Pada 28 Juli 2026, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Amerika Serikat Elbridge Colby menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa Amerika Serikat sedang melakukan kajian komprehensif yang meninjau tujuan pengerahan aset militer mereka ke negara Eropa. Kajian ini dilakukan satu bulan setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat Pete Hegseth menyampaikan pidato dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang mendesak Eropa untuk membangun ulang pertahanan mereka. Wamenhan Colby menambahkan dengan pernyataan di media sosial X/Twitter kajian ini diharapkan dapat mempercepat transisi NATO menjadi aliansi yang lebih adil dan berkelanjutan. Selain itu, Colby menyatatakan bahwa Departemen Pertahanan (DoD) akan bekerja sama dengan Panglima NATO Jenderal Alexus Grynkewich dan pemangku kepentingan terkait untuk mendiskusikan implementasi kajian.
Dilansir dari Stars and Stripes, kajian ini akan mencakup analisa tentang dinamika geopolitik, militer, dan skenario kemungkinan di berbagai kawasan dunia untuk menentukan bagaimana Amerika Serikat dapat menggunakan kekuatan yang mereka miliki secara optimal. Menurut Jenderal Alexus, salah satu hal yang dapat menentukan kajian ini adalah skenario yang mana Amerika Serikat menghadapi perang terbuka dengan China dan Rusia sekaligus. Untuk menghadapi kemungkinan tersebut, Amerika Serikat akan membutuhkan semua pasukan, sistem persenjataan, dan amunisi yang tersedia untuk melawan gempuran pasukan Rusia dan China. Sementara itu Wamenhan Colby menyatakan bahwa kajian ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat transisi NATO menjadi aliansi yang lebih kuat, tahan lama, dan mampu dalam menghadapi ancaman di berbagai belahan dunia.
Dilakukannya kajian ini merupakan bagian dari kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengurangi pengerahan pasukan AS ke Eropa dengan mendorong negara anggota NATO untuk meningkatkan postur pertahanan mereka. Hal ini dilakukan karena Presiden Trump menganggap burden sharing antara Eropa dan Amerika Serikat tidak adil karena Militer AS memiliki beban lebih besar dalam menjaga wilayah tersebut. Pandangan ini dikonfirmasi oleh Menhan Pete Hegseth dalam KTT NATO bulan Juni yang mana beliau menyatakan terdapat beberapa negara anggota yang masih menjadi penumpang gratis aliansi.