Pada 7 November 2025 Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mengejutkan kawasan Asia Timur ketika dia memberikan pernyataan kepada Parlemen Nasional Jepang (Diet) bahwa jika Taiwan menghadapi aksi agresi dari Republik Rakyat China (RRC), Negeri Sakura akan mengerahkan Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) untuk membantu militer Amerika Serikat kawasan Indo-Pasifik (USINDOPACOM) dan Angkatan Bersenjata Taiwan (ROCA) dalam mempertahankan pulau tersebut dari gempuran Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Walaupun pernyataan ini mendapatkan respon keras dari China dan upaya dari beberapa faksi dalam Parlemen Jepang agar PM Sanae menarik ucapan tersebut, sang mantan pembawa acara televisi tetap berpegang teguh terhadap penjelasan yang telah diberikan. Oleh karena itu pernyataan yang diberikan oleh PM Sanae dapat dikategorikan sebagai kebijakan resmi pemerintah Jepang jika Taiwan menghadapi serangan militer dari PLA.
Pernyataan tersebut kini membuka pertanyaan baru yakni bagaimana JSDF dapat berkontribusi dalam mempertahankan Taiwan dari serangan militer PLA. Untuk menjawab hal tersebut kita perlu mengetahui kekuatan agregat yang saat ini dimiliki oleh JSDF, matra yang akan memiliki peran signifikan jika skenario tersebut menjadi kenyataan, dan bagaimana mereka akan mengerahkan aset tersebut dalam membantu pertahanan Taiwan. Secara kasat mata, JSDF merupakan militer yang pada awalnya dibentuk untuk hanya mempertahankan Jepang dari serangan militer Uni Soviet, Korea Utara, dan RRC. Alhasil di masa perang dingin, sebagian besar persenjataan yang digunakan JSDF bersifat defensive yang tidak memiliki kemampuan untuk menyerang markas atau fasilitas strategis lawan. Akan tetapi di tengah kondisi kawasan Indo-Pasifik yang semakin tegang, pemerintah Jepang memutuskan untuk mengembangkan postur JSDF agar mereka memiliki kekuatan untuk mempertahankan negara dan menyerang musuh dengan persenjataan strategis. Hal ini dapat dilihat dengan dikembangkannya persenjataan seperti kapal induk menengah (CVM) kelas Izumo dan Hyuga, kapal perusak rudal (DDG) kelas Kongo dan Maya, rudal penyerang dan penjelajah Tipe 12 SSM-ER, prototipe pesawat tempur generasi ke-5 X-2 Shinshin, program pesawat tempur generasi ke-6 global combat air programme (GCAP), dan program modernisasi armada pesawat tempur F-15J Eagle (J-MSIP) agar pesawat tersebut mampu mengangkut rudal penjelajah AGM-158 JASSM. Selain mengembangkan persenjataan secara mandiri, Jepang juga meningkatkan pembelian persenjataan strategis dari Amerika Serikat seperti pesawat tempur siluman F-35B Lightning dan rudal penjelajah BGM-109 Tomahawk. Seluruh hal ini menunjukan bahwa jika skenario agresi militer China terhadap Taiwan terjadi, JSDF akan memiliki peran yang lebih aktif dalam mempertahankan pulau tersebut.
Dalam skenario Taiwan, dua matra JSDF yakni angkatan udara (JASDF) dan angkatan laut (JMSDF) akan memiliki peran utama dalam mempertahankan Taiwan dari gempuran PLA sementara matra darat (JGSDF) akan memiliki peran sekunder. JASDF dan JMSDF memiliki peran utama karena kedua matra tersebut memiliki kapabilitas ganda sehingga mereka dapat menggerus kekuatan armada invasi PLA sekaligus melancarkan serangan strategis terhadap fasilitas penting seperti pembangkit listrik, pelabuhan, depot amunisi, pusat komando regional, peluncur rudal penjelajah dan balistik, serta pusat komunikasi untuk menggerus kemampuan musuh dalam mengoordinasikan serangan mereka. Selain itu JMSDF dan JASDF juga dapat mematahkan blokade laut PLA terhadap Taiwan dengan menghancurkan aset strategis PLAN seperti kapal selam penyerang (SSK) dan perahu milisi maritim mereka. Sementara itu peran sekunder yang dimainkan oleh JGSDF mencakup dua hal yaitu pertahanan udara dan pengurangan kekuatan musuh di udara dan laut. Dalam hal pertahanan udara, JGSDF dapat menggunakan artileri pertahanan udara (arhanud) seperti meriam otomatis anti-udara Tipe 87 dan rudal pertahanan udara jarak menengah Tipe 3 untuk memperkuat anti-access area denial (A2/AD) Taiwan sehingga PLA tidak dapat mengerahkan helikopter ataupun pasukan terjun payung. Sementara itu JGSDF juga bisa membantu upaya JASDF dan JGSDF dalam menggerus kekuatan armada invasi China dengan menggunakan peluncur rudal anti-kapal untuk menargetkan kapal amfibi PLAN.
Dalam aspek penggunaan aset tempur, JASDF akan mengerahkan aset komando dan peringatan dini (AWACS/AEW&C) mereka di Kepulauan Senkaku atau Pulau Okinawa untuk mengawasi perkembangan dan mengarahkan aset tempur yang ada untuk menghadapi ancaman terdekat. Untuk menghadapi ancaman tersebut JASDF akan mengirimkan F-35 untuk menggerus kekuatan udara musuh, F-15J MSIP untuk mendukung upaya tersebut serta melancarkan serangan strategis, dan F-2 Viper Zero yang dilengkapi dengan rudal-anti kapal UGM-84L Harpoon untuk menargetkan aset maritime PLAN yang berada di sekitar perairan Taiwan. Sementara itu JMSDF akan mengerahkan armada kapal selam mereka di Selat Taiwan untuk mengawasi armada PLA dan berupaya untuk menenggelamkan beberapa kapal menggunakan torpedo atau rudal anti-kapal. Sementara itu kapal yang menjadi armada permukaan JMSDF seperti DDG kelas Maya dan Kongo akan ditugaskan untuk menjadi tameng udara di dekat Taipei atau Kaohsiung agar mereka dapat menggunakan sistem AEGIS untuk menghadang serangan rudal China. Di saat yang sama, CVM kelas Izumo dan Hyuga dengan skadron tempur F-35B Lightning serta kapal kelas DDG yang telah dilengkapi dengan kemampuan untuk mengangkut rudal penjelajah BGM-109 Tomahawk dapat diperintahkan untuk menargetkan fasilitas strategis musuh dan aset pendukung mereka. Terakhir, JGSDF akan berupaya untuk mengurangi beban tugas dari kedua matra dengan membantu ROCA dalam menutup wilayah udara Taiwan menggunakan kombinasi sistem meriam otomatis dan rudal pertahanan udara sehingga China akan kesulitan mengerahkan seluruh kekuatan mereka.