AS, Eropa, dan Ukraina pada Konferensi Keamanan Munich 2025
Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference) tahun 2025, yang diselenggarakan pada tanggal 14 hingga 16 Februari, mempertemukan lebih dari 50 kepala negara, pemimpin pemerintahan, dan pejabat militer untuk membahas berbagai masalah yang paling mendesak dalam keamanan global. Konferensi internasional keamanan ini diadakan setiap tahun di Munich, Jerman dan dibentuk pada tahun 1963 lalu oleh mantan tentara dan penerbit Jerman, Ewald von Kleist.
Meskipun presiden AS tidak hadir secara langsung, namun kebijakan dan pengaruh presiden AS tetap terlihat besar, terutama dengan topik-topik bahasan seperti hubungan trans-Atlantik, masa depan Ukraina, dan pengeluaran pertahanan NATO.
Perspektif AS: ‘America First’ dan Pengeluaran Militer
Di bawah kepemimpinan Trump, AS mendorong peningkatan belanja pertahanan dari sekutu NATO dan menekankan strategi “America First.” Ketika Wakil Presiden JD Vance berpidato dalam konferensi tersebut, komentarnya menggarisbawahi desakan Trump yang terus berlanjut agar negara-negara Eropa mengambil lebih banyak tanggung jawab untuk pertahanan mereka sendiri. AS meminta agar anggota NATO, khususnya di Eropa, meningkatkan anggaran pertahanan mereka menjadi 5 persen dari PDB, jauh di atas target 2 persen NATO.
Trump telah lama mengkritik Eropa karena dinilai tidak memberikan kontribusi yang cukup untuk NATO, menyebutnya sebagai “penipuan” dan menyarankan agar AS tidak lagi menanggung beban biaya NATO. “Jika Anda tidak membayar, kami tidak akan melindungi Anda,” kata Trump, menegaskan bahwa perlindungan militer dari AS bergantung pada komitmen keuangan Eropa. Sikap “America First” ini kemungkinan akan terus mempengaruhi diskusi di MSC, terutama karena prioritas pengeluaran militer AS bergeser ke arah tantangan Asia-Pasifik, terutama China.
Wakil Presiden AS, Vance, juga menyatakan “Ancaman yang paling saya khawatirkan terhadap Eropa bukanlah Rusia, bukan China, bukan pula aktor eksternal lainnya, namun yang saya khawatirkan adalah ancaman dari dalam, yakni mundurnya Eropa dari beberapa nilai yang paling mendasar, nilai-nilai yang dianut bersama Amerika Serikat.”
Selain itu, rencana perdamaian Trump untuk Ukraina telah menjadi titik perdebatan karena Trump mendorong resolusi cepat untuk perang yang dikhawatirkan oleh beberapa pemimpin Eropa dapat mengorbankan Ukraina. Sementara integritas teritorial Ukraina tetap menjadi garis merah bagi para pemimpin Eropa, pendekatan AS terhadap konflik ini tetap berfokus pada mengamankan pengaruh ekonomi dan militer untuk memaksa Rusia bernegosiasi.
Perspektif Eropa: Menyeimbangkan Pertahanan, Kedaulatan, dan Persatuan dengan AS
Bagi para pemimpin Eropa, tantangannya saat ini adalah mengelola tuntutan AS sambil memastikan prioritas pertahanan dan keamanan mereka sendiri terpenuhi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang menghadiri MSC di Munich, menegaskan kembali posisinya bahwa setiap perundingan perdamaian dengan Rusia harus berpusat pada kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.
Namun, kekhawatiran Zelenskyy bertambah dengan rencana perdamaian yang diusulkan Trump, yang dapat mengesampingkan negara-negara Eropa dalam pembicaraan masa depan dengan Rusia dan berpotensi menawarkan terlalu banyak pengaruh kepada Moskow.
Delegasi Jerman di MSC secara khusus berfokus pada pengeluaran militer dan masa depan NATO. Dengan semakin dekatnya pemilihan umum federal Jerman, diskusi tentang anggaran pertahanan menjadi semakin mendesak. Para pemimpin politik dalam negeri terpecah mengenai berapa banyak yang harus diinvestasikan di Bundeswehr (militer Jerman), menyeimbangkan kebutuhan ini dengan anggaran yang ketat dan prioritas dalam negeri. Perdebatan ini semakin diperumit dengan meningkatnya tuntutan dari Washington agar Eropa meningkatkan anggaran pertahanannya, sebuah situasi yang dianggap tidak realistis oleh banyak pihak di Eropa karena keterbatasan keuangan mereka.
Selain itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius turut mengecam Wakil Presiden AS JD Vance, yang dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich menuduh pemerintah Eropa mengabaikan keprihatinan para pemilih mengenai imigrasi dan membatasi kebebasan berbicara. “Demokrasi dipertanyakan oleh Wakil Presiden AS untuk seluruh Eropa tadi,” kata Pistorius. “Dia berbicara tentang penghancuran demokrasi. Dan jika saya memahaminya dengan benar, dia membandingkan kondisi di beberapa bagian Eropa dengan kondisi di wilayah otoriter… hal itu tidak dapat diterima,” tambahnya.
Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan para pemimpin Eropa lainnya berusaha untuk mempertahankan kohesi dalam aliansi tersebut, terlepas dari sikap AS yang lebih isolasionis. Tujuan Eropa adalah memperkuat kerja sama pertahanan di antara anggota NATO dan mempromosikan tujuan keamanan bersama, bahkan jika itu berarti meningkatkan pengeluaran militer untuk menenangkan AS.
Terkait dengan biaya pertahanan, Kepala Eksekutif Uni Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa Komisi Eropa akan mengusulkan pengecualian pertahanan dari batasan pengeluaran pemerintah Uni Eropa di tengah-tengah tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar Eropa mendanai pertahanannya sendiri. Von der Leyen mengatakan bahwa pencabutan pembatasan belanja pertahanan akan mengikuti logika yang sama dengan penghapusan batas pinjaman selama pandemi COVID-19.
Keamanan Global: Implikasi Jangka Panjang dari Kebijakan Trump
Pengaruh Trump juga membentuk kembali dinamika keamanan global karena AS lebih berfokus pada China dan kurang berfokus pada pertahanan Eropa, ada kekhawatiran yang berkembang di antara anggota NATO bahwa Eropa harus meningkatkan kemampuan militernya sendiri untuk memastikan pertahanannya. MSC berfungsi sebagai platform penting untuk membahas isu-isu ini, dengan para pemimpin dunia yang menyatakan keprihatinannya tentang kemampuan Eropa untuk menangani keamanannya sendiri tanpa ketergantungan yang berlebihan pada kehadiran militer AS.
Selain itu, konflik Ukraina terus mendominasi diskusi dengan beberapa pemimpin Eropa sangat ingin melihat kemajuan perundingan perdamaian, bahkan ketika mereka khawatir tentang keterlibatan AS dalam negosiasi tersebut. Ketika pemerintahan Trump mendorong resolusi dengan Rusia, Ukraina dan Eropa harus menavigasi pergeseran kesetiaan ini, menyeimbangkan tekanan internasional dengan kepentingan strategis mereka sendiri.
China di MSC
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menekankan kesiapan China untuk bekerja sama dengan Uni Eropa untuk menciptakan dunia yang “makmur” dan menolak “standar ganda” dalam hukum internasional. Wang Yi menyerukan multilateralisme, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlakuan yang sama dalam mengatasi tantangan global, menyoroti perlunya perdamaian dan saling menguntungkan.
Di tengah meningkatnya isolasionisme AS, terutama di bawah kebijakan “America First” Presiden Trump, peran China dalam tata kelola global dan menangani masalah seperti AI dan perubahan iklim semakin mendapat perhatian. Jiang Feng, seorang akademisi China di MSC, mencatat bahwa para pejabat Eropa menghargai sikap China terhadap perdamaian dan menganggapnya sebagai hal yang penting dalam lanskap internasional yang kompleks.
Diskusi yang berfokus pada China berada hampir di setiap sesi yang ada, mencerminkan pengaruh China yang semakin meningkat di berbagai isu global. Seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global, peran penting China dalam dialog global menjadi semakin tak terhindarkan dengan meningkatnya ekspektasi untuk keterlibatan yang lebih luas.