Kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan China untuk memperpanjang trade truce atau gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2027 memperlihatkan bahwa persaingan ekonomi kedua negara memasuki fase yang lebih terkendali. Kesepakatan ini tidak menunjukkan bahwa konflik perdagangan telah selesai, melainkan memperlihatkan adanya upaya dari Washington dan Beijing untuk mengatur perbedaan agar tidak berkembang menjadi perang dagang yang lebih luas.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa kedua negara telah menyepakati perpanjangan gencatan perdagangan setelah pembicaraan dengan pejabat China pada 23 September 2026. Menurut Reuters, Bessent mengatakan bahwa pertemuan tersebut diarahkan untuk mencari kesepakatan yang lebih besar, bukan hanya mempertahankan sejumlah pengaturan sementara yang telah berjalan.
Jika dilihat dari perspektif ekonomi, keputusan memperpanjang gencatan dagang menunjukkan adanya kepentingan bersama yang membatasi konflik terbuka. AS dan China memang berada dalam persaingan ekonomi yang semakin kuat, tetapi hubungan perdagangan keduanya masih memiliki nilai strategis yang besar. Konflik berkepanjangan tidak hanya memberikan tekanan kepada pihak lawan, tetapi juga dapat menciptakan dampak ekonomi bagi negara yang mengambil kebijakan tersebut.
Hubungan AS-China saat ini berada dalam kondisi yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, kedua negara berusaha memperkuat posisi ekonominya masing-masing. Di sisi lain, keduanya masih memiliki keterkaitan melalui perdagangan, investasi, dan rantai pasok industri. Bagi China, stabilitas perdagangan dengan AS memiliki arti penting karena ekonomi China sangat bergantung pada kemampuan industrinya mempertahankan pasar ekspor. Kekuatan manufaktur China dibangun melalui kapasitas produksi besar dan keterhubungan dengan pasar global. Gangguan perdagangan dengan AS dapat memberikan tekanan terhadap perusahaan dan sektor industri yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi China.
Namun, ketergantungan tersebut bukan hanya berada pada pihak China. AS juga memiliki kepentingan untuk menjaga agar hubungan ekonomi tidak mengalami gangguan besar. Meskipun Washington berupaya mengurangi risiko ketergantungan terhadap China, banyak sektor ekonomi AS masih memiliki keterkaitan dengan jaringan produksi global yang melibatkan perusahaan China.
Kondisi inilah yang membuat perang dagang menjadi pilihan yang penuh perhitungan. Tarif dapat digunakan sebagai alat tekanan untuk memengaruhi kebijakan negara lain, tetapi kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap pelaku usaha dan konsumen domestik. Karena itu, kedua negara memiliki alasan untuk mempertahankan jalur negosiasi meskipun perbedaan kepentingan tetap berlangsung. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian AS adalah pemenuhan komitmen perdagangan China. Scott Bessent menyatakan bahwa China telah memenuhi pembelian kedelai sebesar 25 juta ton, tetapi masih memiliki kewajiban lain terkait pembelian produk pertanian senilai 17 miliar dolar AS.
Bagi Washington, persoalan tersebut bukan hanya mengenai nilai transaksi perdagangan. Komitmen pembelian menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa kesepakatan yang dibuat benar-benar memberikan hasil sesuai dengan kepentingan AS. Dengan kata lain, perdagangan menjadi instrumen untuk memperoleh kepastian dan pengaruh dalam hubungan ekonomi bilateral. Sementara itu, bagi Beijing, mempertahankan stabilitas perdagangan memberikan ruang untuk menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi. China memiliki kepentingan agar hubungan dagang dengan AS tidak kembali memasuki fase eskalasi tarif yang dapat mengganggu iklim bisnis dan perdagangan internasional.
Meski demikian, persoalan utama hubungan dagang AS–China tidak berhenti pada tarif maupun pembelian produk tertentu. Konflik yang lebih mendalam berkaitan dengan persaingan kemampuan industri. AS melihat kekuatan manufaktur China sebagai tantangan terhadap industri domestiknya, terutama ketika produk China semakin kompetitif di berbagai pasar. Sebaliknya, China menilai keberhasilan industrinya merupakan hasil dari pembangunan kapasitas produksi, investasi, dan efisiensi manufaktur. Beijing juga memandang berbagai pembatasan perdagangan sebagai bentuk protectionism atau proteksionisme yang dapat menghambat perdagangan.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa konflik ekonomi AS-China bukan hanya persoalan perdagangan barang, tetapi juga mengenai bagaimana kedua negara melihat aturan persaingan ekonomi. AS berusaha memastikan industrinya tetap memiliki ruang untuk berkembang, sementara China berusaha mempertahankan keunggulan manufakturnya. Dalam situasi tersebut, perpanjangan gencatan dagang menjadi pilihan yang realistis bagi kedua pihak. AS tetap dapat mempertahankan tekanan melalui mekanisme negosiasi, sedangkan China memperoleh kepastian sementara untuk menjaga stabilitas perdagangan. Tidak ada pihak yang sepenuhnya mengubah posisi, tetapi keduanya memperoleh ruang untuk menghindari konflik yang lebih besar.
Kesepakatan dagang AS-China menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara kini berjalan dalam dua arah sekaligus: kerja sama dan persaingan. Gencatan dagang bukanlah tanda bahwa konflik telah berakhir, tetapi cara bagi kedua negara untuk mengelola perbedaan kepentingan. Selama hubungan ekonomi AS dan China masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi, negosiasi akan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan perdagangan. Tantangan terbesar bagi keduanya bukan hanya mencapai kesepakatan sementara, tetapi menemukan cara untuk mengelola persaingan tanpa menciptakan tekanan ekonomi yang lebih besar.