Ketika dunia membicarakan pengaruh global China, bayangan yang segera muncul biasanya adalah pelabuhan raksasa, rel kereta cepat, atau jalan raya yang dibangun melalui Belt and Road Initiative (BRI). Proyek-proyek infrastruktur tersebut menjadi wajah diplomasi ekonomi Beijing di berbagai kawasan, mulai dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Infrastruktur diposisikan bukan hanya sebagai instrumen pembangunan, tetapi juga sebagai sarana memperluas jejaring ekonomi dan politik China.
Namun, membaca strategi global China hari ini hanya melalui proyek infrastruktur mulai terasa kurang memadai. Perubahan yang lebih mendasar justru sedang berlangsung di sektor yang tidak kasatmata. Pengaruh China kini semakin banyak bergerak melalui pasar modal, obligasi berdenominasi yuan, investasi teknologi, serta pendanaan hijau. Jika sebelumnya Beijing membangun jalan untuk memperlancar arus barang, kini China mulai membangun jalur yang memperlancar arus modal.
Perubahan tersebut terlihat dari sejumlah perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Yuan semakin banyak digunakan dalam transaksi lintas negara, pasar Panda Bond terus berkembang, sementara instrumen keuangan hijau menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan paling pesat di China. Bahkan pada Juni 2026, Brasil mengumumkan rencana penerbitan Panda Bond pertamanya dengan nilai hingga 5 miliar yuan. Langkah ini bukan sekadar mencari sumber pembiayaan baru, tetapi juga menandai semakin besarnya peran pasar keuangan China dalam pembiayaan internasional.
Ini menunjukkan bahwa geopolitik China sedang memasuki babak baru. Persaingan pengaruh tidak lagi hanya berlangsung melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga melalui kemampuan membentuk arsitektur keuangan global. Pergeseran strategi tersebut dapat dilihat dari perspektif Structural Power Susan Strange. Menurutnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militer atau besarnya perdagangan, melainkan juga oleh kemampuannya membentuk struktur yang digunakan negara lain untuk berproduksi, berdagang, memperoleh kredit, dan mengembangkan teknologi. Negara yang mampu membentuk struktur tersebut akan memiliki pengaruh yang jauh lebih bertahan lama dibandingkan negara yang hanya mengandalkan kekuatan koersif.
Dalam perspektif ini, perkembangan pasar keuangan China menjadi jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan pelabuhan atau rel kereta. Ketika sebuah negara menerbitkan obligasi di pasar China, menggunakan mata uang yuan, atau memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan China, negara tersebut secara bertahap masuk ke dalam struktur finansial yang dibangun Beijing.
Contoh paling aktual terlihat dari keputusan Brasil menerbitkan Panda Bond. Makna strategis Panda Bond jauh melampaui fungsi pembiayaan. Selama ini hubungan ekonomi banyak negara dengan China didominasi oleh perdagangan dan investasi langsung. Kini hubungan tersebut mulai bergerak ke sektor keuangan. Artinya, keterhubungan dengan China tidak lagi hanya diukur dari banyaknya barang yang diperdagangkan, tetapi juga dari bagaimana negara memperoleh modal, dalam mata uang apa utang diterbitkan, dan pasar keuangan mana yang menjadi sumber pendanaannya.
Perubahan ini berlangsung seiring dengan meningkatnya posisi yuan dalam sistem pembayaran internasional. Data RMB Tracker yang diterbitkan oleh Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) menunjukkan bahwa yuan tetap berada di jajaran mata uang utama dalam pembayaran global. Meskipun porsinya masih berada di bawah dolar Amerika Serikat dan euro, keberadaan yuan sebagai salah satu mata uang pembayaran terbesar menunjukkan proses internasionalisasi yang terus berlangsung.
Internasionalisasi yuan sesungguhnya merupakan fondasi penting dari strategi finansial China. Mata uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai instrumen kekuasaan. Semakin banyak negara menggunakan yuan dalam perdagangan, investasi, maupun penerbitan obligasi, semakin besar pula posisi China dalam menentukan arah arus modal internasional. Dalam perspektif Susan Strange, kemampuan memengaruhi sistem keuangan semacam ini merupakan bentuk structural power yang bekerja secara halus, tetapi memiliki dampak jangka panjang.
Perubahan strategi China juga terlihat dari semakin besarnya perhatian terhadap pendanaan hijau. Berbeda dengan periode awal BRI yang banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur konvensional, kini Beijing semakin aktif mengembangkan instrumen pembiayaan untuk proyek transisi energi. Green Finance and Development Center mencatat bahwa penerbitan obligasi hijau China pada 2025 mencapai sekitar 1,09 triliun yuan atau meningkat lebih dari 56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut memperlihatkan bahwa China tidak hanya ingin menjadi pusat manufaktur teknologi hijau, tetapi juga menjadi pusat pembiayaan transisi energi global. Posisi ini semakin diperkuat ketika Kementerian Keuangan China menerbitkan obligasi hijau berdenominasi yuan di London pada April 2025. Penawaran senilai 6 miliar yuan tersebut memperoleh permintaan hampir tujuh kali lipat dari nilai penerbitannya, mencerminkan tingginya minat investor internasional terhadap instrumen keuangan China.
Jika dicermati, pola ini menunjukkan bahwa Beijing sedang memperluas sumber pengaruhnya. Pada fase awal, pembangunan pelabuhan atau jalan raya menciptakan konektivitas perdagangan. Kini, konektivitas tersebut diperluas melalui pasar obligasi, pembiayaan hijau, dan penggunaan yuan. Jalur pengaruh tidak lagi berhenti pada proyek fisik, tetapi bergerak menuju sistem keuangan yang menopang aktivitas ekonomi negara-negara mitra.
Meski demikian, perubahan ini bukan berarti BRI telah kehilangan relevansinya. Infrastruktur tetap menjadi bagian penting dari strategi global China. Yang berubah adalah komposisinya. Instrumen finansial kini hadir sebagai pelengkap sekaligus penguat dari investasi fisik yang telah dibangun sebelumnya. Pelabuhan dapat memperlancar perdagangan, tetapi pasar modal memperkuat ketergantungan finansial. Jalan raya dapat menghubungkan kawasan industri, tetapi obligasi dan investasi memungkinkan hubungan tersebut bertahan dalam jangka panjang.
Inilah yang membedakan strategi China saat ini dengan satu dekade lalu. Jika dahulu pengaruh Beijing lebih mudah dikenali melalui proyek-proyek konstruksi berskala besar, kini pengaruh tersebut semakin sering hadir dalam bentuk yang lebih abstrak, tetapi jauh lebih mendasar. Ia bekerja melalui mata uang, pasar keuangan, lembaga pembiayaan, dan investasi teknologi. Perubahan semacam ini sering kali luput dari perhatian karena tidak menghasilkan bangunan yang mudah dilihat, padahal dampaknya terhadap konfigurasi ekonomi global bisa jauh lebih besar.
Persaingan geopolitik abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang membangun pelabuhan atau jalan raya paling banyak. Yang semakin menentukan adalah siapa yang mampu membentuk struktur keuangan tempat negara lain memperoleh modal, bertransaksi, dan berinvestasi. Jalan baru China bukan lagi sekadar jalan yang dibangun dengan beton dan baja. Jalan itu kini terbentang melalui pasar modal, obligasi yuan, investasi teknologi, dan pembiayaan hijau. Mungkin ia tidak terlihat seperti pelabuhan atau rel kereta, tetapi justru di sanalah letak kekuatannya: membentuk struktur ekonomi global tanpa harus selalu membangun jalan secara fisik.