Penulis: M. Asdar Prabowo
Dalam diskursus keamanan internasional kontemporer, kebangkitan militer China hampir selalu ditempatkan dalam posisi ancaman bagi negara lain. Bagaimana tidak, China memiliki armada laut yang begitu besar. Sehingga berdasarkan hal itu, China sering dipahami sebagai indikasi bahwa sedang bersiap menghadapi perang besar. Namun, pendekatan semacam ini kerap menyederhanakan realitas. Modernisasi militer memang berlangsung cepat dan sistematis, tetapi kecepatan modernisasi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keterujian kemampuan tempur.
Berdasarkan hal tersebut, dalam konteks kemajuan militer China sangat menarik untuk dianalisis. Apakah basis armada yang begitu besar sudah teruji dalam konteks konflik nyata ataukah belum. Apalagi kemudian jika dikaitkan dengan pendekatan realisme defensif yang dikembangkan oleh Kenneth Waltz. Menurutnya, realisme defensif ialah pada saat negara tidak selalu berupaya memaksimalkan kekuasaan, melainkan mencari keamanan yang cukup untuk bertahan hidup.
Dalam kerangka ini, negara akan cenderung berhati-hati menggunakan kekuatan militernya karena perang besar justru dapat menciptakan kerugian strategis yang lebih besar daripada keuntungan. Pendekatan ini relevan untuk menganalisis China. Alih-alih melihat modernisasi militer sebagai persiapan agresi tak terelakkan, realisme defensif mendorong analisis yang melihat fungsi militer sebagai instrumen pencegah (deterrence) dan pengelola risiko, bukan alat ofensif yang otomatis digunakan.
Modernisasi Militer China sebagai Fakta Empiris
Tidak dapat dihiraukan bahwa modernisasi militer China yakni People’s Liberation Army (PLA) merupakan salah satu yang tercepat di dunia. Sejak reformasi militer besar pada 2015, China melakukan restrukturisasi menyeluruh terhadap organisasinya. Sistem theater commands menggantikan struktur lama yang kaku, dengan tujuan meningkatkan koordinasi lintas matra darat, laut, udara, siber, hingga ruang angkasa. Berdasarkan hal tersebut, kemajuan ini terlihat jelas. Angkatan Laut PLA kini menjadi yang terbesar di dunia dari sisi jumlah kapal. Investasi pada kapal perusak, kapal selam, dan kapal induk menunjukkan ambisi China untuk melindungi kepentingan maritimnya. Di ranah strategis, pengembangan rudal balistik dan hipersonik memperkuat kemampuan anti-access atau area denial (A2/AD), khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Anggaran pertahanan juga meningkat secara konsisten. Menurut data SIPRI dan laporan Reuters, China menaikkan belanja militernya sekitar 6–7 persen per tahun, mencerminkan prioritas jangka panjang terhadap kekuatan militer. Penting dicatat, peningkatan ini bersifat stabil, bukan lonjakan drastis, yang menunjukkan pendekatan bertahap dan terukur. Dalam kerangka realisme defensif, modernisasi ini dapat dipahami sebagai upaya mengurangi kerentanan strategis, terutama terhadap dominasi militer Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik. Dengan kata lain, China memperkuat militer bukan semata untuk menyerang, melainkan untuk memastikan bahwa biaya konflik bagi lawan menjadi cukup tinggi sehingga perang dapat dihindari.
Keterbatasan dalam Masalah Keterujian Tempur
Di balik kemajuan sumber daya China, terdapat fakta yang tidak kalah penting yaitu PLA hampir tidak memiliki pengalaman tempur modern. Konflik berskala besar terakhir yang melibatkan China terjadi pada 1979 dalam perang singkat melawan Vietnam. Sejak itu, keterlibatan militer China terbatas pada operasi penjaga perdamaian, patroli maritim, dan misi anti-pembajakan di mana operasi yang secara karakter jauh dari perang konvensional berintensitas tinggi.
Latihan militer memang dilakukan secara intensif dan semakin kompleks. Namun, latihan tetap berlangsung dalam lingkungan yang dikendalikan. Tidak ada tekanan psikologis yang sama seperti dalam perang nyata, tidak ada kekacauan logistik berkepanjangan, dan tidak ada adaptasi cepat terhadap lawan yang benar-benar tidak terprediksi. Sejarah militer menunjukkan bahwa banyak angkatan bersenjata modern gagal bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena ketidakmampuan beradaptasi di medan tempur nyata.
Selain itu, PLA menghadapi tantangan internal. Kasus korupsi di sektor pengadaan pertahanan yang mencuat pada 2023–2024 menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu berjalan mulus. Pembersihan pejabat tinggi militer memang memperkuat kontrol politik, tetapi juga mengindikasikan adanya masalah struktural dalam tata kelola institusi militer. Dari perspektif realisme defensif, keterbatasan ini justru menjelaskan mengapa China cenderung menghindari perang terbuka. Ketidakterujian PLA menciptakan risiko besar jika konflik eskalatif benar-benar terjadi, terutama melawan kekuatan yang memiliki pengalaman tempur luas dan jaringan aliansi global.
Modernisasi sebagai Alat Pencegah, Bukan Pemicu Perang
Apabila dikorelasikan dengan pembahasan di atas, terlihat bahwa modernisasi militer China memiliki karakter defensif yang kuat. PLA dibangun untuk meningkatkan posisi tawar strategis dan mencegah lawan mengambil langkah militer yang merugikan China. Namun, absennya pengalaman tempur besar membuat penggunaan kekuatan secara ofensif tetap menjadi opsi berisiko tinggi. Dalam kerangka realisme defensif, kondisi ini rasional. China memperoleh keamanan bukan dengan berperang, tetapi dengan menciptakan ketidakpastian dan biaya tinggi bagi pihak lain. Inilah sebabnya Beijing lebih sering menggunakan tekanan bertahap, patroli intensif, dan demonstrasi kekuatan terbatas yang bermakna bukan invasi langsung atau perang terbuka.
Modernisasi militer China adalah fakta empiris yang tidak dapat diabaikan. Dari sisi teknologi, organisasi, dan anggaran, PLA telah mengalami transformasi signifikan. Namun, kekuatan tersebut belum teruji dalam konflik nyata berintensitas tinggi, sebuah fakta yang penting untuk menilai perilaku strategis Beijing secara objektif. Dengan menggunakan perspektif realisme defensif, modernisasi PLA dapat dipahami bukan sebagai tanda agresi yang tak terelakkan, melainkan sebagai strategi rasional untuk mengurangi kerentanan dan mencegah konflik besar. China hari ini tampak kuat, tetapi justru karena kekuatannya belum teruji, Beijing memiliki insentif kuat untuk tetap berhati-hati dalam menggunakan kekuatan militernya.