Pada 14 Juli 2025 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dalam konferensi pers dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte di Kantor Oval bahwa Negeri Paman Sam akan mengirimkan persenjataan ke Ukraina. Dalam konferensi tersebut Trump menyatakan bahwa senjata yang akan dikirimkan ke Ukraina akan dibayarkan oleh negara anggota NATO dan mencakup setidaknya satu unit rudal pertahanan udara MIM-104 Patriot, rudal lainnya, dan amunisi artileri. Trump juga mengancam untuk memberlakukan tarif sebesar 100% kepada Rusia jika Presiden Vladimir Putin tidak menyepakati gencatan senjata dalam 50 hari. Selain itu Trump juga mengancam tarif sekunder kepada negara lain yang terbukti membeli minyak mentah dari Rusia. Dilansir dari Axios Ukraina akan mendapatkan paket persenjataan senilai USD 10 miliar dari AS yang akan dibayarkan oleh negara anggota NATO.
Menanggapi pernyataan tersebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan apresiasi terhadap AS, Jerman, dan Norwegia yang telah sepakat untuk mengirimkan unit rudal pertahanan udara Patriot baru ke Ukraina. Zelenskyy menambahkan bahwa Ukraina sedang melaksanakan negosiasi perjanjian kerja sama pertahanan baru dengan Amerika Serikat. Selain itu Zelenskyy juga menekankan bahwa segala bentuk aktivitas yang mendanai atau membantu upaya invasi Rusia harus segera dihentikan. Sementara itu Sekjen NATO Mark Rutte menyatakan bahwa hal ini merupakan perkembangan signifikan dan beberapa negara anggota seperti Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Kanada ingin berpartisipasi dalam upaya tersebut. Rutte menambahkan bahwa perjanjian ini akan mempercepat pengiriman senjata yang dibutuhkan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU).
Pernyataan yang diberikan oleh Donald Trump merupakan sebuah kejutan karena sebelumnya sang presiden berusaha mengurangi bantuan militer ke Ukraina untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik. Bahkan minggu sebelumnya Pentagon sempat menangguhkan bantuan militer ke Ukraina karena terdapat kekhawatiran cadangan rudal pertahanan udara AS semakin menipis. Akan tetapi Donald Trump semakin geram terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin karena sang presiden Negeri Beruang tidak menunjukan keinginan untuk melakukan negosiasi perdamaian atau gencatan senjata.