Netanyahu Ingin Membentuk Greater Israel: Apa Maksud Dari Konsep Tersebut
Pada 15 Agustus 2025, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Sharon Gal dari kanal media i24 TV bahwa tujuan dia memimpin Israel saat ini adalah karena ia memiliki misi historis dan spiritual untuk memastikan realisasi penuh konsep Greater Israel. Dalam pernyataan tersebut, Netanyahu menyatakan misi ini akan dilakukan untuk memastikan bahwa bangsa Yahudi memiliki masa depan. Sang PM menyampaikan hal ini karena dirinya menganggap banyak dari kaum mereka yang memiliki mimpi untuk memulai kehidupan baru di Israel. Tidak lama setelah memberikan pernyataan tersebut, Netanyahu mengumumkan strategi dan kebijakan baru terhadap konflik Gaza sementara negara Arab secara serentak mengeluarkan kecaman terhadap pernyataan PM Israel karena hal tersebut melanggar hukum internasional, keamanan nasional negara Arab, dan prinsip kedaulatan.
Saat ini, implementasi dari konsep tersebut semakin terlihat dengan dilakukannya berbagai aksi yang dilakukan oleh pemerintah atau warga negara Israel seperti meningkatnya serangan para kolonis terhadap warga Palestina, peresmian rencana pembuatan pemukiman ilegal oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Bezalel Smotrich, invasi militer terhadap wilayah selatan Suriah, dan serangan membabi-buta dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap bangunan dan infrastruktur sipil Lebanon. Serangan tersebut dapat dikatakan membabi-buta karena Israel telah mengeluarkan pengumuman yang memaksa warga Lebanon Selatan untuk meninggalkan rumah mereka sebelum IDF tiba. Selain itu IDF juga telah mendorong warga Lebanon dari etnis Druze untuk tidak melindungi tetangga mereka yang beragama Islam Shia. Dilansir dari New York Times, berbagai organisasi kemanusiaan menganggap hal ini merupakan pengungsian paksa yang bersifat sektarian. Alhasil, dapat dikatakan bahwa seluruh aksi dan kebijakan ini menunjukkan bahwa dengan adanya gencatan senjata, pemerintahan PM Netanyahu tetap memiliki komitmen yang cukup tinggi untuk memastikan realisasi dari Greater Israel.
Seluruh aksi ini, selain menuai kecaman dari berbagai belahan dunia, juga membuka sebuah pertanyaan yaitu apa itu konsep Greater Israel dan bagaimana elit politik di Israel menggambarkannya. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali ke awal konsep tersebut pertama kali diberikan oleh dua tokoh Zionis terkemuka yaitu Theodore Herzl dari Hungaria dan Ze’ev Jabotinsky dari Ukraina. Herzl menyatakan Greater Israel merupakan sebuah konsep bagi negara Israel yang menguasai bagian utara Sungai Mesir, Teluk Suez, Palestina, Jordania, Lebanon, sebagian besar Suriah, sebagian besar Irak, dan Provinsi Hatay Turki. Sementara itu, Ze’ev merevisi konsep Herzl dengan menyatakan Greater Israel merupakan negara Yahudi yang memiliki kedaulatan dari seluruh wilayah Palestina, Jordania, Selatan Lebanon, dan Selatan Suriah (Pegunungan Golan). Selain itu, Ze’ev juga menekankan doktrin ‘tembok besi’ untuk melindungi kolonis Zionis yang menetap di pemukiman ilegal serta militer kuat dengan kebijakan pertahanan proaktif untuk menghalau musuh Israel di kawasan. Dari penjelasan ini, dapat dilihat bahwa Greater Israel merupakan konsep ekspansionis dengan semangat kolonial tinggi untuk memastikan bahwa Bangsa Yahudi dapat memiliki masa depan cerah apabila ada negara yang dapat menjadi suaka bagi mereka yang ingin melarikan diri dari antisemitisme yang pada saat itu merajalela.
Jika kita bandingkan Greater Israel dengan konsep serupa lainnya seperti Greater Syria oleh Raja Faisal I dan Lebensraum dari Jerman, terdapat beberapa kemiripan yang membuatnya secara sekilas terlihat cukup standar. Kemiripan tersebut adalah narasi ekspansionis yang diberikan oleh ketiga konsep tersebut. Greater Israel ingin menguasai Mesir dan kawasan bulan sabit, Greater Syria merupakan sebuah keinginan untuk membentuk Suriah yang mencakup wilayah Lebanon, Palestina, dan Jordania, sementara Lebensraum ingin Jerman menguasai daratan Eropa Timur agar tanah yang ada dapat diubah menjadi tempat tinggal bagi para kolonis sekaligus untuk menciptakan kondisi kemandirian ekonomi. Selain itu, dalam kasus Greater Syria dan Lebensraum, terdapat kemiripan dalam hal tujuan ideologi yaitu untuk melakukan kolonisasi agar kaum tertentu dapat mengambil alih tanah tersebut sebagai rumah baru mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena kedua konsep ini merupakan produk dari beberapa ideologi ekstrim yakni Zionisme, Pan-Jermanisme, dan Nazisme.
Akan tetapi, Greater Syria memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kedua konsep sebelumnya. Perbedaan ini ada akibat dari perbedaan motivasi karena tujuan awal Raja Faisal cukup mulia yaitu untuk menghancurkan perbatasan yang secara sepihak dibentuk oleh Inggris, Prancis, Italia, dan kekuatan barat lainnya dengan Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Dalam kata lain, awal mula konsep Greater Syria ada karena bukan karena keinginan untuk menguasai melainkan sebuah upaya untuk mempersatukan seluruh bangsa Arab di kawasan bulan sabit sekaligus mematahkan rantai kolonialisme kekuatan barat. Namun sayangnya, konsep ini tidak pernah diimplementasikan karena Faisal pada akhirnya terpaksa tunduk kepada kekuatan barat yang membuatnya mampu berkuasa pasca berakhirnya perang dunia 1.