyahu sebagai bentuk protes dari penandatanganan gencatan senjata. Di sisi lain Kepala Staf IDF Jendral Herzi Halevi mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab akibat dari ketidakmampuannya untuk mencegah terjadinya serangan 7 Oktober 2023.
Penolakan, skeptisisme, dan pengunduran diri yang dilakukan oleh pejabat sipil dan militer Israel merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh PM Netanyahu sejak krisis politik 2018-2022 dan kontroversi reformasi yudisial tahun 2023. Krisis ini merupakan salah satu tantangan terbesar Netanyahu karena saat ini partai politik yang berada dalam koalisinya seperti Otzma Yehudit dan Partai Mafdal Zionisme Relijus melancarkan pemberontakan internal karena mereka geram dengan gencatan senjata yang telah disetujui. Saat ini ancaman terbesar PM Netanyahu adalah pengunduran diri menteri yang berasal dari partai politik karena jika mereka mengundurkan diri hal ini membahayakan mayoritas yang dimiliki oleh koalisi Netanyahu di Parlemen Israel (Knesset). Jika hal tersebut terjadi posisi PM Netanyahu sebagai perdana menteri terancam karena para partai oposisi dapat melakukan pemakzulan dengan menyelenggarakan pemungutan suara mosi tidak percaya (vote of no confidence). Hal ini membuka pintu kemungkinan bagi sebuah krisis politik baru yang berpotensi lebih buruk dibandingkan krisis yang terjadi pada 2018-2022.
Di sisi lain penandatanganan gencatan senjata oleh Israel dapat dimaknai sebagai bukti bahwa Israel tidak berhasil mencapai tujuan perang yang ditetapkan yaitu untuk menghancurkan struktur organisasi Hamas dan menyelamatkan para sandera Israel yang disekap di Gaza sejak 7 Oktober 2023 karena performa IDF di Gaza yang kurang baik. Performa IDF yang kurang baik di Gaza dapat dilihat dengan berbagai video pertempuran yang diunggah di media sosial seperti Telegram dan X/Twitter. Dalam salah satu video tersebut terlihat bahwa IDF belum siap menghadapi musuh yang memiliki home field advantage karena dalam salah satu video yang diunggah oleh Hamas di X/Twitter terlihat milisi Hamas menggunakan taktik gerilya untukmenyergap peleton prajurit IDF di wilayah Jabaliya. Video kedua menunjukan keunggulan asimetris Hamas yang menggunakan drone dengan hulu ledak tinggi untuk menghancurkan kendaraan tipe main battle tank (MBT) Merkava IV Barak yang dilengkapi dengan sistem pertahanan aktif (APS) Trophy. Video ketiga memperlihatkan efektivitas jaringan terowonganHamas di Gaza karena dalam video tersebut terlihat beberapa milisi menyusup garis pertahanan IDF dan menghancurkan kendaraan tempur mereka menggunakan ranjau/peledak dan roket anti-tank yang terparkir rapih di markas depan (FOB) mereka.
Ketidakmampuan IDF untuk menyelamatkan seluruh sandera yang disekap sejak serangan 7 Oktober 2023 merupakan kegagalan terbesar mereka karena Hamas berhasil menyembunyikan sebagian besar sandera mereka di terowongan bawah tanah yang seringkali berada di belakang garis pertahanan IDF. Hal ini dapat dilihat pada saat Hamas membebaskansandera warga Israel yang berhasil mereka sembunyikan di Gaza Utara, wilayah yang seharusnya berada dibawah kendali penuh IDF. Selain itu reputasi IDF sebagai militer yang melindungi warga negara Israel tercoreng saat prajurit mereka menewaskan tiga sandera yang berhasil membebaskan diri walaupun mereka mengikuti instruksi prajurit IDF. Kegagalan operasional tersebut merupakan ancaman bagi PM Netanyahu karena dia harus menghadapi amarah dari keluarga para prajurit dan sandera yang tewas dalam perang tersebut. Amarah ini dapat mempeburuk posisi PM Netanyahu setelah perang berakhir karena dia harus menghadapi tekanan baru dari masyarakat sipil yang geram terhadap kesia-siaan perang Israel di Gaza.