Selama ini, hubungan internasional identik dengan persaingan antarnegara. Kekuatan suatu negara diukur melalui pertumbuhan ekonomi, kemampuan militer, luas wilayah, atau jumlah penduduk. Cara pandang tersebut masih relevan, tetapi tidak lagi cukup menjelaskan dinamika global saat ini. Globalisasi telah melahirkan pusat-pusat ekonomi baru yang tidak selalu direpresentasikan oleh negara, melainkan oleh kota. Kota menjadi ruang berkumpulnya perusahaan multinasional, lembaga keuangan, pusat inovasi, hingga talenta terbaik dunia. Akibatnya, daya saing sebuah negara semakin ditentukan oleh kualitas kota-kota yang dimilikinya.
China merupakan salah satu negara yang paling cepat menangkap perubahan tersebut. Dalam 14th Five-Year Plan (2021–2025), pemerintah menempatkan urbanisasi berkualitas, inovasi teknologi, dan pembangunan kawasan metropolitan sebagai bagian dari strategi nasional. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan kota bukan lagi sekadar kebijakan domestik, melainkan instrumen untuk memperkuat posisi China dalam ekonomi global.
Merujuk pada teori Global City, Saskia Sassen menjelaskan bahwa globalisasi justru memperbesar peran kota karena pusat-pusat keuangan, teknologi, dan jasa semakin terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Dalam perspektif ini, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh pemerintah pusat, tetapi juga oleh kemampuan kota-kotanya menjadi simpul ekonomi dunia.
Strategi China tidak berfokus pada pembangunan kota yang seragam. Sebaliknya, setiap kota diberi fungsi ekonomi yang berbeda sehingga membentuk jaringan yang saling melengkapi. Pendekatan tersebut membuat kota-kota di China tidak saling berebut peran, tetapi bersama-sama memperkuat daya saing nasional.
Shanghai menjadi contoh paling jelas dari strategi tersebut karena kota ini diarahkan sebagai pusat keuangan internasional melalui pengembangan pasar modal, perdagangan internasional, dan layanan jasa keuangan. Menurut Global Financial Centres Index (GFCI) 37 yang diterbitkan Z/Yen Group bersama China Development Institute, Shanghai secara konsisten berada dalam kelompok pusat keuangan paling kompetitif di dunia bersama New York, London, Singapura, dan Hong Kong. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Shanghai telah menjadi bagian dari arsitektur keuangan global, bukan hanya pusat bisnis nasional.
Apabila Shanghai berperan sebagai pusat finansial, Shenzhen dikembangkan sebagai mesin inovasi. Kota ini menjadi rumah bagi perusahaan teknologi seperti Huawei, Tencent, DJI, dan BYD yang berkontribusi besar terhadap transformasi ekonomi China. Keunggulan Shenzhen tidak hanya berasal dari investasi pemerintah, tetapi juga dari ekosistem yang mempertemukan industri, universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan rintisan. Menurut World Intellectual Property Organization (WIPO) melalui Global Innovation Index, kawasan Shenzhen–Hong Kong-Guangzhou termasuk salah satu klaster inovasi paling produktif di dunia berdasarkan aktivitas penelitian dan paten.
Peran yang berbeda dijalankan oleh Hong Kong meskipun menghadapi berbagai dinamika politik dalam beberapa tahun terakhir, kota ini tetap menjadi salah satu pusat keuangan internasional yang penting bagi arus investasi menuju China. Infrastruktur keuangan yang matang, sistem hukum yang dikenal luas oleh pelaku bisnis internasional, serta konektivitas dengan pasar global menjadikan Hong Kong tetap memiliki posisi strategis dalam perekonomian dunia.
Ketiga kota tersebut memperlihatkan bahwa Beijing membangun kekuatan nasional melalui pembagian fungsi yang jelas. Shanghai menarik modal internasional, Shenzhen menghasilkan inovasi, sementara Hong Kong menjadi penghubung dengan pasar global. Model ini berbeda dengan banyak negara yang masih memusatkan hampir seluruh aktivitas ekonomi pada ibu kota. China justru membangun beberapa pusat pertumbuhan dengan spesialisasi yang berbeda sehingga lebih adaptif menghadapi perubahan ekonomi dunia.
Perspektif Saskia Sassen menjelaskan mengapa strategi ini efektif. Global city adalah kota yang menjadi pusat pengambilan keputusan ekonomi internasional, tempat bertemunya perusahaan multinasional, lembaga keuangan, teknologi, dan jaringan informasi global. Dengan demikian, pengaruh sebuah negara semakin ditentukan oleh kemampuan kota-kotanya mengendalikan arus modal, pengetahuan, dan inovasi lintas negara.
Pergeseran ini juga mengubah makna geopolitik di mana pada masa lalu, negara berlomba membangun kekuatan militer dan memperluas pengaruh wilayah. Kini, persaingan berlangsung melalui kemampuan menghadirkan kota yang mampu menarik investasi, perusahaan teknologi, pusat riset, dan sumber daya manusia berkualitas. Bursa saham, kawasan inovasi, pelabuhan modern, hingga pusat data menjadi arena baru dalam kompetisi internasional.
Walaupun demikian, pembangunan kota global bukan tanpa konsekuensi. Tingginya harga properti, biaya hidup, serta kesenjangan ekonomi menjadi tantangan yang mulai dirasakan di Shanghai, Shenzhen, maupun Hong Kong. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kota tidak cukup diukur dari besarnya investasi atau jumlah perusahaan yang hadir, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kualitas hidup masyarakat. Kota yang gagal mengelola persoalan tersebut berisiko kehilangan daya tariknya dalam jangka panjang.
Kebangkitan China memperlihatkan bahwa pusat persaingan internasional semakin bergeser dari negara menuju kota. Shanghai, Shenzhen, dan Hong Kong menunjukkan bahwa kota bukan lagi sekadar pelaksana kebijakan nasional, tetapi telah menjadi instrumen strategis dalam membangun pengaruh ekonomi global. Globalisasi melahirkan kota-kota yang berfungsi sebagai simpul utama arus modal, teknologi, dan inovasi. Pengalaman China memperlihatkan bagaimana konsep tersebut diterapkan secara nyata melalui pembagian fungsi antarkota yang terencana dan saling melengkapi.
Kekuatan China tidak hanya lahir dari besarnya ekonomi nasional, tetapi juga dari kemampuannya membangun kota-kota yang mampu bersaing di panggung dunia. Pergeseran inilah yang menunjukkan bahwa geopolitik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh negara, melainkan juga oleh kota-kota yang menjadi pusat lahirnya inovasi, investasi, dan keputusan ekonomi global.