Perdagangan global yang semakin terpecah dikarenakan beban tarif yang meningkat membuat China bergerak cepat untuk menopang dukungan regional dan mencegah negara-negara tetangganya untuk tidak bersekutu terlalu dekat dengan Amerika Serikat. Upaya diplomatik terbaru dari Beijing tidak hanya mencerminkan kekhawatiran akan dampak ekonomi langsung, tetapi juga upaya strategis yang lebih luas untuk membentuk kembali dinamika kekuatan perdagangan internasional.
Dalam sebuah pesan yang disampaikan melalui kedutaan besarnya di Tokyo, Perdana Menteri China Li Qiang pada Selasa (22/04/2025) meminta Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba untuk mengkoordinasikan tanggapan bersama terhadap apa yang dipandang China sebagai langkah-langkah perdagangan sepihak dan proteksionis yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Panggilan tersebut menekankan upaya “memerangi proteksionisme bersama-sama” dan menolak upaya yang dapat merusak kohesi regional demi keuntungan bilateral jangka pendek dengan Washington.
Penjangkauan ini dilakukan di tengah upaya China yang lebih luas untuk mencegah sekutu-sekutu Asia – terutama Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan guna membuat perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat yang menurut Beijing dapat mengisolasi atau meminggirkan kepentingannya sendiri.
Dalam langkah terpisah, Kementerian Perdagangan China dilaporkan telah memperingatkan produsen Korea Selatan agar tidak mengekspor barang-barang yang mengandung mineral tanah jarang China ke perusahaan-perusahaan pertahanan AS. Sumber-sumber pemerintah mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam produksi baterai, suku cadang kedirgantaraan, dan komponen elektronik telah diperingatkan bahwa mereka dapat menghadapi sanksi jika tidak patuh dengan aturan yang berlaku.
Kampanye tekanan ini menyusul kontrol ekspor China baru-baru ini terhadap elemen-elemen dari alam yang penting untuk teknologi sipil dan militer, sebagai bagian dari tanggapannya terhadap tarif Trump. Bahan-bahan ini merupakan bahan penting dalam pembuatan semikonduktor, kendaraan listrik, dan persenjataan presisi. Dengan memanfaatkan dominasinya di sektor ini, China mengisyaratkan kesiapannya untuk mempersenjatai rantai pasokan jika diperlukan.
Pendekatan “America First” dari Trump, yang berusaha untuk mengarahkan kembali perdagangan global demi industri domestik, versus strategi multilateral China yang bertujuan untuk mempertahankan arus perdagangan terbuka menjadi hal yang ternyata bisa menguntungkan Beijing.
Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan tarif pemerintah sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk “menyeimbangkan kembali perdagangan global.” Dia mengkonfirmasi kemajuan dalam negosiasi dengan Perdana Menteri India Narendra Modi dan mengisyaratkan model baru aliansi perdagangan yang dibangun tidak hanya berdasarkan ekonomi, tetapi juga kepentingan strategis bersama. “Kami ingin membangun sesuatu yang benar-benar baru,” ujar Vance, menggambarkan sebuah visi untuk sistem perdagangan global yang ‘stabil dan adil’ yang berakar pada kemitraan dan bukan ketergantungan.
Namun, retorika ini belum meyakinkan pasar global. IMF minggu ini memangkas proyeksi pertumbuhan globalnya, mengutip ketidakpastian terkait tarif sebagai penghalang utama. Indeks Dow Jones berada di jalur yang tepat untuk mengalami bulan April terburuk sejak Depresi Besar, menggarisbawahi kecemasan investor tentang gangguan yang berkepanjangan pada rantai pasokan internasional.
Bagi negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan-yang sangat terintegrasi dengan pasar AS dan China, pilihannya bukan lagi soal ideologi, melainkan soal kelangsungan hidup. Bersekutu terlalu dekat dengan salah satu pihak berisiko menimbulkan pembalasan ekonomi dari pihak lain, sementara tetap netral dapat menawarkan perlindungan terbatas karena aturan perdagangan ditulis ulang secara real time.
Peringatan keras dari China bahwa mereka akan “dengan tegas mengambil tindakan balasan” terhadap negara mana pun yang mengorbankan kepentingannya menambah bobot lebih lanjut pada keputusan-keputusan ini. “Mengorbankan kepentingan orang lain dengan imbalan apa yang disebut sebagai pengecualian adalah seperti mencari kulit harimau,” kata Kementerian Perdagangan, memperingatkan bahwa kesepakatan semacam itu pada akhirnya akan ”gagal di kedua sisi.”
Pesannya jelas: China tidak hanya siap untuk mempertahankan posisinya dalam perang dagang saat ini, tetapi juga untuk mendefinisikan kembali persyaratan di mana aliansi perdagangan di masa depan dibentuk.