China Tidak Lagi Percaya Globalisasi
China adalah salah satu negara yang paling besar diuntungkan oleh globalisasi. Sejak bergabung dengan World Trade Organization (WTO) pada 2001, China tumbuh menjadi pusat manufaktur dunia, menarik investasi asing, membangun jaringan ekspor raksasa, dan mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan. Namun kini arahnya berubah, China tidak sepenuhnya meninggalkan globalisasi, tetapi mulai tidak lagi mempercayainya sebagai fondasi utama keamanan ekonomi nasional. Negara dapat menjadi rentan jika terlalu bergantung pada sistem ekonomi global yang dikendalikan oleh kekuatan luar. Dalam teori dependensi, ketergantungan pada pasar, teknologi, modal, atau rantai pasok asing bisa menjadi sumber kelemahan strategis. Jika akses terhadap teknologi, komponen penting, atau pasar luar negeri terganggu, negara yang bergantung akan kehilangan ruang gerak.
China dulu memakai globalisasi untuk tumbuh, namun setelah perang dagang, pembatasan teknologi, pandemi, dan konflik geopolitik, Beijing melihat globalisasi bukan hanya peluang, tetapi juga risiko. Karena itu, China mendorong strategi self-reliance atau kemandirian strategis. Perubahan ini terlihat jelas dalam strategi dual circulation. Dalam dokumen resmi Rencana Lima Tahun ke-14, China menyatakan akan memberi prioritas pada sirkulasi domestik, membangun pasar domestik yang kuat, dan mendorong hubungan positif antara sirkulasi domestik dan internasional. Artinya, China masih memakai perdagangan global, tetapi pusat gravitasi ekonominya diarahkan kembali ke dalam negeri.
Ini penting karena globalisasi klasik bekerja dengan logika saling ketergantungan. Negara memproduksi apa yang paling efisien, lalu membeli sisanya dari luar. Namun China mulai memakai logika berbeda dengan menganggap efisiensi tetap penting, tetapi keamanan lebih penting. Jika komponen utama, data, teknologi, dan pasar terlalu bergantung pada luar negeri, maka ekonomi dianggap tidak aman. Pada Maret 2024, Cyberspace Administration of China menerbitkan aturan tentang arus data lintas batas. Aturan itu mengatur standar deklarasi untuk penilaian keamanan data lintas batas dan menetapkan skenario yang dikecualikan dari penilaian keamanan. Pada September 2024, China juga menerbitkan regulasi manajemen keamanan data jaringan yang memperjelas syarat ketika pemroses data dapat memberikan informasi pribadi kepada pihak luar negeri.
Secara resmi, China menyebut kebijakan ini sebagai standarisasi dan perlindungan keamanan data. Namun dalam perspektif ekonomi-politik, ini menunjukkan bahwa data tidak lagi diperlakukan sebagai arus bebas global. Data dipandang sebagai aset strategis yang harus dikendalikan negara. Bagi perusahaan asing, ini menciptakan kepastian aturan, tetapi juga menambah batas kepatuhan di sisi lain. Kemudian perubahan kedua terlihat dari investasi asing, data Kementerian Perdagangan China menunjukkan bahwa foreign direct investment yang benar-benar digunakan di China pada 2024 mencapai 826,25 miliar yuan, turun 27,1% secara tahunan. Pada saat yang sama, jumlah perusahaan asing baru tetap naik 9,9% menjadi 59.080 perusahaan.
Data ini menunjukkan gambaran yang tidak sederhana. China tidak menutup diri sepenuhnya, karena perusahaan asing masih masuk untuk investasi akan tetapi nilai investasi yang benar-benar masuk turun tajam. Jadi, masalahnya bukan “China anti-asing” secara mutlak, melainkan China semakin selektif: investasi asing diterima, tetapi dalam kerangka yang lebih dikendalikan lebih sesuai prioritas negara dan lebih sensitif terhadap keamanan nasional. Paradoksnya pemerintah China tetap menyatakan ingin membuka pasar. Pada 2025, Kementerian Perdagangan China menyatakan mendorong keterbukaan dan mempermudah akses pasar meskipun data resmi juga mencatat Foreign Direct Investment (FDI 2024) turun 27,1%. Ini menunjukkan dua pesan berjalan bersamaan China ingin tetap menarik modal global, tetapi tidak ingin bergantung pada globalisasi lama.
Perubahan ketiga adalah dorongan membangun rantai pasok sendiri. China semakin menekankan kemandirian teknologi, terutama dalam chip, kecerdasan buatan, energi baru, manufaktur maju, dan teknologi inti. Pada Februari 2026, Xi Jinping menyebut self-reliance dan kekuatan sains-teknologi sebagai “kunci” untuk membangun China menjadi negara sosialis modern yang besar. Pada Maret 2026, laporan kerja pemerintah China juga menyatakan bahwa China akan mempercepat terobosan teknologi inti dan memperkuat self-reliance sains-teknologi. Dalam konteks teori dependensi, China sedang mengurangi kerentanan terhadap kekuatan luar. Ketika Amerika Serikat membatasi akses China ke chip canggih dan teknologi tertentu, Beijing makin yakin bahwa globalisasi bisa dipakai sebagai senjata. Maka jawabannya adalah memperkuat kapasitas sendiri.
Namun, mengatakan China “tidak lagi percaya globalisasi” perlu diberi batas, artinya China tidak benar-benar keluar dari globalisasi. China masih menjadi eksportir besar, masih menarik perusahaan asing, dan masih mendorong perdagangan lintas batas. Misalnya, data bea cukai China menunjukkan perdagangan e-commerce lintas batas mencapai 1,22 triliun yuan pada paruh pertama 2024, naik 10,5% secara tahunan. Jadi yang berubah bukan keterlibatan China dalam globalisasi, melainkan cara China memaknai globalisasi. Dulu globalisasi dilihat sebagai jalan utama menuju pertumbuhan. Sekarang globalisasi dilihat sebagai ruang yang berguna, tetapi berbahaya jika tidak dikendalikan. China tetap ingin menjual ke dunia, menarik teknologi, dan memakai pasar global. Namun China tidak ingin nasib ekonominya ditentukan oleh akses asing, aturan asing, atau tekanan geopolitik asing.
China menjadi raksasa ekonomi karena globalisasi tetapi setelah menjadi kuat, China justru semakin curiga pada sistem yang membesarkannya. Hal tersebut mencerminkan perubahan zaman ketika globalisasi tidak lagi dipercaya sebagai sistem netral, melainkan medan kompetisi kekuasaan. Jika China membangun rantai pasok sendiri, negara lain juga akan melakukan hal yang sama. Misalnya Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, India, dan negara lain akan semakin berbicara tentang de-risking, friend-shoring, dan keamanan ekonomi. Akibatnya, globalisasi tidak hilang tetapi berubah menjadi globalisasi yang lebih terfragmentasi. China tidak sedang menutup diri total karena yang terjadi adalah China sedang mengganti globalisasi terbuka dengan globalisasi terkendali. Mulai dari data, modal asing, rantai pasok, dan teknologi tetap penting, tetapi semuanya ditempatkan di bawah logika keamanan nasional. Langkah ini dapat dipahami sebagai usaha mengurangi ketergantungan, namun memberikan konsekuensi bahwa dunia makin jauh dari era globalisasi bebas, dan makin dekat ke era ekonomi geopolitik.