Pada 24 Mei 2026, Militer Rusia melancarkan serangan udara masif terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan berbagai tipe rudal balistik, penjelajah, dan drone kamikaze yang berlansung selama beberapa jam. Dalam serangan udara ini, Rusia juga menggunakan rudal hipersonik Oreshnik yang mampu mengangkut hulu ledak nuklir untuk menghantam beberapa target strategis di area terluar ibu kota Kyiv. Berdasarkan video yang dipublikasikan oleh Kanal Media Al-Jazeera, serangan ini menghantam berbagai gedung apartemen dan memaksa ratusan penduduk Kyiv untuk mengungsi di ruang bawah tanah pribadi dan Stasiun Bawah Tanah Kyiv. Selain itu serangan ini juga merenggut empat nyawa dan mengakibatkan setidaknya 100 warga Kyiv terluka.
Menanggapi serangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dalam media sosial Telegram bahwa serangan ini merupakan aksi gila. Zelenskyy juga menekankan bahwa serangan ini harus dibalas dengan aksi setimpal dari Ukraina dan sekutunya. Zelenskyy juga mendesak Uni Eropa (EU) dan Amerika Serikat untuk mengambil langkah lebih tegas untuk mengurangi kemungkinan terjadinya serangan serupa di masa depan. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Eropa (EC) Kaja Kallas mengecam serangan udara Rusia terhadap Kyiv dan mengklaim hal tersebut merupakan bagian dari brinkmanship gegabah untuk mengintimidasi EU. Kallas menambahkan bahwa menteri luar negeri (menlu) dari negara anggota EU akan bertemu minggu depan untuk membahas bagaimana blok tersebut dapat meningkatkan tekanan ekonomi, politik, dan internasional terhadap Rusia. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia membenarkan penggunaan rudal Oreshnik dalam serangan udara yang mereka lancarkan terhadap Kyiv. Akan tetapi Kemhan Rusia mengklaim serangan ini hanya dilancarkan terhadap pos komando dan infrastruktur militer milik Angkatan Bersenjata Ukraina (ZSU) dan Direktorat Intelijen (GUR) Kemhan Ukraina. Kemhan Rusia juga menyatakan serangan ini merupakan balasan terhadap aksi serupa yang telah dilancarkan Ukraina terhadap fasilitas sipil.
Serangan ini merupakan ketiga kalinya Rusia menggunakan rudal hipersonik Oreshnik untuk menghantam daerah urban Ukraina. Sebelumnya Rusia telah menggunakan rudal tersebut untuk menghantam Kota Dnipro pada November 2024 dan Kota Lviv pada Januari 2026. Karena rudal ini memiliki kecepatan yang cukup signifikan, yakni Mach 10-11, Rusia mengklaim senjata ini tidak bisa dicegat dan memiliki kekuatan signifikan bahkan tanpa hulu ledak nuklir.