Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 September 2026 untuk membentuk AI Force dan menunjuk AI czar menandai babak baru dalam politik teknologi Amerika Serikat, bukan semata karena munculnya struktur baru, melainkan karena kebijakan itu lahir ketika perdebatan tentang kecepatan pengembangan kecerdasan buatan semakin tajam. Reuters melaporkan bahwa Trump belum menjelaskan struktur, anggaran, maupun kewenangan badan tersebut, tetapi menegaskan pemerintahannya tidak akan menghambat pertumbuhan industri AI dan akan menggunakan sistem hukum pidana serta perdata yang telah ada untuk menangani penyalahgunaan. Sikap ini memperlihatkan bahwa AI kini diposisikan bukan hanya sebagai teknologi, tetapi juga sebagai instrumen daya saing ekonomi dan keamanan nasional.
Arah tersebut sebenarnya konsisten dengan kebijakan yang lebih dahulu dibangun Gedung Putih. Melalui Winning the AI Race: America’s AI Action Plan pada Juli 2025, pemerintah Amerika menetapkan lebih dari 90 langkah federal yang bertumpu pada percepatan inovasi, pembangunan infrastruktur AI, serta kepemimpinan dalam diplomasi dan keamanan internasional. Perintah eksekutif Januari 2025 juga secara eksplisit menempatkan kepemimpinan global AI Amerika sebagai kepentingan ekonomi dan keamanan nasional. Dengan demikian, gagasan AI Force tidak muncul dari ruang kosong, tetapi mempertegas cara pandang bahwa kemampuan AI semakin diperlakukan sebagai bagian dari kompetisi strategis negara.
Gagasan David Collingridge mengenai dilemma of control menjelaskan bahwa ketika sebuah teknologi masih berada pada tahap awal dan relatif mudah diarahkan, dampak sosialnya belum sepenuhnya diketahui. Sementara ketika dampak negatif mulai terlihat dengan jelas, teknologi sering telah terintegrasi begitu dalam ke dalam ekonomi dan masyarakat sehingga pengendaliannya menjadi jauh lebih sulit dan mahal. Genus dan Stirling dalam Research Policy kemudian menunjukkan bahwa gagasan ini tetap penting bagi tata kelola inovasi modern karena kebijakan teknologi membutuhkan kemampuan antisipasi, akuntabilitas, dan penyesuaian institusional sejak dini.
Perkembangan AI saat ini memperbesar persoalan tersebut karena kemampuan teknologi bergerak lebih cepat dibanding instrumen evaluasinya. Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa model terdepan memperoleh peningkatan sekitar 30 poin persentase hanya dalam satu tahun pada Humanity’s Last Exam, sebuah tolok ukur yang dirancang untuk menantang kemampuan model canggih. Ketika kemampuan berkembang secepat itu, pemerintah menghadapi situasi yang rumit yakni regulasi yang terlalu dini dapat membatasi inovasi yang manfaat dan arah perkembangannya belum sepenuhnya diketahui, tetapi regulasi yang terlalu terlambat dapat membuat risiko telanjur tertanam dalam sistem ekonomi, keamanan, pendidikan, informasi, dan infrastruktur publik.
Perdebatan di dalam industri AI sendiri menunjukkan bahwa pilihan kebijakan tidak sesederhana antara mendukung teknologi dan menolak teknologi. CEO Anthropic Dario Amodei pada September 2026 menyerukan agar pengembangan model terdepan diperlambat sehingga evaluasi keselamatan dapat mengejar kemampuan teknologi, sementara Sam Altman dan Elon Musk turut mendukung seruan kehati-hatian tersebut. Reuters juga mencatat bahwa sebagian pemimpin industri lain, termasuk Mark Zuckerberg, tidak mendukung perlambatan terkoordinasi dan lebih memilih mekanisme pengamanan yang dikembangkan masing-masing perusahaan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku yang sama-sama berkepentingan terhadap kemajuan AI belum memiliki kesepakatan mengenai batas kecepatan yang dianggap aman.
Kekhawatiran terhadap risiko juga tidak hanya datang dari aktivis atau kelompok yang menolak teknologi. National Institute of Standards and Technology Amerika Serikat masih mempertahankan AI Risk Management Framework untuk membantu pengembang, pengguna, dan evaluator mengidentifikasi risiko terhadap individu, organisasi, masyarakat, serta lingkungan. Pada 2026, NIST bahkan sedang merevisi kerangka tersebut dalam konteks AI Action Plan dan mengembangkan pendekatan Test, Evaluation, Verification, and Validation untuk menilai dampak sistem AI dalam penggunaan nyata. Fakta ini menunjukkan bahwa kebijakan pro-inovasi dan manajemen risiko sebenarnya tidak harus diposisikan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan.
Persaingan dengan Tiongkok menjadikan persoalan tersebut semakin strategis karena Trump berulang kali mengaitkan pembatasan AI dengan risiko hilangnya keunggulan teknologi Amerika. AI Action Plan Amerika juga secara eksplisit mendorong ekspor paket AI lengkap mulai dari perangkat keras, model, perangkat lunak, aplikasi, hingga standar kepada sekutu dan mitra. Dengan struktur seperti ini, kecepatan inovasi memiliki nilai geopolitik yang nyata. Namun, ketika kompetisi antarnegara menjadi alasan utama untuk terus mempercepat teknologi, terdapat risiko bahwa standar keselamatan dinilai terutama melalui pertanyaan “siapa lebih cepat”, bukan “seberapa terkendali teknologi yang dihasilkan”.
Pembentukan AI Force bermakna apabila tidak hanya berfungsi sebagai simbol dukungan terhadap industri, tetapi menjadi institusi yang mampu menghubungkan inovasi dengan evaluasi risiko yang dapat diuji. Persoalannya bukan apakah Amerika harus memperlambat seluruh perkembangan AI, melainkan apakah setiap peningkatan kemampuan model diikuti mekanisme pengujian independen, transparansi insiden, perlindungan infrastruktur kritis, pertanggungjawaban pengembang, serta prosedur koreksi ketika sistem menunjukkan perilaku berbahaya. Pendekatan seperti ini tidak mengharuskan negara mematikan inovasi, tetapi memastikan bahwa akselerasi teknologi tetap berada dalam batas yang dapat diawasi.
Pengalaman Amerika tersebut memberi pelajaran yang lebih luas karena kompetisi AI global kemungkinan akan terus mendorong negara dan perusahaan berlomba meningkatkan kemampuan model, komputasi, data, dan infrastruktur. Ketika kecepatan menjadi ukuran utama keberhasilan, tata kelola berisiko selalu datang setelah teknologi menghasilkan konsekuensi yang sulit diperbaiki. Sebaliknya, apabila kehati-hatian diterjemahkan menjadi larangan yang kaku, peluang ekonomi dan ilmiah juga dapat terhambat. Tantangan kebijakan AI karena itu bukan memilih antara gas atau rem, melainkan membangun kemudi, panel kendali, dan sistem pengereman yang berkembang secepat mesinnya. AI Force pada akhirnya akan dinilai bukan dari seberapa keras ia menjaga laju industri, tetapi dari kemampuannya memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berada di bawah kendali manusia.