Pada 3 Februari 2026, gambar satelit menunjukkan bahwa Angkatan Udara Mesir (EAF) telah membangun sebuah pangkalan udara rahasia di wilayah Owainat Timur. Dalam pangkalan udara tersebut, EAF menggunakan drone buatan Turki untuk melancarkan serangan udara terhadap jalur pasokan dan posisi kelompok milisi Pasukan Pembantu Cepat (RSF) di Sudan. Dilansir dari New York Times, drone buatan yang digunakan oleh EAF untuk menyerang RSF diantaranya adalah TB-2 Bayraktar dan TB-3 Akinci yang memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan presisi dari jarak yang cukup jauh. Intervensi ini merupakan eskalasi terbaru dalam perang saudara Sudan karena sebelumnya Mesir enggan memberikan dukungan langsung kepada Angkatan Bersenjata Sudan (SAF).
Keberadaan drone buatan industri pertahanan Turki memunculkan kabar mereka juga terlibat dalam serangan udara terhadap milisi RSF. Akan tetapi, Kementerian Pertahanan (Kemhan) Turki menyatakan kepada kanal media melalui email bahwa kabar tersebut tidak benar. Sementara itu seorang pejabat senior dalam pemerintah Turki menyatakan bahwa drone yang diterbangkan oleh Mesir merupakan hasil ekspor dari industri pertahanan Negeri Dua Benua. Pejabat senior tersebut juga menyatakan bahwa pemerintah Turki tidak pernah memberikan dukungan militer langsung kepada SAF. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Mesir dan SAF enggan memberikan komentar terhadap isu intervensi militer serta pangkalan udara rahasia di wilayah Owainat Timur.
Sejak RSF menguasai Kota El-Fasher dan sebagian besar wilayah Darfur pada Oktober 2025, Presiden Mesir Abdel Fatah El-Sisi memutuskan untuk melakukan intervensi militer di Sudan untuk membantu SAF. Intervensi itu dilakukan karena laju RSF di Darfur dan daerah perbatasan yang menghubungkan Mesir, Sudan, dan Libya merupakan ancaman besar terhadap kepentingan nasional inti mereka. Selain itu, Mesir juga menganggap pembentukan pemerintahan paralel oleh RSF sebagai garis merah karena hal tersebut mengancam integritas wilayah Sudan. Hasil dari intervensi ini terlihat pertama kali pada Desember 2025 saat pesawat tempur multiguna MiG-29 milik EAF melancarkan serangan udara terhadap konvoi RSF yang berada di dekat wilayah perbatasannya.