Opsi Samson Israel: Asal dan Kemungkinan Implementasi
Sejak monopoli persenjataan nuklir runtuh pada tahun 1949, terdapat konsep yang tidak asing didengar jika kedua negara adidaya pada saat itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, memutuskan untuk melancarkan perang total dengan meluncurkan seluruh hulu ledak nuklir mereka ke wilayah lawan. Konsep ini dikenal dengan sebutan mutually assured destruction (MAD) yang secara garis besar berarti kehancuran total dari pihak yang bertahan atau menyerang jika mereka memutuskan untuk menggunakan persenjataan nuklir dalam konflik terbuka. Konsep ini mengedepankan prinsip penangkalan (deterrence) untuk mencegah terjadinya konflik malapetaka tersebut. Di Timur Tengah, konsep ini, dengan modifikasi ekstensif, digunakan secara sepihak oleh Israel berdasarkan prinsip bahwa jika mereka berada di ambang kehancuran nasional, seluruh kapabilitas nuklir akan digunakan untuk menghancurkan musuh mereka. Doktrin ini dikenal sebagai Opsi Samson (Samson Option) yang hingga saat ini digunakan oleh Israel sebagai respon jika skenario terburuk seperti kekalahan militer telak, kehancuran infrastruktur dan pusat urban masif, dan keberlangsungan hidup masyarakat terancam oleh kekuatan luar.
Untuk memahami bagaimana konsep ini akan diimplementasikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu awal mula dari konsep ini dan bagaimana Israel memutuskan menggunakan senjata nuklir jika negara tetangganya seperti Suriah, Jordania, Lebanon, dan Mesir memutuskan untuk melancarkan invasi dan guna menghancurkan suaka bagi kaum Yahudi. Awal mula dari konsep datang pada dekade 1950-1960an saat tokoh politik terkemuka Israel pada saat itu seperti Perdana David Ben Gurion, Moshe Dayan, Shimon Peres, dan Levi Eshkol memutuskan bahwa mereka membutuhkan senjata nuklir sebagai penangkal absolut agar keberadaan negara mereka dapat terjaga dari ancaman militer negara Arab. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintahan Perdana Menteri (PM) David Ben Gurion membujuk Presiden Amerika Serikat Dwight Eisenhower, PM Prancis Guy Mollet, dan PM Norwegia Einer Gerhardsen untuk membangun sebuah reaktor nuklir di Dimona, Gurun Negev. Awalnya, PM David menekankan bahwa tujuan dari pembangunan reaktor ini memiliki tujuan damai dan sesuai dengan program atoms for peace yang saat itu didorong oleh pemerintahan Presiden Eisenhower. Nyatanya reaktor ini menjadi tempat Israel menyuling uranium dan plutonium sehingga mereka dapat menggunakan material tersebut sebagai hulu ledak nuklir. Akibatnya pada tahun 1966-1967, Israel mampu memproduksi hulu ledak nuklir.
Keputusan untuk mengembangkan doktrin ini tidak datang secara tiba-tiba karena pada saat itu para Zionis yang datang ke tanah Palestina untuk ‘membangun rumah baru’ masih memiliki trauma kolektif terhadap Holocaust yang dilancarkan oleh Nazi Jerman. Bagi orang Yahudi yang tinggal di Eropa Timur atau Uni Soviet, trauma ini dapat dikatakan lebih nyata karena pasukan Nazi Jerman dan satuan tugas khusus (Einsatzgruppen) nya tidak hanya membawa para untermenschen ke kamp konsentrasi/kematian seperti Auschwitz-Birkenau, Sobibor, Buchenwald, dan Bergen-Belsen. Mereka juga secara aktif melakukan pembantaian massal di berbagai wilayah seperti Khatyn di Belarus, Babyn Yar di Ukraina, Jedwabne dan Warsawa di Polandia, serta Zmievskaya Balka di Rusia. Trauma ini mendorong tokoh pendiri Israel seperti PM David Ben Gurion untuk memastikan peristiwa serupa tidak dapat lagi terjadi.
Untuk mengimplementasikan doktrin ini, Israel, seperti lima negara pengguna senjata nuklir lainnya, juga mengembangkan kapabilitas nuclear triad mereka guna memastikan bahwa hulu ledak tersebut dapat mencapai target. Pengembangan kapabilitas ini dapat dilihat dari berbagai aspek seperti pesawat tempur F-35I Adir, F-16I Sufa, dan F-15I Ra’am yang mampu mengangkut senjata nuklir, rudal balistik Jericho, dan kapal selam penyerang diesel (SSK) Kelas Dolphin yang mampu mengangkut rudal penjelajah Popeye Turbo dengan kemampuan untuk mengangkut hulu ledak nuklir. Adanya kapabilitas ini merupakan sebuah keuntungan bagi Israel karena hal ini memperkecil kemungkinan terjadinya pencegatan oleh lawan karena jika salah satu dari triad tersebut berhasil dihentikan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masih dapat menggunakan dua opsi untuk menghancurkan musuh. Selain itu, adanya ketiga metode pengiriman tersebut menunjukkan bahwa jika skenario terburuk terjadi, pemerintah tidak akan segan untuk mengimplementasikan konsep ini sebagai cara terakhir untuk menyelamatkan Israel atau sebagai simbol bahwa suaka kaum Yahudi tidak akan runtuh tanpa pertempuran hingga titik darah penghabisan.
Di tengah kondisi Timur Tengah yang semakin bergejolak sejak serangan 7 Oktober 2023, terdapat kemungkinan nyata bahwa Doktrin Samson dapat dilakukan oleh Israel karena serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran beserta dengan kelompok proksi seperti Houthi di Yaman dan Hezbollah di Lebanon telah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap beberapa infrastruktur vital Israel seperti kilang minyak Haifa dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Dimona. Jika hal tersebut terjadi, dunia perlu bersiap dalam menghadapi dampaknya karena perlu ditekankan bahwa dibandingkan dengan MAD yang bersifat mutual, doktrin Samson merupakan pilihan terakhir asimetris Israel untuk menghancurkan tetangga jika keberadaan mereka terancam.