Pada 18 Januari 2026, Pemerintah Transisi Suriah (STG) mengumumkan bahwa mereka telah menyepakati gencatan senjata baru dengan kelompok milisi Tentara Demokratik Suriah (SDF). Tidak lama setelah pengumuman tersebut, pemimpin SDF Mazloum Abdi menyatakan bahwa SDF menyepakati gencatan senjata dan tuntutan dari STG untuk meninggalkan Provinsi Raqqa dan Deir Ez-Zor yang sebagian besar memiliki penduduk etnis Arab. Presiden Ad Interim Suriah Ahmed Al-Sharaa juga menyatakan kepada jurnalis dalam konferensi pers bahwa gencatan senjata ini merupakan kemenangan bagi seluruh masyarakat Suriah. Setelah gencatan senjata tersebut disepakati oleh kedua belah pihak, Mazloum diantarkan ke Damaskus menggunakan helikopter Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi integrasi dengan Presiden Al-Sharaa.
Dalam pertemuan tersebut, Al-Sharaa mendesak Mazloum untuk mengintegrasikan SDF ke dalam struktur STG. Sebagai konsesi, Al-Sharaa menawarkan Mazloum posisi sebagai wakil menhan STG sementara perwira tinggi SDF dan pejabat sipil yang terafiliasi dengan Wilayah Otonom Utara dan Timur Suriah (AANES) akan mendapatkan jabatan dalam institusi negara. Akan tetapi, negosiasi ini gagal membuahkan hasil karena beberapa poin dalam kesepakatan baru tersebut bertentangan dengan perjanjian sebelumnya pada 4 Januari 2026. Selain itu SDF dan STG juga menyalahkan satu sama lain karena tidak lama setelah gencatan senjata disepakati, terjadi pertempuran antara kedua pasukan di sekitar wilayah Raqqa, Al-Hasakah, dan Kobani. Selain itu STG juga mengklaim bahwa SDF telah melepaskan napi dari kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dari Penjara Shaddadi. Namun SDF menolak klaim ini dan menyatakan bahwa penjara tersebut sudah berada di luar kendali mereka akibat dari serangan yang dilancarkan STG.
Sejak rezim Assad jatuh pada 8 Desember 2024, STG telah menghadapi kesulitan dalam mengkonsolidasikan kekuasaan mereka karena beberapa kelompok milisi seperti SDF dan Garda Nasional di Suwayda menguasai sebagian dari wilayah utara dan selatan di Negeri Al-Sham. Sebelumnya STG telah berupaya untuk mengintegrasikan kedua wilayah tersebut dengan membentuk kesepakatan antara SDF dan milisi Suwayda. Akan tetapi, kedua upaya tersebut gagal akibat dari berbagai faktor seperti ketidakpercayaan etnis Kurdi kepada STG, retorika provokatif, tuduhan pelanggaran, dan intervensi asing.