Pada 22 April 2025, delegasi 70 anggota Parlemen Jepang dari Partai Liberal Demokrat (LDP), Partai Konstitusional Demokrat (CDP), dan Partai Inovasi Jepang (JIP) berkunjung ke Kuil Yasukuni untuk menghormati para prajurit Negeri Sakura yang gugur bertempur. Dalam kunjungan tersebut terdapat beberapa anggota LDP yang berpengaruh seperti Sanae Takaichi yang sebelumnya menjabat sebagai menteri ekonomi dan kandidat perdana menteri. Setelah kunjungan berakhir, pemimpin delegasi parlemen Ichiro Aisawa menyatakan kepada wartawan bahwa mereka berkunjung untuk memastikan bahwa sejarah tidak akan dilupakan. Kunjungan ini dilakukan sehari setelah Perdana Menteri (PM) Shigeru Ishiba dan beberapa anggota kabinetnya serta Ketua DPR Jepang Fukushiro Nukaga memberikan persembahan ritual Pohon Masakaki dengan plat kayu yang menunjukan nama dan jabatan mereka.
Menanggapi hal tersebut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korea Selatan memberikan pernyataan yang menyayangkan persembahan ritual yang diberikan PM Ishiba dan kunjungan yang dilakukan oleh anggota Parlemen Nasional Jepang. Kemlu Korea Selatan menambahkan bahwa mereka kecewa terhadap aksi tersebut karena Kuil Yasukuni mengagungkan agresi imperialisme dan menghormati sekaligus para penjahat perang kelas A yang dihukum mati. Selain itu Kemlu Korea juga mendesak pemerintah Jepang untuk menghadapi sejarah kelam mereka dan melakukan insrospeksi diri terhadap agresi yang dilancarkan karena hal tersebut dapat menjadi fondasi baru bagi hubungan antara Negeri Sakura dan Korea Selatan.
Kuil Yasukuni pertama kali dibangun pada tahun 1869 untuk mengenang pengorbanan 2,46 juta prajurit yang gugur dalam pertempuran sejak era Restorasi Meiji. Dari 2,46 juta prajurit yang diabadikan, 2,1 juta merupakan serdadu dan perwira yang gugur dalam Perang Dunia Kedua (PD 2). Kuil Yasukuni juga mengenang 14 individu yang dikategorikan sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Militer Internasional Kawasan Timur Jauh (IMTFE) seperti PM Hideki Tojo, Jenderal Akira Muto, Jenderal Seishiro Itagaki, dan Jenderal Iwane Matsui. Fakta tersebut menyebabkan kunjungan yang dilakukan oleh pejabat Jepang ke Kuil Yasukuni ditanggapi secara negatif oleh Korea Selatan dan China karena sebelumnya kedua negara diduduki oleh Jepang hingga tahun 1945.