Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara resmi mengumumkan berakhirnya perang 12 hari antara Iran dan Israel setelah tercapainya gencatan senjata. Dalam pidato yang disiarkan oleh kantor berita resmi IRNA, Pezeshkian menyatakan bahwa gencatan senjata ini merupakan hasil dari “perlawanan heroik bangsa Iran” yang menurutnya telah membuat sejarah, meski perang ini dipicu oleh “petualangan dan provokasi Israel”
Konflik yang berlangsung sejak 13 Juni 2025 ini menelan korban jiwa yang cukup besar. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 627 orang tewas dan 4.870 lainnya luka-luka akibat serangan Israel selama 12 hari tersebut. Mayoritas korban tewas berasal dari Teheran, diikuti oleh Kermanshah, Khuzestan, Lorestan, dan Isfahan. Sekitar 86,1% korban meninggal di tempat kejadian, sementara sisanya meninggal di rumah sakit akibat luka-luka. Sementara serangan balasan yang dilakukan Iran, termasuk peluncuran lebih dari 400 rudal ke wilayah Israel; menyebabkan setidaknya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Adapun gencatan senjata mulai berlaku pada Selasa, 24 Juni 2025, setelah melalui serangkaian negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat, Prancis, Qatar, dan negara-negara Teluk lainnya. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kedua negara telah setuju untuk menghentikan pertempuran, dengan AS dan Qatar berperan penting dalam mediasi. Sebelumnya, AS bahkan meminta Prancis untuk menyampaikan ketentuan gencatan senjata kepada Iran beberapa jam sebelum deklarasi resmi.
Israel menyatakan telah mencapai semua tujuan militernya, termasuk menghantam program nuklir dan rudal balistik Iran, serta memperingatkan akan memberikan respons tegas jika terjadi pelanggaran gencatan senjata di masa depan25. Sementara itu, Iran menyebut berhasil memaksa Israel untuk mundur secara sepihak dan memuji serangan balasan terakhir sebagai “pelajaran bersejarah”1.
Gencatan senjata ini disambut hati-hati oleh para pemimpin dunia, yang menilai langkah ini sebagai awal menuju stabilitas regional, meski tetap waspada terhadap kemungkinan eskalasi baru. Pasar minyak global pun langsung merespons positif dengan penurunan harga minyak setelah pengumuman gencatan senjata.
Namun demikian, situasi tetap tegang, dimana Israel menyatakan akan kembali memfokuskan operasi militernya di Jalur Gaza, dan menegaskan tekad untuk memulangkan sandera dan membubarkan rezim Hamas yang didukung Iran.