ISIS Klaim Serangan Bom Bunuh Diri di Restoran China di Kabul, Tewaskan 7 Orang
Pada Senin, 19 Januari 2026, terjadi sebuah serangan bom bunuh diri yang menargetkan restoran China di ibu kota Afghanistan, Kabul. Ledakan ini menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai belasan lainnya. Kelompok militan ISIS yang beroperasi di Afghanistan kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Ledakan terjadi di restoran yang terletak di dalam sebuah hotel di kawasan Shahr-e-Naw, sebuah distrik komersial yang biasanya dianggap salah satu area paling aman di kota dan menjadi lokasi perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kedutaan besar. Hal ini sekaligus menimbulkan tanda tanya besar mengenai keamanan di Kabul. Meskipun Taliban telah menguasai Afghanistan sejak 2021 dan berjanji akan mengembalikan keamanan, serangan semacam ini masih sering terjadi, khususnya oleh kelompok ISIS cabang Afghanistan.
ISIS cabang Afghanistan tersebut menyatakan klaimnya atas serangan yang terjadi dan menyampaikan bahwa serangan itu dilakukan oleh seorang pelaku bom bunuh diri. Dalam pernyataannya, kelompok ini menyatakan telah menempatkan warga China dalam daftar target mereka. Mereka mengaitkan serangan tersebut dengan menyebutnya sebagai balasan atas kejahatan pemerintah China terhadap Uighur.
Organisasi kemanusiaan internasional EMERGENCY, yang memiliki fasilitas medis di dekat lokasi, mengatakan pihaknya telah menerima 20 orang korban ke pusat bedah mereka, tujuh diantaranya sudah meninggal saat tiba di rumah sakit. Delapan belas lainnya mengalami luka-luka, termasuk empat wanita dan satu anak.
Sebelumnya, serangan terhadap target warga China sudah pernah terjadi di Afghanistan. Pada tahun 2025, sebuah warga China tewas dalam serangan yang diklaim oleh ISIS di wilayah utara negara tersebut, yang sempat memicu kecaman dari pemerintah China.
Meski Taliban mengklaim telah meredam sebagian besar aktivitas kelompok militan, situasi keamanan di Afghanistan masih rapuh; ancaman dari ISIS tetap nyata. Selain itu, serangan ini tidak hanya memperlihatkan tantangan keamanan yang masih dihadapi Afghanistan, tetapi juga risiko yang dihadapi diaspora di luar negeri, khususnya di wilayah konflik.