Taiwan, China, dan AS di Ambang Konflik
Ketegangan geopolitik yang terjadi di Selat Taiwan telah menjadi sorotan dimata dunia karena meningkatnya aktivitas militer, perlombaan anggaran pertahanan, dan rivalitas kekuatan besar. Dalam situasi ini melibatkan tiga aktor utama yakni Taiwan, China, dan Amerika Serikat yang saling berinteraksi dalam dinamika strategis kompleks. Pentagon yang merupakan lembaga pertahanan Amerika Serikat memperkirakan kemungkinan China berupaya merebut Taiwan dengan kekuatan pada 2027 mendatang. Ini merupakan sebuah proyeksi waktu yang membuat kawasan Asia Timur menjadi titik perhatian keamanan global terkini.
Apa yang terjadi bukan hanya konflik bilateral, melainkan persilangan kepentingan global. Simulasi kebijakan oleh lembaga seperti Center for Strategic and International Studies menunjukkan berbagai skenario, mulai dari invasi dengan skala besar hingga tekanan zona abu-abu (Grey Zone) seperti blokade atau karantina maritim. Dalam hal ini, skenario terakhir dinilai paling realistis karena memungkinkan tekanan maksimal tanpa memicu perang terbuka yang konfrontatif. Dengan kata lain, konflik tidak harus dimulai dengan tembakan akan tetapi dimulai dengan tekanan strategis yang bertahap.
Ketegangan yang terjadi semakin nyata sejak 2025 – 2026 ketika Taiwan, di bawah kepemimpinan Lai Ching-te, yang mengusulkan peningkatan anggaran militer hingga sekitar 3% Produk Domestik Bruto (PDB) dan menargetkan 5% pada 2030. Usulan tersebut muncul karena meningkatnya aktivitas militer China di sekitar pulau itu serta keterlibatan Amerika Serikat yang terus memperkuat dukungan keamanan terhadap Taiwan. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik potensial bukan hanya soal wilayah, tetapi juga tentang pengaruh, kredibilitas militer, dan posisi strategis di tatanan global.
Penangkalan dan Dilema Keamanan
Fenomena ini dapat dipahami menggunakan perspektif John Herz tentang security dilemma. Dalam pandangannya, Herz menjelaskan bahwa ketika satu negara meningkatkan kemampuan militernya untuk tujuan defensif, negara lain dapat menafsirkannya sebagai ancaman sehingga ikut memperkuat militernya. Dalam konteks Selat Taiwan, peningkatan anggaran pertahanan Taiwan dimaksudkan untuk memperkuat penangkalan, tetapi bagi Beijing hal itu bisa terlihat sebagai langkah provokatif.
Perdebatan politik yang terjadi di dalam Taiwan memperlihatkan dilema secara nyata. Partai oposisi seperti Kuomintang dan Taiwan People’s Party menolak anggaran besar dan mengusulkan paket lebih kecil sekitar $12,7 miliar demi stabilitas lintas selat. Namun Menteri Pertahanan Wellington Koo memperingatkan bahwa hambatan legislatif dapat melemahkan penangkalan pada saat krusial. Ini menunjukkan bahwa dilema keamanan tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga dalam politik domestik.
Di sisi lain, dukungan militer Amerika Serikat terhadap Taiwan, termasuk paket senjata senilai $11,1 miliar, menambah kompleksitas persepsi ancaman di mata Beijing, meskipun hingga kini AS belum memberikan kepastian penuh mengenai penjualan senjata tersebut. Sikap keras Presiden AS Donald Trump terhadap China dipandang oleh Beijing sebagai upaya untuk membatasi pengaruhnya di Asia Timur dan respons China ini tidak semata-mata agresif, melainkan merupakan reaksi terhadap perubahan keseimbangan kekuatan yang dirasakannya.
Strategi Kekuatan Besar dan Realisme
John Mearsheimer melalui teori realisme ofensif menjelaskan bahwa negara besar secara alami berusaha memaksimalkan kekuatan untuk menjamin kelangsungan hidupnya dalam sistem internasional yang anarkis (tanpa pemimpin). Pernyataan Presiden Xi Jinping pada 1 Januari 2026 mengatakan bahwa reunifikasi adalah tujuan tak terhentikan yang mencerminkan logika bahwa kontrol atas Taiwan dianggap vital bagi keamanan dan prestise nasional China.
Kemudian data militer memperkuat interpretasi tersebut di mana sejak 2017, China telah melakukan lebih dari seratus aktivitas militer di sekitar Taiwan. Pada Desember 2025, lebih dari 100 pesawat, 13 kapal perang, dan 14 kapal resmi beroperasi di sekitar pulau itu. Peluncuran 27 roket dari provinsi Fujian juga menjadi sinyal postur kekuatan. Selain itu, China meningkatkan anggaran militernya hingga ¥1,77 triliun dan merencanakan kompleks komando perang raksasa di Beijing. Dalam perspektif realisme ofensif, langkah-langkah ini bukan sekadar latihan, melainkan investasi kekuatan jangka panjang.
Pertanyaannya kemudian mengapa perang belum terjadi? Negara besar tidak hanya mencari kekuatan, tetapi juga menghitung biaya perang. Invasi terhadap Taiwan berisiko memicu intervensi Amerika Serikat dan sekutunya, yang dapat meningkatkan biaya militer, ekonomi, dan politik secara drastis. Karena itu, strategi tekanan bertahap seperti operasi zona abu-abu lebih rasional dibanding invasi langsung. China dapat meningkatkan kontrol tanpa memicu perang besar, sementara tetap mempertahankan klaim kedaulatannya.
Ketegangan antara Taiwan, China, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa dunia telah memasuki fase persaingan kekuatan besar yang kompleks dan multidimensi. Dengan perspektif dilema keamanan dan realisme ofensif, terlihat bahwa setiap langkah defensif satu pihak dapat dipersepsikan ofensif oleh pihak lain. Hal ini menciptakan spiral ketegangan yang sulit dihentikan. Selat Taiwan bukan sekadar titik sengketa wilayah, melainkan panggung tempat reputasi kekuatan, legitimasi politik, dan keseimbangan global dipertaruhkan. Selama ketiga aktor utama masih memandang keamanan melalui lensa kekuatan dan penangkalan, konflik mungkin tidak meledak hari ini, tetapi bayangannya akan terus membayangi stabilitas kawasan dan dunia.