Pemerintah Jepang melaporkan bahwa angkatan laut China melaksanakan latihan militer menggunakan kapal induk di kawasan Samudra Pasifik, tepatnya di sebelah timur Filipina, pada akhir Mei 2026. Aktivitas tersebut dipusatkan pada kapal induk Liaoning, yang beroperasi bersama sejumlah kapal pengawal dan melakukan latihan intensif berupa lepas landas serta pendaratan pesawat tempur dan helikopter di laut lepas. Latihan ini berlangsung antara 26 hingga 28 Mei dan menjadi bagian dari meningkatnya aktivitas maritim China di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, kelompok kapal induk China tersebut terpantau berada di wilayah perairan Pasifik bagian barat dan sempat bergerak hingga sekitar 590 kilometer dari Pulau Miyakojima, salah satu pulau strategis di Jepang bagian selatan. Dalam periode latihan itu, Jepang mencatat sekitar 170 kali aktivitas penerbangan berupa lepas landas maupun pendaratan pesawat dan helikopter dari kapal induk tersebut. Setelah latihan selesai, Liaoning dilaporkan bergerak ke arah tenggara wilayah Filipina.
Kementerian Pertahanan Taiwan juga menyatakan terus memantau pergerakan kapal induk China tersebut. Pemerintah Taiwan menilai aktivitas ini penting diperhatikan karena sebelumnya Liaoning tercatat melintasi Selat Taiwan, yang disebut sebagai kali pertama sejak Desember kapal induk China melewati kawasan tersebut. Kehadiran kapal induk di wilayah strategis dekat Taiwan dipandang memiliki implikasi keamanan regional, terutama di tengah meningkatnya dinamika geopolitik Asia Timur.
Peningkatan aktivitas militer China di laut juga terjadi di tengah menguatnya kerja sama pertahanan antara Jepang, Filipina, dan Amerika Serikat. Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara tersebut meningkatkan latihan bersama serta koordinasi keamanan maritim, terutama di wilayah yang memiliki sengketa geopolitik dan jalur perdagangan internasional penting. Beijing secara konsisten mengkritik penguatan kerja sama keamanan antara Jepang, Filipina, dan Amerika Serikat karena dinilai berpotensi memperbesar ketegangan kawasan. Sementara itu, ketiga negara tersebut menegaskan bahwa berbagai latihan bersama dan koordinasi pertahanan dilakukan untuk mendukung stabilitas regional serta keamanan jalur maritim.
Selain latihan kapal induk di timur Filipina, China dalam beberapa waktu terakhir juga meningkatkan patroli dan aktivitas keamanan laut di sekitar kawasan yang berdekatan dengan Taiwan dan Laut China Selatan. Langkah ini dipandang sejumlah pihak sebagai bagian dari strategi Beijing memperkuat pengaruh dan kesiapan militernya di kawasan Indo-Pasifik, di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan persaingan keamanan regional.