Solusi Terakhir Terhadap Pertanyaan Palestina: Rencana Israel Kuasai Gaza dan Tepi Barat
Pada 6 Agustus 2025 Israel mengejutkan dunia setelah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa eselon tertinggi pemerintahan Negeri Bintang Daud telah menyepakati rencana untuk menduduki Gaza. Rencana tersebut memiliki lima tujuan yakni untuk melucuti kekuatan organisasi milisi Hamas, menyelamatkan para sandera, demiliterisasi wilayah Gaza, mengambil alih fungsi keamanan yang sebelumnya dipegang oleh Hamas, dan membangun sebuah pemerintahan parallel yang tidak terafiliasi dengan Hamas atau Otoritas Palestina (PA). Beberapa minggu setelah Israel mengumumkan hal tersebut, pemerintah Negeri Bintang Daud menyetujui rencana E1. Dalam rencana ini Israel akan membangun 3000 pemukiman ilegal di Tepi Barat untuk memecah dan memotong wilayah yang dihuni oleh masyarakat Palestina dari Yerusalem Timur.
Untuk memastikan keberhasilan kedua rencana tersebut Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memobilisasikan 60 ribu tentara cadangan untuk menutupi kekurangan prajurit yang dibutuhkan dalam melancarkan operasi tersebut. Kedua rencana Israel mendapatkan kecaman dari komunitas internasional karena serangan yang akan dilancarkan oleh Negeri Bintang Daud dapat memperburuk situasi kemanusiaan yang ada. Presiden Prancis Emmanuel Macron menambahkan bahwa rencana Israel dapat membuat Kawasan Bulan Sabit terjebak dalam siklus perang permanen. Sementara itu Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris mengecam rencana pembangunan pemukiman di Tepi Barat sebagai aksi yang melanggar hukum internasional dan menghancurkan kemungkinan diimplementasikannya solusi dua negara. Kemlu Palestina juga mengecam rencana tersebut dan menambahkan bahwa hal ini merupakan bagian dari aksi pembersihan etnis untuk membentuk visi Greater Israel.
Tuduhan yang diberikan oleh Kemlu Palestina memiliki kebenaran karena setelah mengumumkan rencana E1, Menteri Keuangan (Menkeu) Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa tujuan dari proyek tersebut adalah untuk menghancurkan konsep adannya adanya sebuah Negara Palestina yang merdeka. Selain pernyataan tersebut terdapat juga aksi yang memperkuat tuduhan genosida seperti menghentikan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza, meningkatkan serangan udara dan artileri terhadap pemukiman sipil, menembak warga sipil Palestina yang berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan secara membabi buta, dan peningkatan seranganoleh para kolonis Israel terhadap masyarakat Palestina yang menetap di Tepi Barat. Seluruh hal tersebut memiliki satu tujuan utama yaitu untuk menghilangkan masyarakat Palestina dari tanah kelahiran mereka dan menghuni lahan tersebut dengan para kolonis Zionis.
Walaupun bersifat kejam, kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari keinginan Israel untuk menghilangkan identitas dan negara Palestina. Keinginan ini disampaikan oleh Bapak Bangsa Israel David Ben Gurion pada 18 Juli 1948 dengan pidato yang menekankan bahwa Negeri Bintang Daud harus melakukan cara apapun untuk memastikan warga Palestina yang tersingkirkan tidak dapat kembali ke tanah mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut Ben Gurion secara eksplisit memerintahkan IDF untuk menyingkirkan warga Palestina dari rumah mereka. Seluruh pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Israel tidak memiliki keinginan untuk berdamai dengan Palestina atau mengimplementasikan solusi dua negara karena berdasarkan ideologi Zionis yang digunakan oleh Negeri Bintang Daud, seluruh wilayah Negeri Batu Kapur merupakan tanah yang sudah dijanjikan kepada Bangsa Yahudi sehingga mereka harus menyingkirkan masyarakat yang telah menetap di wilayah tersebut baik itu dengan cara apapun bahkan jika aksi yang dilakukan melanggar hak asasi manusia (HAM).
Saat ini Juru Bicara IDF Brigadir Jenderal (Brigjen) Effie Defrin mengklaim bahwa Israel sedang melakukan langkah awal untuk menduduki Gaza. Jika rencana tersebut dilancarkan masyarakat Palestina yang menetap di Gaza harus melarikan diri ke perbatasan Gaza-Mesir atau menetap di ‘zona/kota kemanusiaan’ yang ditetapkan oleh IDF. Apapun yang terjadi, proses pembersihan etnis yang dilakukan oleh Israel terhadap masyarakat Palestina sejak 1948 akan dipercepat karena setelah IDF merampungkan operasi tersebut rumah dan apartemen yang sebelumnya milik warga Gaza akan dirobohkan untuk membuka ruang bagi kibbutz yang akan dihuni oleh kolonis.
Akan tetapi tidak akan mudah bagi IDF untuk mencapai tujuan akhir tersebut karena Hamas dan kelompok milisi lain di wilayah Gaza masih memiliki kekuatan tempur memadai. Hal ini dibuktikan dengan video yang dirilis oleh berbagai unit yang terafiliasi dengan Hamas seperti Brigade Al-Qassam yang menunjukan milisi melakukan penyergapan sekelompok prajurit IDF, menyerang tank Merkava menggunakan roket anti-tank RPG-7, dan menyerang kendaraan pengangkut pasukan (APC) Namer menggunakan bom magnet di sekitar kota Khan Yunis. Adanya video tersebut menunjukkan bahwa walaupun agregat Hamas tetap tidak sebanding dengan jumlah keseluruhan IDF mereka masih bisa menggunakan strategi erosi (attrition) untuk mengikis kekuatan pasukan Israel dengan menggunakan topografi Kota Gaza sebagai tameng untuk bertempur menggunakan keunggulan mereka sebagai pasukan gerilya. Dalam strategi ini, milisi Hamas akan meningkatkan penyergapan, serangan penembak jitu, dan bom tersembunyi untuk menggerus kohesi pasukan IDF yang berusaha untuk menumpas mereka. Walaupun strategi ini tidak bisa membawakan kemenangan total bagi Hamas, taktik yang digunakan akan menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan prajurit IDF karena mereka tidak akan pernah tahu dari mana milisi akan melancarkan penyergapan mereka. Strategi erosi yang digunakan oleh Hamas menciptakan persepsi bahwa Palestina tidak akan runtuh tanpa perlawanan.