China tidak lagi mendominasi kekhawatiran investor dalam Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, pekan lalu. Perhatian para pejabat keuangan dan pelaku pasar global kini lebih banyak tertuju pada meningkatnya utang pemerintah, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta ketegangan geopolitik.
Mengutip laporan CNBC, Selasa (20/10/2026), perubahan perhatian tersebut terlihat dalam pembahasan berbagai risiko ekonomi global. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang banyak menyoroti persaingan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China, forum tahun ini lebih menekankan persoalan stabilitas keuangan internasional.
Presiden sekaligus CEO Institute of International Finance (IIF) Tim Adams, mengatakan China semakin jarang menjadi topik utama dalam percakapannya dengan pelaku keuangan selama berkunjung ke Singapura dan Bangkok.
Menurut Adams, hubungan AS dan China saat ini dipandang relatif stabil, meskipun sejumlah persoalan perdagangan belum terselesaikan. Kondisi tersebut turut memengaruhi persepsi investor terhadap risiko ekonomi China.
Meski demikian, investor masih berhati-hati terhadap investasi langsung di China. Sebaliknya, minat terhadap penawaran saham perdana perusahaan teknologi dan obligasi China tetap kuat, didukung pergerakan mata uang yuan yang relatif stabil.
Sementara itu, IMF memperingatkan meningkatnya risiko keuangan akibat besarnya investasi AI dan akumulasi utang negara maju. Pembiayaan pengembangan teknologi melalui pinjaman berpotensi meningkatkan persaingan memperoleh modal dan mendorong biaya pinjaman.
IMF juga menilai kegagalan investasi AI dalam menghasilkan peningkatan produktivitas sesuai harapan dapat menimbulkan tekanan ekonomi. Negara-negara yang memiliki posisi penting dalam rantai pasok AI, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, dinilai memiliki prospek lebih baik dibandingkan negara yang belum memperoleh manfaat teknologi tersebut.
Direktur Boston University Global Development Policy Center, Kevin Gallagher, turut mengingatkan pentingnya koordinasi kebijakan antara IMF, Federal Reserve AS, dan Bank Sentral China untuk menghindari meningkatnya ketidakstabilan ekonomi global.
Persoalan utang AS juga menjadi perhatian. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat belum cukup menjamin keberlanjutan fiskal AS, mengingat utang federal negara tersebut telah melampaui USD 40 triliun.
Selain masalah ekonomi, perang Rusia-Ukraina kembali memicu ketegangan dalam pertemuan tersebut. Sejumlah delegasi dilaporkan meninggalkan ruang pertemuan International Monetary and Financial Committee (IMFC) ketika Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov menyampaikan pidatonya.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Gubernur Bank Sentral China, Pan Gongsheng, mendorong IMF memperkuat pengawasan terhadap risiko fiskal negara-negara maju. Ia juga menyerukan perbaikan anggaran bagi negara dengan defisit besar, serta peningkatan konsumsi dan investasi di negara-negara yang memiliki surplus.