Korea Utara kembali memicu kekhawatiran di kawasan Asia Timur setelah meluncurkan beberapa rudal balistik dari wilayahnya ke arah laut di lepas pantai timur, dalam uji coba senjata yang menjadi yang pertama kalinya pada tahun ini. Militer Korea Selatan melaporkan bahwa rudal-rudal tersebut ditembakkan pada pagi hari Minggu, 4 Januari 2026, dan mendarat di perairan Laut Timur.
Menurut Joint Chiefs of Staff (JCS) Korea Selatan, rudal-rudal itu diluncurkan sekitar pukul 07.50 waktu setempat dari dekat Pyongyang, ibu kota Korea Utara, dan masing-masing terbang kira-kira 900 kilometer sebelum jatuh di laut. Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat disebut terus menganalisis spesifikasi teknis peluncuran tersebut, sambil meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan uji coba lebih lanjut.
Peluncuran ini juga terjadi bersamaan dengan dimulainya kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China, di mana isu perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea menjadi salah satu agenda utama pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping. Analis menilaiwaktu peluncuran rudal tersebut bukan kebetulan dan bisa dianggap sebagai cara Pyongyang menunjukkan kekuatan militer di tengah dinamika diplomasi regional yang sedang berlangsung.
Menurut seorang profesor di Institut Studi Asia Timur di Seoul, Lim Eul-chul, peluncuran rudal dari ibu kota Pyongyang ke laut antara Korea dan Jepang merupakan “pesan kepada China untuk mencegah hubungan yang lebih dekat dengan Korea Selatan dan untuk melawan sikap China terhadap denuklirisasi.” Selain itu, tembakan rudal ini menambah daftar provokasi militer setelah Korea Utara dihubungkan dengan situasi geopolitik global; termasuk respons atas operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang menangkap Presiden Nicolás Maduro. Menurut para pengamat, operasi militer tersebut turut mempengaruhi keputusan Pyongyang untuk melakukan uji coba ini.
Korea Selatan dan Jepang mengecam keras tindakan Korea Utara yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mengancam stabilitas regional. Jepang menegaskan akan terus berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk menganalisis karakteristik teknis sekaligus menanggapi kemungkinan ancaman di masa depan. Sementara Korea Selatan melaporkan terdapat pertemuan darurat tingkat tinggi untuk membahas peluncuran tersebut dan menekankan pentingnya agar Korea Utara menghentikan provokasi militer yang bisa memperburuk ketegangan di kawasan.