Pada 14 Oktober 2025 pemimpin blok oposisi Parlemen Madagaskar Siteny Randrianasoloniaiko menyatakan bahwa Presiden Andry Rajoelina telah melarikan diri akibat dari protes yang melanda Negeri Pulau Merah. Siteny menambahkan bahwa Presiden Andry melarikan diri setelah beberapa unit dari militer Madagaskar membelot dengan memberikan dukungan kepada para demonstran serta menolak perintah untuk menembak massa. Dilansir dari Reuters, Presiden Andry melarikan diri dari Madagaskar menggunakan sebuah pesawat kargo dari Angkatan Udara Prancis yang mendarat di Bandara Santa Marie pada tanggal 13 Oktober. Selanjutnya sang presiden menggunakan pesawat pribadi dari perusahaan Jerman yang membawanya ke Dubai. Dalam sebuah pidato yang disiarkan melalui media sosial Facebook, Presiden Andry mengklaim bahwa dia terpaksa melarikan diri karena ada beberapa pihak yang mengancam untuk melakukan kudeta atau pembunuhan terhadap dirinya.
Menanggapi perkembangan tersebut masyarakat Madagaskar di Ibukota Antananarivo menyerukan Presiden Andry Rajoleina untuk mengundurkan diri. Seruan tersebut diberikan oleh masyarakat karena mereka menganggap sang presiden hanya memperkaya dirinya dan para elit sementara sebagian besar penduduk Madagaskar berada di bawah garis kemiskinan. Pandangan ini didukung oleh data yang diterbitkan oleh World Bank yang menunjukan produk domestik bruto (PDB) Madagaskar menurun sebesar 45% dari tahun 1960 hingga 2020. Selain mendesak Presiden Andry untuk mengundurkan diri, para demonstran juga mendesak sang presiden untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Madagaskar yang terdampak oleh kebijakannya.
Madagaskar telah menghadapi demonstrasi besar sejak 25 September 2025 yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti kekurangan air, pemadaman listrik berkala, dan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah. Demonstrasi ini memaksa Presiden Andry untuk membubarkan kabinet dan menujuk perdana menteri (PM) baru. Akan tetapi aksi ini gagal menghentikandemonstrasi dan hal tersebut diperburuk setelah prajurit dari unit elit CAPSAT membelot denganmenyatakan dukungan mereka terhadap aksi yang dilakukan para demonstran. Selain itu unit CAPSAT juga menyatakan bahwa mereka telah mengendalikan seluruh militer Madagaskar danakan menunjuk panglima baru.