Pada 25 Maret 2026, media Iran melaporkan bahwa pejabat mereka menolak adanya perdamaian dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Press TV, seorang pejabat yang terlibat dalam proses negosiasi menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan Presiden Donald Trump untuk mendikte kapan perang mulai dan berakhir. Pejabat tersebut menambahkan bahwa Militer Reguler Iran (Artesh) dan Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) akan terus melancarkan serangan terhadap musuh hingga seluruh tuntutan yang diberikan oleh Iran dipenuhi. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Aragachi dalam sebuah wawancara yang diselenggarakan oleh media pemerintah. Dalam wawancara tersebut Menlu Abbas menekankan bahwa Iran tidak berencana untuk melakukan negosiasi apapun dengan Amerika Serikat.
Tidak lama setelah mengumumkan penolakan tersebut, pemerintah Iran mengumumkan lima tuntutan yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri perang tersebut. Tuntutan tersebut diantaranya adalah menghentikan pembunuhan terhadap pejabat sipil dan militer Iran, ganti rugi akibat kerusakan perang, pengakuan terhadap kedaulatan Iran di Selat Hormuz, pembentukan mekanisme anti-agresi militer, dan gencatan senjata di seluruh medan. Selain lima tuntutan inti tersebut, Iran juga menuntut Amerika Serikat menutup markas militer nya di kawasan Timur Tengah, menghapuskan segala bentuk sanksi ekonomi, serta menghentikan segala bentuk upaya untuk membatasi program pengembangan rudal balistik. Seluruh hal ini bertolak belakang dengan tuntutan 15 poin Amerika Serikat yang mendesak Iran untuk mengakhiri program pengembangan rudal balistik mereka, berkomitmen untuk tidak membangun senjata nuklir, dan menetapkan Selat Hormuz sebagai jalur maritim internasional.
Menanggapi perkembangan ini, mantan Direktur Isu Iran dalam Dewan Keamanan Nasional (DKN) Amerika Serikat Nate Swanson menyatakan bahwa tuntutan yang diberikan Iran kepada Amerika Serikat dan sebaliknya tidak memenuhi persyaratan minimum apapun. Menurutnya hal ini akan menyebabkan negosiasi untuk mengakhiri perang sulit untuk dilakukan karena perkembangan tersebut menunjukkan kedua belah pihak enggan melakukan kompromi. Selain itu, Iran memiliki kecurigaan tinggi terhadap tawaran perdamaian dari Amerika Serikat karena dalam negosiasi sebelumnya mereka secara sepihak menghentikan proses perdamaian dengan melancarkan serangan udara mendadak.