Pada 3 Januari 2026 Ketua Dewan Transisi Yaman (STC) Aidarous al Zoubeidi mengumumkan dalam sebuah video bahwa STC akan merancang konstitusi baru sebagai bentuk dari persiapan pembentukan negara baru di bagian selatan Yaman. Dalam video tersebut STC juga menyatakan konstitusi yang dirancang akan berlaku dalam dua tahun setelah sebuah referendum yang akan menentukan masa depan masyarakat Yaman Selatan diselenggarakan. Dalam periode tersebut, STC mendorong Yaman Utara dan Selatan untuk melakukan dialog guna membentuk sebuah mekanisme yang dapat menjamin hak fundamental dari masyarakat kawasan selatan. Dalam rancangan konstitusi yang dirilis ke media, nama negara baru yang digunakan oleh STC adalah Arabia Selatan.
Beberapa hari setelah pengumuman tersebut Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) Republik Yaman Rashad al-Alimi meminta Saudi Arabia untuk menyelenggarakan forum guna mengurangi ketegangan antara seluruh pihak yang sedang berseteru. Menanggapi hal tersebut Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Saudi Arabia merespon usulan yang diberikan oleh PLC dan STC secara positif. Saudi Arabia juga mengajak STC untuk berpartisipasi dalam sebuah forum di Riyadh untuk mendiskusikan solusi komprehensif yang dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat Yaman Selatan. Selain menyelenggarakan forum, Saudi Arabia dan milisi PLC juga melancarkan serangan terhadap posisi STC di Provinsi Hadramaout dan Al-Mahra. Akibat dari serangan tersebut STC terpaksa meninggalkan posisi mereka di kota Mukalla, Al-Qatn, dan Seiyun.
Perang Saudara Yaman telah berlangsung sejak tahun 2014 saat kelompok milisi Houthi yang didukung oleh Iran berhasil menguasai Sana’a dari pemerintahan Presiden Abddrabbuh Mansour Hadi. Perkembangan tersebut mendorong Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UAE) untuk melakukan intervensi militer dengan melancarkan serangan udara serta mengirimkan pasukan kepada pemerintahan Hadi. Akan tetapi ketegangan antara Saudi Arabia dan UAE telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir akibat dari berbagai faktor seperti ekonomi dan perbedaan pendekatan resolusi konflik. Ketegangan ini pada akhirnya mendorong Saudi Arabia untuk melancarkan serangan udara terhadap pasokan militer UAE yang disimpan di kota Mukalla.