Pada 20 Juli 2025 Jepang menyelenggarakan pemilu legislatif untuk menentukan partai politik yang akan memiliki mayoritas parlementer dalam Dewan Penasihat. Dalam pemilu ini Koalisi petahana yang dipegang oleh Partai Liberal Demokrat (LDP) dan Partai Komeito hanya berhasil memenangkan 122 dari 125 kursi yang diperlukan untuk mempertahankan mayoritas parlementer mereka. Hasil ini merupakan perkembangan yang mengejutkan karena hal ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah politik Jepang koalisi petahana kehilangan mayoritas parlementer mereka di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Penasihat. Hasil ini merupakan pukulan besar bagi Perdana Menteri (PM) Shigeru Ishiba yang saat ini sedang melakukan negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat.
Menanggapi hasil tersebut PM Jepang Shigeru Ishiba menyatakan bahwa dia menerima keputusan rakyat. Ishiba menambahkan bahwa dia akan tetap bekerja sebagai ketua partai dan PM untuk kesejahteraan negara. Sementara itu Ketua Partai Sanseito Sohei Kamiya menyatakanbahwa dia senang dengan hasil yang didapatkan karena partainya berhasil mendapatkan lebih banyak kursi dari yang diperkirakan. Ketua Partai Demokrat Untuk Rakyat (DPFP) Yuichiro Tamaki juga menyatakan bahwa rakyat memilih DPFP karena mereka menganggap partai tersebut sebagai alternatif lebih baik dari koalisi LDP-Komeito. Pandangan serupa juga diberikan oleh Ketua Partai Demokrat Konstitusional (CDP) Yoshihiko Noda yang menyatakan bahwa PM Ishiba harus menyadari bahwa rakyat Jepang sudah menyampaikan penolakan mereka. Noda juga menyatakan keinginannya untuk melengserkan PM Ishiba dan membentuk pemerintahan baru.
Dilansir dari The Japan Times Profesor ilmu politik Yu Uchiyama dari Universitas Tokyo menyatakan bahwa hasil dari pemilu legislatif tersebut merupakan sebuah referendum bagi pemerintahan PM Ishiba. Profesor Yu menyatakan demikian karena masyarakat Jepang menganggap koalisi LDP-Komeito gagal menghadapi isu penting seperti harga tinggi bahan makanan dan kondisi ekonomi yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Jepang memberikan suara mereka kepada partai oposisi yang mendorong pemotongan pajak konsumsi dan meningkatkan anggaran program kesejahteraan masyarakat. Selain itu terdapat juga xenofobia terhadap masyarakat asing yang menyebabkan masyarakat Jepang memberikan suara mereka kepada Partai Sanseito.