Pada 28 Februari 2026, dunia dikejutkan ketika koalisi Amerika Serikat-Israel melancarkan serangan dadakan terhadap infrastruktur, fasilitas pemerintah, industri pertahanan, markas militer, dan persenjataan strategis Republik Islam Iran. Akibat dari serangan dadakan ini, pemimpin tertinggi (Ayatollah) Iran, Ali Khamenei, Menteri Pertahanan (Menhan) Azis Nazirsadeh, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Reguler Iran (Artesh) Abdolrahim Mousavi, Komandan Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) Mahmoud Pakpour, serta berbagai petinggi militer dan sipil lainnya tewas. Tidak lama setelah serangan dadakan tersebut, Iran melancarkan Operasi Janji Sejati IV (True Promise IV) dengan meluncurkan drone kamikaze Shahed-136, rudal balistik jarak menengah (MRBM) Khorramshar dan Fattah, serta rudal hipersonik Kheibar ke berbagai target di Israel dan kawasan Arabia. Serangan ini telah berhasil menghantam beberapa instalasi dan fasilitas strategis seperti radar AN/TPY-2 yang digunakan sistem terminal high altitude area defense (THAAD) di Jordania, radar pelacak rudal balistik AN/FPS-132 di Qatar, pusat komando armada laut ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) di Bahrain, dan Bandara Udara David Ben Gurion di Israel.
Serangan balasan ini merupakan kejutan besar bagi Amerika Serikat dan Israel karena IRGC dan Artesh melakukan aksi tersebut dalam jeda waktu cukup pendek dan dengan intensitas yang cukup tinggi. Serangan tersebut juga berhasil menembus pertahanan udara Arrow dan Iron Dome Israel yang pada akhirnya menghantam berbagai target di kota Tel Aviv dan Haifa. Seluruh hal tersebut telah menunjukkan bahwa pertahanan anti-rudal balistik yang dikerahkan oleh Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah, tidak mampu sepenuhnya membendung serangan rudal balistik yang dilancarkan Iran. Drone Shahed yang digunakan ternyata memiliki efek force multiplier lebih besar dari yang diperkirakan karena persenjataan ini berhasil merusak atau menghancurkan beberapa aset strategis yang digunakan untuk melacak dan mencegat rudal balistik. Hal ini membentuk sebuah anggapan bahwa Amerika Serikat belum siap menghadapi ancaman drone kamikaze karena pertahanan udara yang ada tidak dapat menghentikan drone Shahed walaupun persenjataan tersebut memiliki kecepatan lambat.
Selain itu terdapat juga isu trade-off yang tidak setimpal karena drone Shahed memiliki harga yang relatif murah yakni sekitar USD 30-50 ribu sementara rudal yang digunakan untuk mencegatnya memiliki harga sekitar USD 3,7 juta. Ketimpangan harga ini merupakan sebuah dilema bagi Amerika Serikat dan Israel karena walaupun mereka dapat menjatuhkan sebagian besar drone Shahed menggunakan rudal canggih, waktu yang dibutuhkan untuk memasok ulang persediaan persenjataan tersebut ke level memadai membutuhkan waktu lama. Faktor ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari karena produksi persenjataan canggih membutuhkan komponen teknologi tinggi dan mesin presisi tinggi.
Di sisi lain, ketimpangan ini merupakan sebuah keuntungan komparatif bagi Iran dari segi economy of force karena drone Shahed juga memiliki peran ganda yaitu sebagai umpan dan senjata penyerang. Dalam aspek umpan, drone Shahed yang diluncurkan dapat memaksa lawan yang bertahan untuk menghabiskan amunisi sistem pertahanan udara mereka. Setelah amunisi tersebut habis, Iran dapat meluncurkan rudal balistik Fattah atau Khorramshar untuk menghantam target vital tanpa harus mengkhawatirkan pencegatan dari sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot atau THAAD. Sementara itu dalam aspek senjata penyerang, drone Shahed dapat digunakan oleh Iran untuk menghancurkan target sekunder seperti kilang minyak, pipa gas, terminal LNG, dan infrastruktur sipil. Hal ini memiliki keuntungan bagi Iran karena dengan menyerang fasilitas tersebut mereka dapat memecah perhatian pasukan Amerika Serikat dan sekutunya sehingga mereka akan kesulitan mengetahui area yang akan diserang oleh rudal balistik Iran. Serangan tersebut juga dapat menggerus kekuatan ekonomi lawan karena dengan menyerang target seperti kilang minyak atau pipa gas menggunakan drone Shahed, harga minyak dunia akan meningkat secara pesat. Hal tersebut dapat mendorong Kongres dan elit politik Amerika untuk menekan Donald Trump agar dia mengakhiri perang tersebut.
Akan tetapi, keuntungan komparatif ini memiliki potensi sementara karena Amerika Serikat dan Israel sedang mengembangkan beberapa cara untuk menghadapi ancaman drone Shahed tanpa harus menghabiskan amunisi persenjataan canggih yang sulit diproduksi dalam waktu cepat. Salah satu cara yang digunakan oleh Amerika Serikat adalah dengan meminta bantuan Ukraina untuk menyediakan drone pencegat. Selain meminta drone pencegat, Amerika Serikat juga telah meminta Ukraina untuk mengirimkan spesialis anti-drone agar mereka dapat mengajarkan cara membangun sistem pencegatan drone Shahed efektif dengan menggunakan persenjataan yang cukup terjangkau. Namun perlu ditekankan bahwa upaya ini memerlukan waktu karena untuk menggunakan drone yang disediakan oleh Ukraina secara efektif, diperlukan pelatihan khusus prajurit yang akan menggunakannnya serta integrasi dengan sistem tempur pasukan terkait. Selama kedua hal tersebut belum tercapai, Amerika Serikat harus mengorbankan persediaan senjata strategis untuk mencegat drone Shahed.