Pada 21 Oktober 2026, Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) dan Militer Amerika Serikat secara formal meluncurkan latihan bersama multilateral Keen Sword 2027 dengan sebuah upacara pembukaan resmi yang diselenggarakan di Pulau Ishigaki. Dalam latihan bersama ini, JSDF mengerahkan setidaknya 45,000 personel sementara negara sekutu yang mengikuti latihan seperti Amerika Serikat, Australia, Filipina, dan Kanada mengirimkan sekitar 11,000 personel. Sementara itu, Inggris Raya dan Korea Selatan mengirimkan pengamat untuk melihat rangkaian latihan antara militer yang terlibat dilakukan. Dilansir dari Zona Militar, latihan bersama ini mencakup berbagai aspek seperti operasi penyelamatan maritim, eksperimen sistem pertahanan udara terintegrasi, dan bantuan logistik untuk pasukan yang melancarkan operasi serangan. Dilansir dari Korea Times, latihan bersama ini memiliki tujuan untuk meningkatkan interoperabilitas, pertukaran informasi, dan koordinasi pertahanan antara militer negara yang terlibat.
Menanggapi perkembangan tersebut, Wakil Komandan Komando Pasifik Amerika Serikat (PACOM) Letjen Marinir George Rowell menyatakan latihan bersama ini merupakan wadah bagi negara yang terlibat untuk menguji konsep dan teori perang yang mereka miliki. Letjen Rowell menambahkan bahwa dia yakin latihan ini akan memberikan masukan baik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapan operasional dan menghalau potensi agresi di kawasan Pasifik. Sementara itu, Komandan Komando Operasional Gabungan (JJOC) JSDF, Laksamana Tawara Tateki menyatakan bahwa latihan ini merupakan bukti negara kawasan Pasifik memiliki komitmen bulat untuk menjaga perdamaian regional dan stabilitas kawasan. Laksamana Tateki menambahkan bahwa dalam situasi geopolitik kompleks, penting bagi negara sepemikiran seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Australia, untuk mendukung satu sama lain. Di sisi lain, China menanggapi perkembangan ini dengan menugaskan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) untuk mengirimkan dua kapal intelijen Tipe 815/815A untuk mengawasi latihan tersebut.
Latihan bersama Keen Sword sendiri bukanlah suatu hal baru karena kegiatan ini telah dilaksanakan sebanyak 18 kali dengan frekuensi bi-annual. Akan tetapi, latihan tahun ini memiliki skala lebih besar dengan jumlah personel serta aset udara dan maritim yang cukup signifikan. Salah satu aset yang berpotensi mengikuti latihan tersebut adalah kapal induk bertenaga nuklir (CVN) USS Theodore Roosevelt dan kapal penjelajah rudal (CG) USS Chosin dari CSG-9. Hal ini menunjukkan bahwa negara yang terlibat dalam latihan bersama tersebut memiliki komitmen tinggi untuk memperkuat kapabilitas mereka dalam menghadapi ancaman maritim.