Pada 27 Juni 2025 Moscow Times melaporkan bahwa Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Islam Iran Brigjen Aziz Nasirzadeh sedang berkunjung ke Republik Rakyat China (RRC) untuk mempercepat negosiasi pembelian 36 pesawat tempur generasi 4++ Chengdu J-10C. Selain pesawat tempur, Menhan Aziz juga menyampaikan ketertarikan Iran untuk membeli pesawat airborne warning and control system (AWACS/AEW&C) milik China. Negosiasi ini merupakan perubahan strategis dari program pembelian senjata Iran karena sebelumnya Tanah Persia selalu membeli persenjataan buatan Rusia seperti pesawat tempur Mig-29 untuk menutupi kekurangan mereka. Akan tetapi penundaan pengiriman pesawat tempur multiguna Su-35 Flanker-E sejak 2023 memaksa Iran untuk mengubah program pembelian senjata mereka karena hal tersebut merusak reputasi Rusia sebagai mitra pertahanan yang dapat diandalkan oleh Tanah Persia. Selain itu serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 13 – 24 Juni 2025 juga menjadi salah satu faktor yang mendorong Iran untuk mempercepat negosiasi pembelian.
Menanggapi perkembangan ini analis militer Brandon J. Weichert menyatakan bahwa Chengdu J-10C merupakan pesawat tempur yang tepat untuk Iran karena pesawat tersebut baru saja mendapatkan reputasi sebagai senjata yang sudah teruji di medan pertempuran. Reputasi tersebut muncul saat Angkatan Udara India dan Pakistan bertempur pada 7 Mei 2025. Dalam pertempuran tersebut pesawat tempur J-10 dari Angkatan Udara Pakistan mengklaim telah berhasil menjatuhkan sebuah Dassault Rafale dan beberapa pesawat tempur lain milik AU India. Brandon menambahkan bahwa Iran dan China akan diuntungkan jika negosiasi pembelian berhasil karena RRC akan memperkuat posisi mereka sebagai eksportir senjata sementara Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) akan diperkuat dengan kapabilitas baru.
Sebelumnya pada tahun 2015 Iran telah menyampaikan ketertarikan untuk membeli 150 pesawat tempur J-10C untuk menggantikan armada pesawat tempur mereka yang didominasi oleh pesawat era perang dingin seperti F-14A Tomcat, F-4E Phantom, F-5E Tiger, dan MiG-29. Akan tetapi negosiasi pembelian pada saat itu terhambat akibat dari permasalahan sistem pembayaran dan embargo persenjataan Iran oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 2020 PBB mengakhiri embargo senjata terhadap Iran sehingga negosiasi pembelian J-10 dilanjutkan namun jumlah pesawat yang ingin dibeli dikurangi dari 150 menjadi 36. Selanjutnya pada 24 Juni 2024 AS mengizinkan China untuk membeli minyak dari Iran, membuka pintu resolusi permasalahan sistem pembayaran.