Pada 5 Juli 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz menyatakan kepada media bahwa mereka akan membuka data bantuan senjata yang telah diberikan kepada Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 24 Februari 2022. Menhan Kamysz menambahkan langkah ini dilakukan setelah Kemhan melakukan konsultasi dengan Perdana Menteri (PM) Donald Tusk untuk memberikan publik transparansi penuh tentang bantuan senjata yang telah diberikan oleh Polandia terhadap Ukraina. Selain membuka data bantuan senjata, Menhan Kamysz juga telah memerintahkan Badan Kontra-Intelijen Militer Polandia (SKW) untuk menyelidiki pihak yang ingin mendapatkan akses informasi rahasia. Menurut Menhan Kamysz, langkah ini penting karena saat ini perbatasan timur Polandia sedang berada dalam status siaga perang sehingga negara perlu memastikan bahwa siapapun yang mengancam keamanan nasional dapat menghadapi pertanggungjawaban.
Keputusan Menhan Kamysz untuk membuka data dari bantuan senjata kepada Ukraina dilakukan akibat dari dua faktor yakni sengketa diplomatik antara kedua negara dan politik internal Polandia. Dalam hal sengketa diplomatik Polandia-Ukraina, hal ini terjadi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan Komando Utara Pasukan Khusus Ukraina (SSO) gelar “Pahlawan Tentara Insurgensi Ukraina”. Penamaan ini memicu reaksi tajam dari eselon tertinggi pemerintahan Polandia karena dalam sejarah mereka UPA merupakan organisasi yang melakukan pembersihan etnis di wilayah Volhynia dan Galicia Timur pada masa perang dunia 2. Selain memicu reaksi tajam, Presiden Polandia Karol Nawrocki memutuskan untuk menarik penghargaan medali Order of the White Eagle yang diberikan kepada Presiden Zelenskyy pada tahun 2023. Sementara itu dari sisi politik internal Polandia, Menhan Kamysz ingin menepis tuduhan dari Ketua Parlemen Nasional (Sejm) dan Wakil Ketua Partai Konfederasi Krzysztof Bosak bahwa pemerintah telah mengirimkan rudal pencegat tipe PAC-3 secara rahasia.
Sengketa diplomatik antara Polandia dan Ukraina bukan suatu hal yang baru karena walaupun mereka sekutu dekat, kedua negara masih memiliki trauma sejarah yang memiliki potensi untuk memperburuk hubungan. Selain isu trauma sejarah, kedua negara juga pernah menghadapi sengketa serupa pada tahun 2022 saat sebuah rudal dari sistem pertahanan udara S-300 milik Angkatan Udara Ukraina (UAF) menghantam desa Przewodów. Akibat dari insiden ini, hubungan antara Ukraina dan Polandia sempat memburuk karena Presiden Zelenskyy bersikeras bahwa Rusia yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.